Malam itu, suasana di rumah mulai sepi. Lisa dan Rosé sudah masuk ke kamar mereka setelah sibuk sepanjang malam. Jennie, yang merasa lelah dengan hari itu, sudah lebih dulu berbaring di kamarnya, merenung sambil memeluk bantal. Namun, beberapa menit kemudian, pintu kamarnya diketuk pelan.
"Jendeuk, boleh aku masuk?" suara Jisoo terdengar dari balik pintu.
Jennie mendongak, sedikit terkejut. "Masuk saja, Chu," jawabnya, mencoba menutupi rasa penasarannya.
Jisoo membuka pintu dan masuk dengan langkah hati-hati. Ia mengenakan kaus oblong putih yang menonjolkan tubuh atletisnya. Wajahnya terlihat sedikit ragu, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikannya.
"Ada apa, Oppa?" tanya Jennie, menatapnya dengan bingung.
Jisoo menggaruk tengkuknya, tampak tidak biasa terlihat gugup. "Jennie, aku tahu ini agak aneh, tapi... karena sekarang aku sudah menjadi pria sepenuhnya, aku ingin bertanya... bolehkah aku tidur di sini bersamamu malam ini?"
Jennie menaikkan alis, awalnya terkejut, tetapi kemudian tersenyum kecil. "Oppa, kau benar-benar perlu izin untuk itu? Bukankah dulu kita sering tidur bersama?"
Jisoo mendesah pelan. "Itu dulu, Jennie. Saat aku masih seorang wanita. Sekarang... aku berbeda. Aku hanya ingin memastikan kamu nyaman."
Jennie menatapnya sebentar, lalu tersenyum lembut. "Aku tidak keberatan, Jisoo. Bagiku, kamu tetap orang yang sama, tidak peduli bagaimana kamu berubah."
Jisoo merasa lega mendengar jawaban itu. Ia berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. "Kalau begitu, terima kasih. Aku hanya ingin memastikan."
Jennie bergeser sedikit, memberikan ruang di tempat tidurnya. "Ayo naik. Dan jangan khawatir, aku tetap mempercayaimu."
Jisoo naik ke ranjang, berbaring di samping Jennie. Jennie, tanpa ragu, menyandarkan kepala di lengan berotot Jisoo, menjadikannya sebagai bantal. "Oppa, lenganmu sekarang jauh lebih nyaman," katanya dengan nada menggoda, sambil memeluk pinggang Jisoo.
Jisoo terkekeh pelan. "Kau terlalu manja, Jennie."
"Memangnya kenapa? Aku suka dimanja olehmu," jawab Jennie dengan nada main-main, memejamkan matanya sambil memeluk tubuh Jisoo lebih erat. "Kau tahu? Aku merasa lebih aman saat bersamamu sekarang."
Jisoo tersenyum kecil, menatap Jennie yang mulai terlihat mengantuk. Ia mengusap lembut rambut Jennie, merasa hangat dengan kedekatan mereka. "Aku senang kau merasa begitu, Jendeuk. Aku akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi."
Jennie menggumam pelan, setengah tertidur. "Oppa, aku suka kamu seperti ini... kuat, tapi tetap perhatian. Jangan berubah, ya."
*
*
*
Pagi itu, cahaya matahari yang lembut mulai masuk melalui celah tirai kamar Jennie. Suara burung yang berkicau samar-samar terdengar dari luar, menandakan pagi hari telah dimulai. Namun, Jennie, yang biasanya bangun dengan perasaan tenang, justru terbangun dengan rasa sesak di dadanya.
Matanya perlahan membuka, dan ia segera menyadari sumber masalahnya. Di atas dadanya, terbaring kepala Jisoo—lelaki itu tampaknya tanpa sadar mengubah posisi tidurnya di tengah malam. Wajah tampannya terlihat damai, rambutnya sedikit berantakan, dan napasnya yang hangat terasa di kulit Jennie.
"Chu..." gumam Jennie pelan, mencoba membangunkannya tanpa membuat suara terlalu keras.
Namun, Jisoo hanya bergeming, bahkan menggerakkan sedikit kepalanya seolah mencari posisi lebih nyaman. Jennie memutar bola matanya, setengah kesal tapi juga tidak tega untuk membangunkan Jisoo yang tampak begitu damai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!
FantasyPenampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula? silahkan dibaca~ #slowupdate
