Jennie menghela napas, matanya masih terpaku pada wajah Jisoo yang tertidur nyenyak di sampingnya. Napas pria itu teratur, dadanya naik turun dengan begitu tenang. Wajahnya tampak begitu damai, berbeda dengan sosoknya saat sedang menggoda atau menyebalkan.
Tatapan Jennie turun ke garis rahang tegas yang selalu membuatnya terpesona. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangan, ujung jarinya menyusuri wajah Jisoo dengan sangat hati-hati. Ia tersenyum kecil saat merasakan kehangatan kulit kekasihnya di bawah sentuhannya. Bahkan sedang tertidur saja Jisoo sangat seksi. Apalagi pria itu sekarang bertelanjang dada.
"Kenapa kau bisa tidur begitu nyenyak sementara aku di sini masih terjaga, Chu?" gumamnya pelan, hampir seperti bisikan.
Jisoo tetap diam, tetap terlelap dalam tidurnya.
Jennie menatap bibir pria itu yang sedikit terbuka, lalu tanpa sadar mendekatkan wajahnya. Godaan untuk menciumnya tapi ia menahan diri. Ia malah menyandarkan kepalanya di lengan berotot Jisoo, membiarkan kehangatan pria itu mengelilinginya. Biarin saja nanti saat bangun lengan pria itu kebas alias mati rasa.
Senyum tipis terukir di bibirnya. Ia mencintai manusia ini. Bersama Jisoo seperti ini, terasa begitu menyenangkan.
Jennie menutup matanya perlahan, membiarkan tubuhnya semakin tenggelam dalam dekapan Jisoo. Dengan perasaan bahagia, ia akhirnya ikut terlelap.
•
•
•
Jennie mengerang pelan, matanya masih enggan terbuka saat merasakan sesuatu yang menggelitik kulitnya. Awalnya, Jennie mengabaikannya, mengira itu hanya angin atau gerakan kecil dalam tidurnya. Tapi saat bibir hangat itu kembali menyentuh pipinya, lalu turun ke bibirnya, ia sadar sepenuhnya.
Matanya mengerjap, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Jisoo yang begitu dekat, dengan senyum jailnya.
"Kau menyebalkan, Chu" gumam Jennie dengan suara serak karena baru bangun tidur.
Jisoo terkekeh, tetapi bukannya berhenti, ia malah mengecup punggung tangan Jennie dengan lembut, lalu kembali ke bibirnya, mencuri satu kecupan singkat yang membuat Jennie memanyunkan bibirnya kesal.
"Aku hanya membangunkan kekasihku yang cantik," ujarnya santai, suaranya rendah dan terdengar begitu manis di telinga Jennie.
Jennie menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya yang merona. "Berhenti, aku masih mengantuk," katanya, meskipun senyum kecil tak bisa ia tahan.
Namun, Jisoo tidak menyerah. Ia menarik selimut itu dengan mudah, menatap Jennie yang kini meringkuk seperti anak kucing malas. Dengan lembut, ia menangkup wajah Jennie dan mengecup keningnya lama.
"Bangun, kita sarapan," bisiknya lembut.
Jennie membuka matanya sedikit, lalu mendesah pelan. "Lima menit lagi..."
Jisoo tersenyum, lalu tanpa peringatan, ia mencium bibir Jennie sekali lagi—kali ini lebih lama.
"Kalau begitu, aku akan membangunkanmu seperti ini setiap lima menit sekali," godanya.
Jennie membuka matanya lebar dan menatap Jisoo tajam. "Dasar licik!"
Jisoo tertawa puas, lalu kembali menempelkan keningnya pada Jennie. "Benarkah?"
"Ck, kau semalam tidur dengan nyenyak, Chu. Aku bahkan baru tertidur beberapa jam saja." Jennie mendorong tubuh Jisoo agar menjauh dan tidak mengganggunya.
•
•
•
Jennie duduk di meja makan dengan ekspresi setenang mungkin, meskipun dalam hatinya ia merasa sedikit canggung. Jisoo di sebelahnya terlihat santai seperti biasa, bahkan dengan senyum kecil di wajahnya seakan tidak terjadi apa-apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!
FantasyPenampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula? silahkan dibaca~ #slowupdate
