42

1.1K 203 9
                                        

Keesokan harinya, suasana rumah sepi seperti biasa. Jennie masih terlelap, rambutnya tergerai di bantal, napasnya teratur. Sementara itu, Jisoo sudah duduk di meja makan dengan laptop terbuka.

Situs itu masih terpampang jelas. Tulisan merah di bagian atas halaman membuat jantung Jisoo berdegup kencang.

Tersisa 4 dosis. Pemesanan dibatasi hanya untuk mantan pembeli sebelumnya.

Jisoo menarik napas dalam. Tangannya gemetar saat menggulir ke bawah, melihat kolom pemesanan. Data dirinya sudah tersimpan otomatis. Nama samaran yang dulu ia gunakan, alamat email cadangan, dan detail rekening. Ia hanya tinggal klik satu tombol.

"Jennie bilang jangan diam-diam..." gumamnya sendiri. "Tapi ini belum aku minum. Cuma beli. Cuma... jaga-jaga."

Ia menatap ke arah kamar, mendengar suara samar Jennie membalik badan di ranjang. Hatinya mencelos sejenak, tapi lalu ia menunduk lagi ke layar.

Total: Rp800.000.000, Metode pembayaran Transfer manual dalam 30 menit setelah pemesanan. Konfirmasi otomatis, pengiriman dijamin rahasia.

Jisoo mengepalkan tangan. Akhirnya, ia menekan tombol "Pesan Sekarang"

Layar berubah, menampilkan detail transfer dan timer hitung mundur. Tanpa ragu lagi, Jisoo berdiri, mengambil ponselnya, lalu masuk ke aplikasi bank. Jari-jarinya cepat.

Beberapa menit kemudian, layar situs itu menampilkan notifikasi.

Pembayaran diterima. Obat akan dikirim dalam 2x24 jam ke alamat terdaftar.

Jisoo memejamkan mata. Napasnya berat.

Saat Jennie bangun, ia mendapati Jisoo duduk di balkon, menatap langit pagi sambil memeluk lututnya sendiri. Jennie mendekat perlahan, lalu duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu kekasihnya.

"Kamu udah mikir sesuatu, ya?" bisik Jennie.

Jisoo tak langsung menjawab.

Akhirnya Jisoo berkata, "Aku udah beli obatnya. Mumpung stoknya masih ada."

Jennie tak bereaksi. Ia hanya menarik napas pelan, lalu menatap wajah Jisoo dari samping. "Kamu belum minum, kan?"

"Belum. Dan belum tentu. Aku cuma... Aku takut kehilangan semuanya. Jadi aku simpan dulu."

Jennie mengangguk perlahan. Lalu dengan nada lembut, ia berkata, "Terima kasih udah jujur."

Jisoo menatap Jennie dengan mata lembut. "Kamu marah?"

Jennie menggeleng. "Enggak. Tapi... aku sedih. Karena ini berarti kamu benar-benar ngerasa tubuh ini mungkin bukan buat kamu. Tapi aku juga ngerti. Kamu punya hak buat milih."

"Dan kamu?" tanya Jisoo. "Kalau nanti aku berubah lagi... kamu masih mau peluk aku kayak sekarang?"

Jennie menarik wajah Jisoo ke arah dirinya, lalu mengecup ujung hidungnya. "Gak peduli kamu pakai tubuh apa... asal itu kamu. Yang penting kamu gak ninggalin aku."

Sore hari di dalam kamar, Jennie dan Jisoo masih bergelung di atas kasur, selimut membungkus sebagian tubuh mereka.

Jennie tiduran menyamping, satu kakinya mengait manja di pinggang Jisoo. Tangannya menyapu pelan dada kekasihnya, wajahnya menempel di leher Jisoo sambil sesekali mencium kulitnya.

"Kumis kamu udah mulai numbuh lagi, Chu," bisik Jennie dengan nada malas.

"Hmm?" Jisoo membuka mata setengah. "Oh... ya? Gak kerasa."

Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang