Penampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula?
silahkan dibaca~
#slowupdate
Jennie berdiri di kamar mandi, tangannya gemetar memegang kotak tes kehamilan yang kini terbuka di wastafel. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang kian kencang.
"Aku bisa melakukan ini," bisik Jennie pada dirinya sendiri. Dengan tangan yang bergetar, ia mengikuti petunjuk di kotak, lalu menunggu. Waktu terasa melambat. Setiap detik terasa seperti menit, setiap menit seperti jam. Ia bersandar pada dinding kamar mandi sambil menutup mata, mencoba mengusir bayang-bayang yang terus menyelinap ke pikirannya.
Bagaimana jika hasilnya positif? Bagaimana ia akan menghadapi semua ini... karier, konser, publik, dan Jisoo? Jika ia benar-benar hamil... mungkin, hanya mungkin, ini bisa menjadi alasan bagi Jisoo untuk tidak pernah menyentuh obat penawar itu. Untuk tetap berada di sisinya, sebagai dirinya yang sekarang, bukan versi lain yang tak mengenalnya.
Tiga menit berlalu. Jennie membuka mata perlahan, menatap alat tes yang kini tergeletak di wastafel. Dua garis. Jelas, tak salah lagi.
Ia hamil.
Jennie menutup mulutnya dengan tangan, air mata langsung mengalir dengan sendirinya. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena kaget, tapi karena bercampur aduk—takut, bahagia, cemas, dan lega, semuanya sekaligus. Ia merosot ke lantai, bersandar pada dinding.
"Chu..." bisiknya, suaranya tercekat. Ia membayangkan Jisoo, pria yang kini tertidur di kamar sebelah, pria yang ia cintai dengan seluruh hatinya. Jika Jisoo tahu ada bagian dari mereka berdua yang kini tumbuh dalam dirinya, mungkin pria itu tak akan pernah berpikir untuk menghapus ingatannya.
Jennie mengusap air matanya, mencoba menenangkan napasnya. Ia bangkit perlahan, memandang wajahnya di cermin. Matanya merah.
Ia menyimpan alat tes itu dengan hati-hati di laci wastafel, memastikan tersembunyi baik-baik. Ia belum siap memberitahu Jisoo, belum siap menghadapi percakapan itu.
•
•
•
Keesokan paginya, Jennie terbangun dan Jisoo sudah duduk di ranjang, memandang ke arah jendela. Ia tampak jauh lebih sehat.
"Pagi, Jendeuk," sapa Jisoo, suaranya kini lebih kuat, dihiasi senyum kecil yang selalu membuat jantung Jennie berdebar.
"Pagi, Chu," balas Jennie, berusaha membuat suaranya terdengar normal. Ia duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Jisoo. "Kamu kelihatan jauh lebih baik."
Jisoo mengangguk, lalu memandang Jennie dengan hati-hati. "Kamu yang kelihatan agak pucat. Kurang tidur lagi?"
Jennie tersenyum kecil, menggeleng. "Aku baik-baik saja. Hanya... banyak pikiran."
Jisoo mengernyit, tangannya meremas tangan Jennie dengan lembut. "Memikirkan apa?"
Jennie menahan napas, hatinya bimbang. Ia ingin menceritakan semuanya—tentang tes kehamilan, tentang dua garis itu, tentang harapan dan ketakutannya. Tapi kata-kata itu terasa tersangkut di tenggorokannya. Belum waktunya, pikirnya. Tidak ketika Jisoo baru saja pulih.
Jisoo tersenyum, seolah lega. "Jendeuk, kita BLACKPINK. Kita selalu siap... ya walaupun aku sedang hiatus dan sudah pasti tidak akan ikut konser bersama kalian seperti saat aku terkena covid, tetapi aku akan tetap mendukung kalian semua."
Jennie memaksakan senyum, mencium pipi Jisoo dengan cepat.
Jennie tertawa. Tapi di dalam hatinya, ia tahu ia harus segera mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Jisoo. Dan mungkin, juga dengan Rosé dan Lisa. Mereka adalah keluarganya dan mereka berhak tahu.
