Kembali ke kamar, Jennie melangkah pelan. Ia menutup pintu dengan hati-hati, tak ingin mengganggu Jisoo yang masih terlelap. Cahaya matahari pagi ini lebih terang, menyelinap melalui celah gorden dan menerangi wajah pucat Jisoo. Jennie duduk kembali di sisi ranjang, menggenggam tangan pria itu yang kini terasa sedikit lebih dingin dibandingkan tadi malam.
Ia menatap wajah Jisoo, mencoba mencari tanda-tanda bahwa pria itu benar-benar akan pulih. Namun, pikirannya terus kembali ke botol obat bening yang kini disembunyikannya di lemari. Rasa takut masih menggerogoti hatinya, bukan hanya soal kondisi Jisoo saat ini, tapi juga kemungkinan bahwa pria itu mungkin akan memilih untuk minum obat itu suatu hari nanti. Obat yang bisa menghapus semua kenangan mereka bersama.
Jennie mengusap wajahnya, mencoba menyingkirkan rasa lelah dan mual yang masih mengganggu. "Aku harus kuat. Ya, kamu harus kuat Jennie." gumamnya pelan, lebih untuk meyakinkan diri sendiri. Ia menarik napas dalam, lalu mengganti kompres di dahi Jisoo dengan yang baru, memastikan kain itu cukup dingin.
Tiba-tiba, Jisoo menggeliat pelan. Matanya terbuka sedikit, dan pandangannya langsung tertuju pada Jennie. "Jendeuk..." suaranya serak.
Jennie tersenyum kecil, meski hatinya masih berat. "Hey, masih pusing?" Ia menyentuh dahi dan pipi Jisoo, memastikan suhunya. "Masih panas, tapi udah mendingan."
Jisoo mencoba tersenyum, tapi wajahnya meringis sedikit. "Aku... bikin kamu khawatir, ya?"
Jennie menggeleng cepat, meski matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Bukan salahmu, Chu. Tapi lain kali, bilang kalau kamu mau minum apa-apa, oke? Aku... aku gak mau kehilangan kamu."
Jisoo menatapnya dalam, matanya yang lelah mencerminkan perasaan bersalah. "Aku cuma... gak mau kamu lihat aku lemah jalannya gara-gara pegal," candanya pelan, mencoba mencairkan suasana.
Jennie tertawa kecil, tapi tawanya cepat memudar. "Jangan bercanda begitu. Aku serius." Ia menunduk, jemarinya bermain dengan ujung selimut. "Aku takut, Chu. Takut banget."
Jisoo mengulurkan tangan, menyentuh lengan Jennie dengan lemah. "Aku tahu... aku janji, aku gak akan minum apa-apa lagi tanpa bilang kamu."
Jennie mengangguk, tapi hatinya masih gelisah. Ia ingin percaya, tapi bayang-bayang obat itu terus menghantuinya. "Kalau kamu lupa aku..." suaranya tercekat, "aku gak tahu harus mulai dari mana."
Jisoo menarik napas panjang, mencoba duduk dengan susah payah. Jennie buru-buru membantu, menopang punggungnya dengan bantal. "Aku gak akan lupa kamu," bisik Jisoo, suaranya lebih tegas meski masih lemah. "Gak peduli apa yang terjadi, Jennie. Kamu... kamu selalu ada di sini." Ia menepuk dadanya pelan, tepat di atas jantungnya.
Jennie menatapnya, air matanya akhirnya jatuh lagi. Ia memeluk Jisoo erat, wajahnya tenggelam di bahu pria itu. "Jangan bilang begitu kalau kamu belum sembuh, bodoh," gumamnya, suaranya teredam oleh hoodie Jisoo.
Jisoo terkekeh pelan, meski suaranya serak. "Aku serius, Jendeuk. Bahkan kalau aku lupa semua, aku yakin aku akan jatuh cinta lagi sama kamu. Lagi dan lagi."
Jennie menarik diri, menatap wajah Jisoo dengan alis terangkat. "Kamu kenapa tiba-tiba romantis gini? Efek demam?"
Jisoo tersenyum tipis. "Mungkin. Atau mungkin aku cuma ingin lihat kamu tersenyum."
Jennie memukul lengan Jisoo pelan. Namun, saat ia hendak menjawab, perutnya kembali bergolak. Mual itu datang lagi, lebih kuat dari sebelumnya. Jennie buru-buru menutup mulutnya, berlari ke kamar mandi dan kembali muntah di wastafel. Tubuhnya gemetar, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Jisoo, yang masih lemas bergerak, mencoba bangkit dari ranjang. "Sayang?!" panggilnya dengan suara khawatir, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!
FantasyPenampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula? silahkan dibaca~ #slowupdate
