33

2.3K 266 8
                                        

Jennie mengerjapkan matanya perlahan, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk melalui celah tirai kamarnya. Kepalanya masih terasa berat, seakan pikirannya masih terjebak di antara mimpi dan kenyataan. Dengan ragu, ia mengangkat kepalanya dari bantal dan melihat sekeliling kamar.

Kosong.

Tidak ada Jisoo di sampingnya. Tidak ada pelukan hangat atau suara lembut yang menenangkannya seperti tadi.

Jennie menggigit bibirnya, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Apa tadi aku cuma bermimpi? Tapi kenapa rasanya begitu nyata? Rasa hangat dari pelukan Jisoo, usapan lembut di punggungnya, janji yang diucapkan dengan penuh kesungguhan... Semua itu terasa terlalu nyata untuk hanya sekadar mimpi.

Ia menghela napas dan merapikan rambutnya yang berantakan. Kepalanya masih dipenuhi oleh kejadian semalam dan perasaan cemburu yang masih tersisa. Ia tahu Jisoo tidak mungkin sengaja melakukannya, tapi tetap saja, rasa sakit itu tidak mudah hilang begitu saja.

Baru saja ia hendak turun dari tempat tidur, suara pintu kamar mandi terbuka, membuatnya menoleh dengan cepat.

Jisoo muncul dari dalam kamar mandi dengan wajah segar, rambutnya sedikit basah karena baru mencuci muka. Ia mengenakan kaus putih longgar dan celana pendek tidur yang membuatnya terlihat santai. Wajahnya langsung merekah dengan senyuman ketika melihat Jennie sudah bangun.

"Pagi, sayang," sapanya dengan suara lembut. "Tidurmu nyenyak?"

Jennie terdiam sejenak, masih mencoba mencerna kenyataan yang baru saja terjadi. Jadi tadi bukan mimpi?

Jisoo, yang menyadari Jennie masih diam, melangkah mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia mengangkat tangan untuk menyentuh pipi Jennie dengan lembut. "Kenapa? Kau masih marah padaku?"

Jennie menggeleng pelan, tapi masih menatap Jisoo dengan ekspresi penuh tanda tanya. "Aku... Aku pikir tadi aku cuma bermimpi."

Jisoo mengerutkan keningnya. "Mimpi?"

Jennie mengangguk, masih mencoba memahami perasaannya sendiri. "Aku pikir aku cuma bermimpi kau memelukku dan meminta maaf... Tapi ternyata..."

Jisoo tersenyum kecil, lalu mengusap pipi Jennie dengan ibu jarinya. "Ternyata aku benar-benar di sini, kan?"

Jennie mengangguk lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih lembut. Ia menghela napas pelan, merasa sedikit lega meskipun masih ada sedikit rasa sesak di hatinya.

Jisoo menarik Jennie ke dalam pelukannya lagi, membiarkan gadis itu menyandarkan kepalanya di dadanya. "Aku tahu kau masih kesal," ujarnya pelan. "Aku benar-benar minta maaf, Jennie. Aku nggak bermaksud membuatmu merasa seperti ini. Aku janji aku akan lebih berhati-hati ke depannya."

Jennie menggenggam kaus Jisoo erat-erat, membenamkan wajahnya di dada kekasihnya. "Aku nggak suka merasa seperti ini, Jisoo," gumamnya.

"Aku tahu," jawab Jisoo sambil mengecup puncak kepala Jennie. "Aku akan pastikan kau nggak perlu merasa seperti ini lagi. Aku cuma milikmu, Jennie. Cuma kamu."

Mendengar kata-kata itu, Jennie akhirnya tersenyum kecil. Ia tahu Jisoo tulus, dan meskipun butuh waktu untuk menghilangkan kecemburuannya, ia ingin percaya pada Jisoo.

"Baiklah," gumamnya. "Aku percaya padamu."

Jisoo tersenyum lega, lalu mengeratkan pelukannya. "Terima kasih, sayang."

Malam itu, suasana di ruang keluarga terasa nyaman. Jisoo duduk bersandar di sofa panjang, diapit oleh Lisa dan Rosé yang sibuk menonton variety show di televisi. Lisa tertawa keras, sesekali menepuk pahanya sendiri karena terlalu lucu, sementara Rosé menikmati camilannya dengan santai.

Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang