29

2.9K 294 19
                                        

Keesokan harinya, sinar matahari menyelinap masuk melalui tirai jendela, membangunkan Jennie yang terbaring di samping Jisoo. Ia menatap wajah Jisoo yang tenang, merasakan ketenangan yang menyelimuti mereka berdua. Namun, saat ia berusaha bangkit dengan wajah meringis menahan sakit di bagian intimnya, ingatan tentang apa yang terjadi semalam membuatnya terdiam sejenak.

"Chu," panggilnya lembut, menyentuh pipi Jisoo dengan jari-jarinya. "Kita harus bicara."

Jisoo membuka matanya, melihat Jennie dengan tatapan bingung. "Tentang apa?" tanyanya, suaranya masih serak karena tidur.

Jennie menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan pikirannya. "Tentang kita. Tentang apa yang terjadi semalam. Aku... aku ingin memastikan."

Jisoo duduk, mengusap wajahnya dengan tangan. "Hmm, memastikan apa?"

"Apa benar kau sudah... mencintai ku?"

Jisoo menahan senyumannya, bersiap untuk tiduran lagi, "Menurutmu bagaimana Jennie?"

"Yak!" Jennie menahan selimut yang hampir tertarik oleh gerakan Jisoo, masih menutupi tubuh polosnya. "Kim, aku serius."

"Begitupun denganku, Jendeuk... aku tidak akan bercinta dengan orang yang tidak kucintai, jadi seharusnya kau tahu jawabanku."

"Jadi?"

"Apa?"

"Kita ini apa?" Jennie yang geram mencubit lengan Jisoo.

"Awh! Chagiya hentikan~"

Mata kucing itu membukat sempurna, pipinya berubah menjadi semu merah, menatap wajah lelaki itu yang tampak kesakitan karena cubitannya.

Jisoo tertawa pelan meskipun masih merasakan sakit di lengannya. "Kau tahu, Jennie, kadang kau terlalu keras."

Jennie mendengus, tapi matanya tetap lembut menatap Jisoo. "Aku tidak bercanda, Jisoo. Aku hanya ingin tahu pasti. Kita ini... lebih dari sekadar teman, kan?"

Jisoo menarik tubuh Jennie lebih dekat, mengelus rambutnya dengan lembut. "Tentu saja, Jennie. Kita lebih dari itu. Kita... kita sudah melangkah ke sesuatu yang lebih dalam."

Jennie memejamkan mata, merasa hati yang semula keruh kini mulai tenang. "Aku hanya takut, Jisoo. Takut akan apa yang akan terjadi ke depannya."

"Kenapa takut? Kita akan berjalan bersama, kan?" jawab Jisoo sambil menatap Jennie dengan mata penuh keyakinan. "Aku di sini untukmu. Tidak peduli apa yang terjadi, aku akan tetap ada."

Jennie mengangguk pelan, merasa lebih ringan. "Terima kasih, Chu. Aku tidak tahu apa yang akan datang, tapi aku siap jika kita menjalani semuanya bersama."

Jisoo tersenyum, mencium kening Jennie. "Kita akan baik-baik saja, Jendeuk. Ayo mandi, apa milikmu masih sakit?"

Dan yang Jisoo dapat adalah anggukan lucu dengan pipi Jennie yang semakin terasa panas.

Setelah beberapa menit di kamar mandi, Jennie dan Jisoo akhirnya selesai mandi. Uap panas yang memenuhi ruangan menciptakan suasana yang semakin intim meskipun mereka berdua sudah mengenakan handuk.

Jennie menatap Jisoo dari balik kaca kamar mandi yang sedikit berembun. "Aku pikir, aku bisa bantu kau mencukur," katanya dengan senang hati, melihat jenggot tipis dan kumis yang mulai tumbuh di wajah Jisoo.

Jisoo menoleh, tampak sedikit terkejut. "Mencukur?" ujarnya sambil tersenyum. "Kau yakin bisa? Aku bisa melakukannya sendiri."

Jennie mendekatkan dirinya, menyentuh lembut dagu Jisoo. "Kau harus percaya padaku, Chu. Aku bisa. Lagipula, aku suka merawatmu."

Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang