46

1.1K 219 10
                                        

Jennie masih duduk di sisi ranjang, tangannya menggenggam tangan Jisoo yang kini terasa hangat. Napas Jisoo terdengar lebih teratur, tanda bahwa demamnya perlahan mereda.

Jennie menatap wajah pria itu, yang kini kembali terlelap setelah makan tadi. Rambutnya yang sedikit basah karena keringat menempel di dahi, dan Jennie dengan lembut menyisirnya dengan jari-jarinya. Pikirannya masih kacau dan lega karena Jisoo tampak membaik.

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. "Semua akan baik-baik saja," gumamnya, meski suaranya sendiri terdengar ragu. Ia melirik ke arah lemari tempat ia menyembunyikan botol obat bening itu.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka pelan. Rosé mengintip. "Unnie, aku membuat teh jahe. Mau tidak?" bisiknya, berusaha tak mengganggu Jisoo yang sedang tidur.

Jennie mengangguk, lalu bangkit perlahan agar tak membangunkan Jisoo. Ia mengikuti Rosé ke ruang tamu, di mana Lisa sedang duduk di sofa, memainkan ponselnya.

"Lisa, berhenti main ponsel," tegur Rosé sambil menyerahkan cangkir teh hangat ke tangan Jennie. "Kita lagi serius di sini."

Lisa mendengus, tapi memasukkan ponselnya ke saku. "Aku hanya mengecek jadwal, Chaeng. Orang-orang lagi heboh soal konser BLACKPINK. Kalian lupa, ya?"

Jennie tersentak, hampir menumpahkan teh di tangannya. "Astaga... konser," gumamnya, wajahnya tiba-tiba pucat lagi. Dengan semua yang terjadi—Jisoo sakit, mualnya sendiri—ia benar-benar lupa bahwa jadwal tur dunia mereka sudah semakin dekat.

Rosé menatapnya dengan prihatin. "Unnie, kalian berdua harus fit sebelum konser. Kalau Jisoo oppa belum sembuh, atau unnie masih mual begitu, kita harus bilang ke manajer."

"Jangan!" Jennie buru-buru memotong, suaranya sedikit lebih keras dari yang ia maksud. Ia menunduk, menatap cangkir teh di tangannya. "Maksudku... aku baik-baik saja. Dan Jisoo pasti sembuh sebelum itu. Aku janji akan jaga dia."

Lisa memandang Jennie dengan alis terangkat. "Unnie, kamu bilang 'baik-baik saja' tadi pagi, tapi tadi muntah di dapur."

Jennie tersenyum tipis sementara Rosé terkekeh. "Unnie, serius. Kalau besok kamu masih mual, kita ke dokter."

Jennie mengangguk, tapi pikirannya kembali melayang ke pertanyaan Rosé tadi siang. Kapan terakhir aku haid? Ia mencoba menghitung di kepalanya, tapi kepalanya terasa penuh, seperti ada sesuatu yang menghalangi ingatannya. Sebulan? Enam minggu? Ia tidak yakin. Dengan semua kekacauan di hidupnya akhir-akhir ini, jadwal latihan, promosi, dan sekarang Jisoo sakit. Ia benar-benar kehilangan jejak dengan jadwal datang bulannya.

"Unnie?" panggil Rosé, menyadari Jennie kembali termenung.

Jennie tersentak, lalu memaksakan senyum. "Aku baik-baik saja, Chaeng. Cuma... lelah."

Lisa mendengus lagi. "Lelah, katanya. Kalau lelah bikin orang muntah, aku pasti sudah muntah tiap hari Unnie."

Rosé memukul lengan Lisa pelan. "Lisa, sudah. Jangan bikin Jennie unnie tambah stres."

Jennie tersenyum kecil, menghargai usaha keduanya untuk membuatnya merasa lebih baik. Ia menyeruput teh jahenya, merasakan kehangatan di tenggorokannya. "Gomawo, kalian. Aku tahu kalian cuma khawatir. Aku janji, kalau besok aku masih gak enak badan, aku akan ke dokter."

Lisa mengangguk, akhirnya tampak puas.

Tapi di dalam hati Jennie. Ia tahu ia tidak bisa terus menghindari kenyataan. Ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya, dan ia harus mencari tahu apa itu—tapi tidak sekarang. Tidak ketika Jisoo masih terbaring lemah di kamar.

Setelah menghabiskan teh, Jennie kembali ke kamar. Jisoo masih tertidur, napasnya sekarang lebih stabil. Jennie duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan pria itu lagi. Ia memandang wajah Jisoo, mencoba mencari ketenangan dalam garis-garis wajah tampan yang begitu ia kenal.

Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang