Mereka kembali ke hotel mewah tempat mereka menginap, kamar luas dengan dinding kaca menghadap langsung ke menara yang kini masih bersinar keemasan.
Begitu masuk kamar, Jennie langsung melepas heels-nya dan menjatuhkan diri ke atas kasur empuk dengan desahan lega. "Kaki aku kayak udah protes dari tadi sore, Chu" katanya sambil mengangkat kedua kakinya ke udara.
Jisoo meletakkan jaket dan ponsel di meja, lalu berjalan mendekat. Dia menatap Jennie dengan senyum penuh rasa sayang. Ia ikut duduk di tepi kasur, lalu menggenggam tangan Jennie.
"Kamu tahu," katanya lembut, "aku udah bayangin momen tadi selama berminggu-minggu. Tapi kenyataannya... jauh lebih indah."
Jennie menoleh, matanya masih basah. "Karena kamu bikin semuanya terasa nyata."
Mereka terdiam sejenak. Eiffel berdiri kokoh di kejauhan, cahaya emasnya memantul di jendela kamar mereka, menciptakan siluet lembut pada wajah Jennie dan Jisoo.
"Besok kita kemana?" tanya Jennie tiba-tiba, matanya menatap langit-langit.
Jisoo tersenyum, lalu berbaring di sampingnya. "Terserah kamu, calon istri favoritku. Mau sarapan di Montmartre, atau naik balon udara ke Versailles?"
"Calon istri?" Jennie mengernyit, tertawa. "Lagian Versailles naik balon udara tuh film Disney, Chu."
"Aku bisa jadi pangeran kamu kalau kamu mau," bisik Jisoo pelan, membisikkan kata-kata itu tepat di telinganya.
Jennie menggeliat geli, memukul dada Jisoo. "Gombal!"
Tapi detik berikutnya, dia sudah berbalik memeluk tubuh Jisoo erat-erat, menyembunyikan wajahnya di leher pria itu. "Tapi aku suka. Aku suka banget."
Jisoo menarik selimut menutupi mereka berdua, dan membisikkan satu kalimat lagi, nyaris tak terdengar, tapi cukup jelas untuk membuat jantung Jennie berdetak sedikit lebih cepat.
🔞🔞
"Mandi bareng, yuk."
Jennie langsung menegakkan tubuhnya, menatap Jisoo dengan ekspresi campur aduk antara kaget, geli, dan malu. "Chu!" serunya, memukul bahu Jisoo pelan, pipinya memerah. "Kamu tuh, ya... romantisnya udah bagus, kenapa ujungnya begini?!"
Jisoo tertawa lepas, lalu mengangkat kedua tangan seolah menyerah. "Apa? Aku cuma ngajak mandi, siapa tahu kamu kedinginan, dan kita bisa berendam dengan air hangat."
Jennie mendengus kecil, masih berusaha menahan senyum. "Ngajak mandi kok sambil bisik-bisik di bawah selimut... curigaaa."
"Tapi kamu nggak bilang 'nggak', kan?" Jisoo menatapnya nakal, ujung matanya terangkat seperti sedang menantang.
Jennie hanya menjawab dengan lirikan tajam, lalu turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Di tengah jalan, dia menoleh sambil berkata dengan nada datar, "Bawa handuk dua ya, Pangeran Versailles."
Jisoo terpaku sejenak, senyum lebarnya makin menjadi. "Siap, Nyonya Kim."
Jisoo masuk ke kamar mandi dengan dua handuk di tangannya, masih dengan senyum jahil yang belum juga luntur dari wajahnya. Uap hangat mulai memenuhi ruangan, dan aroma sabun serta lavender dari fasilitas hotel mahal itu langsung menyambutnya.
Jennie berdiri di depan cermin, rambutnya diikat tinggi, tubuhnya sudah dibalut handuk yang melingkar rapi di dada. Saat melihat Jisoo lewat pantulan cermin, ia melirik cepat.
"Good, kamu ngerti kode," katanya tenang, lalu berbalik, menahan tawa melihat ekspresi Jisoo yang jelas-jelas mencoba bersikap cool padahal kupingnya sudah merah.
Jisoo meletakkan satu handuk di gantungan, dan satu lagi ia taruh dekat bathtub. "Aku tuh selalu ngerti kode kamu, walau kamu sering pura-pura nyebelin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!
FantasyPenampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula? silahkan dibaca~ #slowupdate
