Penampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula?
silahkan dibaca~
#slowupdate
Namun, di tengah keheningan yang hanya diisi oleh napas mereka yang mulai memburu, Jennie perlahan menarik diri. Matanya terbuka, menatap Jisoo dengan perasaan campur aduk—antara kebingungan, keterkejutan, dan sesuatu yang bahkan sulit dia ungkapkan.
"Jisoo..." Jennie berbisik, hampir seperti gumaman, suaranya penuh keraguan. "Apa yang sebenarnya kita lakukan?"
Jisoo menatapnya, matanya dipenuhi oleh emosi yang tak dapat ia sembunyikan. "Aku... Aku tidak bisa menahannya, Jennie. Aku tahu ini tiba-tiba, tapi aku..." Ia berhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat. Menghela napasnya mencoba untuk tetap tenang. "Aku tidak bisa berpura-pura lagi. Aku menyukaimu. Lebih dari apapun."
Ucapan Jisoo menggantung di udara, membuat Jennie merasa seperti dunia berhenti berputar. Ia tahu ada sesuatu yang istimewa antara mereka, tapi mendengar pengakuan itu membuat segalanya terasa lebih nyata, dan pastinya lebih rumit.
Jennie menelan ludah, mencoba mencari respons yang tepat, tapi hatinya terasa sangat berdebar. "Jisoo, aku..." Ia menghela napas, lalu menatap Jisoo lagi. "Aku juga... sangat menyukaimu, Kim. Kau tahu itu."
Jisoo mengangguk perlahan, mendekatkan wajahnya untuk kembali mencium bibir Jennie. Jennie tersenyum kecil di sela-sela lumatan lembut Jisoo, tetapi ia perlahan menarik diri, napas mereka masih memburu. Ia menatap mata Jisoo yang penuh dengan perasaan mendalam, seperti ingin memastikan sesuatu.
"Chu," Jennie berbisik pelan, tangannya masih melingkar di leher Jisoo. Mata kucingnya tampak khawatir. "Apa kau yakin... tentang ini? Tentang kita?"
Jisoo mengangguk mantap, jari-jarinya dengan lembut menyelipkan helaian rambut yang jatuh di wajah Jennie. "Aku sangat yakin, Jennie. Ini bukan sesuatu yang bisa aku abaikan lagi. Aku menyukaimu... aku mencintaimu. Dan aku ingin kau tahu itu."
Kata-kata Jisoo menggema di benak Jennie. Rasanya seperti waktu berhenti, hanya ada mereka berdua di dunia ini. Perlahan, Jennie meletakkan tangannya di dada Jisoo, merasakan detak jantungnya yang berpacu.
"Aku juga mencintaimu, Jisoo," Jennie akhirnya mengaku untuk yang kesekian kalinya, suaranya lirih. "Aku takut. Tapi aku ingin mencoba. Bersamamu."
Mata Jisoo bersinar mendengar jawaban itu. Bibir hatinya tersenyum. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menarik Jennie kembali ke pelukannya, mencium keningnya dengan lembut.
"Kenapa... berhenti?" Jennie bertanya seraya mengusap dada bidang pria di atasnya. Mata sayu itu terpejam menikmati sentuhan lembut yang Jennie berikan. "Kamu takut?"
Jisoo tersenyum kecil, meskipun ada keraguan yang tersirat di matanya. "Aku bukan takut," jawabnya pelan, "tapi aku ingin semuanya sempurna. Aku ingin kita menikmati setiap momen ini."
Jennie bisa merasakan ketulusan dalam suaranya, dan meskipun ada kekhawatiran yang berputar di dalam dirinya, ia merasakan rasa tenang yang muncul saat berada di dekat Jisoo. Rasanya seolah semua kebingungan yang pernah ia rasakan, semua pertanyaan yang menggantung, mulai menemukan jawabannya. Mereka tidak perlu terburu-buru.
"Tak perlu sempurna," Jennie berbisik, matanya menatap dalam ke mata Jisoo. "Kita hanya perlu jujur. Dan... kita bisa berjalan bersama, apa pun yang terjadi."
Jisoo menatapnya lama, seolah berusaha membaca hatinya. Lalu, dia mengangguk dengan penuh keyakinan, matanya berbinar. "Kita akan bersama, Jennie. Tidak ada yang akan mengubah itu."
Perlahan, Jisoo merengkuh Jennie dalam pelukannya lagi, tangannya masuk kedalam piyama tidur Jennie, meraba tali bra wanita dibawahnya, lalu melepas kaitan dengan gerakan pelan.
Jisoo sedikit menjauh, menaruh bra bertulis CK itu di lantai samping kasur. Jennie melihat Jisoo yang memejamkan matanya seraya mengatur napas.
"Wae...?" Tanyanya khawatir.
Jisoo menggeleng, wajah dan telinganya merah jelas menahan nafsunya. Perlahan, Jisoo menarik diri sedikit, menjaga jarak di antara mereka. Ia menatap Jennie, mencoba mengendalikan diri, meskipun perasaan di dalam dadanya semakin membara. "Jennie..." suaranya terdengar lebih dalam, seperti ada berat yang menahan.
Jennie merasakan ketegangan itu, dan meskipun hatinya berdebar kencang, ia mencoba tetap tenang. "Jisoo, jangan khawatir... aku di sini," ia berbisik pelan, menyentuh tangan Jisoo yang berada di samping tubuhnya.
Jisoo menarik napas dalam-dalam, menatap mata Jennie yang penuh pengertian. "Aku hanya ingin semuanya berjalan dengan alami, Jennie. Aku tak ingin terburu-buru, tak ingin melakukan sesuatu yang kita nanti-nantikan dengan tergesa-gesa."
Jisoo menelan ludah, masih ragu. "Aku tidak ingin membuat kesalahan. Aku ingin semua ini terasa benar. Aku ingin menjaga dirimu, bukan membuatmu menyesal."
Jennie menyentuh tangan Jisoo yang masih menggenggam seprai, lalu melingkarkan jari-jarinya di sana, memberikan kehangatan. "Kau tidak membuatku menyesal," katanya, suaranya penuh ketulusan. "Kau membuatku merasa aman. Dan aku tahu... apa yang aku inginkan. Aku ingin ini, Jisoo. Aku ingin kau. Malam ini dan seterusnya."
Jisoo menatap Jennie, mencoba mencari tanda-tanda keraguan di matanya, tapi yang ia temukan hanyalah keyakinan. Jennie tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, sambil mengusap pipi Jisoo dengan lembut.
•
•
•
"Mmhhh~ joaa..."
"Aahh fuck~ yah Kim Jisoo mmhh..."
"Jennie-ahh... Ohhh~" dengan posisi memegang paha Jennie yang melingkar di pinggangnya, ia terus menghentak miliknya yang berada di dalam lubang sempit nan hangat itu.
Semua keraguannya sirna digantikan oleh kepercayaan. Cinta yang mengalahkan segalanya.
Sepasang kekasih itu bergulat dengan panas di atas ranjang. Namun, bukan hanya hasrat yang mereka rasakan. Ada sesuatu yang lebih dalam—sebuah keintiman yang tidak hanya berbicara tentang tubuh, tetapi juga jiwa. Di tengah napas yang memburu dan sentuhan yang menghangatkan, mereka merasakan dunia seolah berhenti.
"Aku takut kehilangan mu, Chu" bisik Jennie di sela-sela kegiatan mereka. Matanya berkaca-kaca, menyiratkan perasaan yang lebih dalam daripada sekadar gairah.
Jisoo membelai rambutnya dengan lembut, mengusap air mata gadisnya, mencoba menenangkan. "Kamu tidak akan kehilangan aku, Jendeuk. Kita akan melewati semua ini bersama," jawabnya penuh keyakinan, semakin mempercepat gerakan pinggulnya membuat Jennie menggeliat. Bibir gadis itu terbuka, mengeluarkan desahan merdu yang membuat nafsu Jisoo semakin membara.
Malam itu tidak hanya menjadi malam cinta bagi Jennie maupun Jisoo, tetapi juga malam di mana mereka membangun janji untuk tetap bersama, apa pun yang terjadi di luar sana.
Akhirnya ya🥰 akhirnya Chichi update maksudnya🤭
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.