37

1.4K 242 14
                                        

Keesokan paginya, sinar matahari menyelinap melalui celah-celah tirai, membangunkan Jennie yang masih meringkuk di sisi Jisoo. Dia menggeliat pelan, lalu memandang wajah Jisoo yang masih tertidur dengan damai. Jennie tersenyum kecil, jarinya iseng menelusuri garis rahang Jisoo sebelum akhirnya bangkit dari kasur, berusaha tidak membuat suara.

Di dapur, Lisa sudah beraksi dengan mengaduk-aduk sesuatu di wajan. Rosé duduk di meja makan, masih setengah mengantuk, dengan cangkir kopi di tangannya.

"Pagi, Unnie!" sapa Lisa cerah saat melihat Jennie masuk. "Aku bikin pancakes. Mau?"

Jennie mengangguk, mengambil segelas air dari kulkas. "Hmm. Tapi jangan gosong kayak minggu lalu."

Lisa mendengus, "Itu cuma sekali! Sekarang aku udah pro."

Rosé menguap mendengar kata "pro" dari mulut Lisa.

Tak lama, Jisoo muncul di ambang pintu, rambutnya sedikit berantakan tapi wajahnya sudah segar. Dia mengenakan kaus longgar dan celana pendek, gelang perak dengan ukiran "C" berkilau di pergelangannya.

"Pagi, Chichu!" seru Jennie, langsung mendekat dan mencium pipi Jisoo sekilas. Lisa dan Rosé saling pandang dengan ekspresi pura-pura jijik.

"Aduh, pagi-pagi udah mesra," keluh Lisa sambil membalik pancake. "Kalian nggak capek apa?"

Jisoo hanya tersenyum malas, menarik kursi dan duduk di samping Jennie. "Capek ngurusin hidupmu, Lisa-yah." Rosé nyaris tersedak kopinya, tertawa keras.

Setelah sarapan, mereka berkumpul di ruang tamu untuk merencanakan hari itu. Jennie, yang masih antusias dengan idenya semalam, mengambil buku catatan kecil dari tasnya dan meletakkannya di meja kopi.

"Oke, guys, dengerin," katanya dengan semangat.

"Aku sama Jisoo mau bikin bucket list berdua. Kalian juga boleh kasih saran, sih, tapi jangan yang aneh-aneh kayak Lisa. Dan kalian, tidak boleh ikut."

Lisa terlihat kecewa saat mendengar kalimat terakhir Jennie. "Mwo? Kenapa begitu~"

Jisoo membaca dengan suara pelan. Jennie sudah menulis beberapa poin di sana.

1. Traveling ke Paris, foto di depan Eiffel Tower.
2. Duet karaoke.
3. Piknik di tepi Sungai Han pas sunset.
4. Belajar bikin pottery bareng (meski mungkin bakal fail).

Jisoo tersenyum, menoleh ke Jennie. "Ini lucu banget, Jendeuk. Aku setuju sama yang piknik."

Rosé mengintip dari samping. "Pottery? Serius? Kalian bakal bikin mangkuk bengkok, aku jamin."

"Eh, jangan meremehkan!" protes Jennie. "Kita kan punya Jisoo, dia pasti jago."

Jisoo menggeleng sambil tertawa. "Aku? Jago? Aku cuma bisa bikin hati pake tanah liat, itu juga buat kamu."

Jennie memerah, memukul lengan Jisoo pelan. "Chu, stop! Malu-maluin."

Lisa, yang sudah bosan dengan kemesraan mereka, mengangkat tangan. "Oke, oke, aku punya saran. Kalian harus coba rumah hantu."

"Jisoo oppamu itu pasti lari duluan," goda Jennie, melirik Jisoo dengan senyum nakal.

Jisoo pura-pura tersinggung. "Aku? Lari? Yang ada kamu pingsan di menit pertama Jennie."

Semua tertawa. Setelah diskusi selesai, mereka memutuskan untuk menghabiskan hari itu dengan santai di rumah. Tapi sebelum itu, Jennie menarik Jisoo ke balkon, ingin bicara berdua sebentar.

Di balkon, angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka. Jennie bersandar di pagar, memandang Jisoo dengan mata penuh arti. "Chu, serius deh. Makasih, ya, buat semuanya. Aku nggak cuma ngomongin–belanjaan atau gelang ini, tapi... kamu selalu bikin aku ngerasa cukup."

Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang