Setelah pintu tertutup, suasana rumah mendadak terasa hening. Jennie berjalan ke ruang tengah, bersiap untuk duduk di sofa, tetapi Jisoo dengan cepat mengejutkannya dengan menarik tangannya.
"Waeyo?" tanya Jennie, menatapnya curiga.
"Kita sendirian, Jendeuk. Ini waktu yang sempurna untuk menikmati pagi ini dengan santai, tanpa gangguan dua gadis ribut itu." Senyum Jisoo memancarkan rasa iseng, namun matanya lembut menatap Jennie.
Jennie mendengus sambil pura-pura melipat tangan di dada. "Lalu apa rencanamu, Kim? Jangan bilang kau ingin bermain game lagi seharian."
Jisoo tertawa kecil. "Tidak, kali ini tidak. Aku ingin bersantai denganmu saja. Bagaimana kalau kita menonton sesuatu sambil bersantai di sofa?"
Jennie mengangkat alis. "Itu kedengarannya terlalu manis untukmu, Oppa. Apa kau yakin tidak ada maksud tersembunyi?"
"Tentu saja tidak," jawab Jisoo sambil tertawa, menarik Jennie menuju sofa. "Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Apa salahnya?"
Mereka akhirnya memilih film ringan untuk ditonton. Jisoo duduk dengan santai, sementara Jennie, yang awalnya mencoba menjaga jarak, akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu Jisoo. Lelaki itu merangkulnya tanpa ragu, membuat Jennie merasa nyaman dalam pelukannya.
"Chu, kau tahu tidak," ujar Jennie tiba-tiba. "Kalau kita begini terus, orang-orang bisa salah paham. Kau terlihat seperti seseorang untukku."
Jisoo terkekeh, nada suaranya menggoda. "Dan apakah itu buruk?"
Jennie menggigit bibirnya, merasa pipinya memerah. "Tidak buruk... hanya saja aku tidak terbiasa."
"Kalau begitu, biasakan saja," balas Jisoo santai sambil mengusap lembut rambut Jennie. "Karena aku sudah terbiasa memanjakanmu seperti ini."
Jennie tidak menjawab, hanya tersenyum kecil dan memejamkan matanya sejenak. Namun, beberapa menit kemudian, ia teringat sesuatu dan mendongak menatap Jisoo.
"Chu, kau bilang kita sendirian. Jadi, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan hari ini?"
Jisoo tersenyum. "Bagaimana kalau aku masak lagi, tapi kali ini sesuatu yang lebih spesial? Kau bisa bantu aku di dapur."
Jennie menatapnya dengan tatapan skeptis. "Bantu? itu hanya alasan supaya aku terus bersamamu kan?"
"Ya, tentu saja," jawab Jisoo tanpa ragu, membuat Jennie tertawa kecil.
"Baiklah, aku akan membantumu, Oppa. Tapi kalau hasil masakanmu tidak sesuai ekspektasi, kau harus mentraktirku makan di luar nanti."
"Deal," jawab Jisoo, bangkit sambil mengulurkan tangan pada Jennie. "Ayo, Chef Jennie, kita ke dapur."
Jennie menyambut tangan Jisoo dan mereka berjalan ke dapur bersama, sikap Jisoo yang lebih manis dan perhatian membuat hatinya senang.
*
*
*
Di dapur, Jisoo dan Jennie sibuk mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat mandu. Jisoo menggulung lengan bajunya, memperlihatkan otot-otot lengannya, sementara Jennie mengikat rambutnya.
"Kau yakin bisa membuat mandu, Oppa? Terakhir kali kita membuat rasanya masih seperti tepung." Jennie bertanya sambil mengangkat alis, menggoda. "Jangan sampai isinya malah berantakan."
Jisoo menyeringai, mengambil selembar kulit mandu dan mulai mengisi adonannya. "Aku lebih pandai memasak daripada yang kau kira, Jendeuk. Kau akan lihat hasilnya nanti."
Jennie mencibir pelan, tetapi diam-diam menikmati melihat Jisoo begitu fokus. Pundak lebar dan ekspresi seriusnya membuat Jennie sulit berpaling. Namun, Jennie dengan cepat mengalihkan perhatian kembali pada tugasnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!
FantasíaPenampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula? silahkan dibaca~ #slowupdate
