Jisoo membuka pintu dengan pelan, berusaha tidak membuat suara. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam, dan ia merasa sedikit bersalah karena pulang terlambat. Saat masuk ke ruang tengah, ia langsung melihat Jennie yang tertidur di sofa, dengan selimut kecil yang tampak dilipat rapi di sampingnya.
Jisoo menghela napas panjang sambil tersenyum kecil. "Kenapa tidur di sini, Jendeukie?" gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Ia mendekat, memperhatikan wajah Jennie yang terlihat lelah namun tetap manis.
Ia berjongkok di depan Jennie, menyentuh rambutnya dengan lembut. "Maaf, aku tak sempat balas pesanmu," katanya pelan, walau tahu Jennie tak mungkin mendengar. Ia lalu berdiri, menunduk dan menggendong tubuh mungil Jennie dengan hati-hati.
Jennie bergerak sedikit dalam tidurnya, tapi matanya tetap terpejam. Wajahnya terlihat damai di dada Jisoo. Sambil melangkah menuju kamar Jennie, Jisoo mendesah pelan. "Kau pasti menungguku, ya?" katanya lagi, merasa bersalah karena membuat Jennie khawatir.
Saat sampai di kamar, Jisoo menurunkan Jennie perlahan ke tempat tidur. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Jennie, lalu duduk di pinggir ranjang, menatap wajahnya.
"Mian, aku membuatmu khawatir dan sedih hari ini," bisik Jisoo pelan. Ia mengusap kepala Jennie sekali lagi sebelum bangkit dan berjalan keluar kamar, memastikan pintu tertutup dengan pelan.
Saat Jisoo hendak membuka pintu untuk keluar, suara lirih Jennie memanggilnya. "Kenapa kau lama sekali pulangnya?"
Langkah Jisoo terhenti, dan ia menoleh. Jennie sudah setengah bangun, matanya masih berat karena kantuk, tetapi nada suaranya terdengar jelas—ada rasa kecewa dan khawatir yang tak bisa ia sembunyikan.
Jisoo mendekat lagi ke tempat tidur, duduk di tepi kasur sambil menatap Jennie. "Maaf, Jendeukie. Aku pulang terlambat," katanya pelan. Ia mengusap punggung tangan Jennie dengan lembut. "Aku temani Bona belanja, tapi ternyata lebih lama dari yang aku kira."
Jennie mengerjapkan mata, berusaha menahan kantuknya. "Aku tungguin kamu... Tapi kamu nggak balas pesan." Suaranya terdengar sedih, dan itu langsung menusuk hati Jisoo.
"Mianhae." Jisoo menggenggam tangan Jennie dengan hangat. Menautkan jari jemari mereka. "Aku nggak sengaja, tadi ponselku ketinggalan di mobil."
Jennie terdiam sesaat, menatap Jisoo dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Aku kira... kamu lupa sama aku."
Jisoo tersenyum kecil, lalu mengusap pipi Jennie. "Aku nggak akan pernah lupa sama kamu, Jendeukie. Kamu selalu yang pertama di pikiranku."
Jennie menunduk sedikit, tersipu, tapi wajahnya masih menyimpan rasa kecewa. "Tapi kamu bikin aku khawatir," gumamnya.
"Aku janji nggak akan bikin kamu khawatir lagi," kata Jisoo tegas. "Mian... Kamu sudah nungguin aku lama."
Jennie akhirnya mengangguk pelan, kemudian bergeser sedikit, memberikan ruang di tempat tidurnya. "Kalau kamu beneran minta maaf... temani aku tidur malam ini," katanya lirih.
Jisoo tertegun sesaat, tapi akhirnya ia tersenyum lembut. "Arraseo. Kalau itu bisa bikin kamu tenang, aku akan temani."
Jisoo bangkit dari tempat tidur dan berkata dengan lembut, "Tunggu sebentar, aku mandi dulu. Badanku lengket banget setelah seharian di luar."
Jennie hanya mengangguk pelan, matanya masih berat karena kantuk, tapi ia tetap memerhatikan Jisoo yang berjalan keluar kamar.
Tak lama kemudian, suara air dari kamar mandi terdengar. Jennie menatap langit-langit kamar sambil memikirkan bagaimana Jisoo selalu terlihat perhatian meskipun sibuk. Tapi rasa kecewanya belum sepenuhnya hilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!
Viễn tưởngPenampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula? silahkan dibaca~ #slowupdate