•
•
•
Sore itu, Jennie tiba di studio latihan, diikuti oleh Rosé dan Lisa. Musik menggema di ruangan luas itu. Jennie berusaha fokus, tapi pikirannya terus kembali ke rahasia yang ia simpan.
Saat istirahat, Rosé mendekati Jennie, membawa botol air. "Unnie, kamu baik-baik saja? Kelihatan agak... melamun."
Jennie mengangguk cepat, mengambil botol air itu. "Aku baik-baik saja, Chaeng. Hanya sedikit capek."
Rosé menatapnya dengan curiga, tapi tak memaksa. "Kalau ada apa-apa, bilang padaku, oke? Aku serius."
Jennie tersenyum, meremas lengan Rosé dengan lembut. "Gomawo, Chaeng. Aku janji."
Malam itu, setelah latihan selesai, Jennie kembali ke rumah. Jennie merasa tubuhnya lelah. Ia tidak bisa terus menyimpan rahasia ini. Jisoo berhak tahu, dan ia harus memberitahunya sebelum ketakutannya mengambil alih. Entahlah, pikirannya sangat stres akhir-akhir ini, yang jelas itu tidak baik untuk bayinya.
Setelah makan malam, Jennie duduk di sofa, menatap Jisoo yang sedang mencuci piring di dapur. Pria itu bersenandung pelan bahkan terkadang bersiul menggoda, walaupun terkadang suaranya gagal keluar, sesekali melirik ke arah Jennie dengan senyum.
"Chu," panggil Jennie, suaranya pelan.
Jisoo menoleh, mengeringkan tangannya dengan handuk. "Hm? Ada apa sayang?"
Jennie menarik napas dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang kembali berdegup kencang. "Aku... ada yang harus aku ceritakan."
Jisoo berjalan mendekat, duduk di sampingnya, matanya perhatian tapi juga penasaran. "Ceritain apa, hm?"
Jennie menunduk, jemarinya bermain dengan ujung hoodie yang ia kenakan—hoodie milik Jisoo, seperti biasa. "Aku... aku hamil, Chu."
Hening. Jisoo membeku, matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka. Jennie tidak berani menatapnya, takut melihat reaksi yang mungkin ia sesali. Tapi kemudian, ia merasakan tangan Jisoo menggenggam tangannya, erat tapi lembut.
"Jendeuk..." suara Jisoo serak, "Beneran?"
Jennie mengangguk pelan, akhirnya memberanikan diri menatap mata Jisoo. Di sana, ia melihat campuran kaget, bahagia, dan sedikit ketakutan, sama seperti yang ia rasakan.
Jisoo menarik Jennie ke pelukannya, memeluknya erat seolah tak ingin melepaskan. "Aku... aku gak tahu harus bilang apa," gumamnya, suaranya bergetar. "Tapi... aku bahagia. Sangat bahagia."
Jennie menangis lagi, air matanya membasahi bahu Jisoo. "Aku takut, Chu. Tapi... aku juga bahagia. Karena ini artinya... kamu gak akan pergi. Kamu gak akan minum obat itu, kan?"
Jisoo menarik diri, memandang Jennie. "Jendeuk, dengar aku. Aku gak akan pernah minum obat itu. Sekarang, dengan ini..." Ia meletakkan tangan di perut Jennie, lembut dan hati-hati. "Aku punya alasan lebih besar untuk tetap di sini. Untuk kamu. Untuk kita. Untuk... anak kita."
Jennie tersenyum di tengah air mata, mencium Jisoo dengan penuh sayang. "Aku cinta kamu, Chu. Selalu."
Jisoo membalas ciuman itu, lalu memeluk Jennie lagi, kali ini lebih erat. "Aku juga cinta kamu, Jendeuk. Dan aku janji, kita akan hadapi ini bersama."
Walaupun terlambat, selamat atas kehamilannya Kim Jennie😘🥰
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.