40

1.5K 207 2
                                        

Pagi menjelang di kamar hotel itu, sinar matahari menyelinap melalui dinding kaca. Jisoo sudah bangun lebih dulu, tubuhnya segar setelah mandi. Rambutnya masih sedikit basah, beberapa tetes air menetes dari ujungnya saat ia berdiri di dekat jendela, mengenakan kaus putih dan celana pendek. Aroma kopi yang baru diseduh mengisi udara, bercampur dengan wangi lavender dari kamar mandi.

Ia menoleh ke arah ranjang, di mana Jennie masih terlelap di bawah selimut tebal. Rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya, bibirnya sedikit terbuka, dan kulitnya yang telanjang tampak lembut di bawah cahaya pagi. Jisoo tersenyum kecil. Ia berjalan pelan ke sisi ranjang, duduk di tepi kasur, dan dengan lembut menyapu rambut Jennie dari wajahnya.

"Jendeuk," panggilnya pelan, suaranya menggoda. "Sudah siang, Sayang. Bangun, nanti kita ketinggalan sarapan di Montmartre."

Jennie menggumam, matanya masih tertutup, tubuhnya bergeser sedikit di bawah selimut, tapi jelas belum berniat bangun. "Mmm... lima menit lagi, Chu," keluhnya, suaranya parau khas baru bangun, membuat Jisoo terkekeh pelan.

"Enggak bisa lima menit, calon istriku. Aku udah siapin air hangat di bathtub buat kamu mandi. Aroma lavender, seperti yang kamu suka." Jisoo menarik selimut sedikit, memperlihatkan bahu telanjang Jennie, lalu mengecupnya pelan. "Ayo, bangun, atau aku gendong kamu ke kamar mandi."
Jennie akhirnya membuka satu mata, melirik Jisoo dengan ekspresi setengah kesal setengah malu.

"Kamu... kenapa sih pagi-pagi udah usil," gumamnya. Ia mencoba menarik selimut kembali, tapi Jisoo lebih cepat, dengan lembut menyingkap selimut sepenuhnya, memperlihatkan tubuh Jennie yang masih telanjang dari malam sebelumnya.

"Chu!" seru Jennie, buru-buru menutupi dada dan bawahnya dengan tangan, pipinya memerah. Rambutnya yang berantakan makin membuatnya terlihat menggemaskan di mata Jisoo.

Jisoo hanya tertawa, matanya penuh kekaguman dan kasih sayang. "Apa yang kamu tutupin? Semalam aku udah lihat semua, Jendeuk," godanya, lalu tanpa menunggu protes lebih lanjut, ia membungkuk dan dengan mudah menggendong Jennie ala bridal, satu tangan di bawah lututnya dan satu lagi di punggungnya.

"Jisoo!" Jennie menjerit kecil, tangannya otomatis melingkar di leher Jisoo, wajahnya makin merah karena malu dan geli. "Turunin aku! Aku bisa jalan sendiri!"

"Tapi aku suka gendong kamu," balas Jisoo santai, senyum nakalnya muncul lagi. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan langkah ringan, seolah Jennie tak berbobot sama sekali. Jennie memukul pelan dadanya, tapi tawanya pecah saat jisoo mencium pipinya berulang kali.

Begitu masuk ke kamar mandi. Bathtub sudah penuh dengan air hangat, busa lembut mengapung di permukaan, dan aroma lavender memenuhi ruangan. Jisoo meletakkan Jennie dengan hati-hati di tepi bathtub, memastikan kakinya menyentuh lantai dengan lembut. Ia menatap Jennie, tangannya masih memegang pinggang kekasihnya untuk menjaganya tetap seimbang.

"Sudah siap mandi, Nyonya Kim?" tanya Jisoo.

Jennie mendengus, masih berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan, meski tahu itu sia-sia. Ia melirik bathtub, lalu kembali ke Jisoo. "Makasih Chu, udah siapin ini. Manis banget."

Jisoo tersenyum, mengecup kening Jennie dengan penuh perhatian. "Anything for you, Sayang." Ia mundur selangkah, memberi Jennie ruang untuk masuk ke bathtub, tapi tak bisa menahan diri untuk menggoda sekali lagi. "Mau aku bantu mandi?"

Jennie menatapnya dengan ekspresi pura-pura kesal, lalu tertawa. "Gak! Sudah sana keluar."

Jisoo terkekeh, mengangkat kedua tangan seolah menyerah. "Oke, oke, aku tunggu di luar. Tapi jangan lama-lama, ya, aku udah laper." Ia berbalik, meninggalkan Jennie dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya.

Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang