Penampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula?
silahkan dibaca~
#slowupdate
Setibanya di Korea, udara musim semi menyambut Jennie dan Jisoo di bandara Incheon. Mereka oleh-oleh untuk kedua adiknya, Lisa dan Chaeyoung. Senyum yang tak henti-henti muncul di wajah masing-masing.
Di rumah, suasana hening. Rosé dan Lisa sedang berada di luar negeri untuk pemotretan majalah fashion ternama.
"Akhirnya sampai..." gumam Jennie sambil membuka pintu. "Kangen juga ya."
Jisoo tertawa pelan. "Tapi kayaknya Paris lebih kangen kamu."
Jennie memukul pelan dada Jisoo, lalu masuk dan langsung menaruh kopernya di kamar.
Setelah mandi dan berganti pakaian santai, Jennie mulai membongkar koper mereka untuk menyortir cucian dan menyimpan oleh-oleh. Ia mengangkat satu demi satu pakaiannya, memisahkan yang kusut dan yang masih bisa dipakai. Di sisi lain, Jisoo sedang duduk di sofa, memainkan ponselnya, membuka aplikasi-aplikasi yang tak sempat disentuh selama mereka liburan.
Namun tiba-tiba, ekspresi wajah Jisoo berubah drastis.
Jennie yang sedang melipat kaus putih milik Jisoo menoleh. "Hmm? Waeyo?"
Jisoo tak langsung menjawab. Ia menelan ludah, lalu mengarahkan layar ponselnya ke arah Jennie. Di layar, tampak laman sebuah situs web tempat ia dulu memesan obat anti lelah yang mengubahnya menjadi laki-laki. Namun kini, di halaman utama, tertera banner besar
"NEW UPDATE! Penawar Tersedia! Kembali ke bentuk biologis asal kini hanya dengan satu dosis. Terbatas, stok sangat sedikit."
Jennie berdiri, matanya menyapu tulisan di layar itu. "Apa maksudnya...?"
Jisoo berdiri perlahan, seolah takut dengan realitas yang baru saja menghantamnya. "Obat penawar, Jendeuk... mereka... mereka buat penawar. Kalau aku minum itu... aku bisa kembali... jadi aku yang dulu."
Sunyi di antara mereka. Jennie melipat tangannya, lalu berjalan mendekat, wajahnya serius.
"Dan kamu mau balik?" tanyanya pelan, nyaris seperti bisikan, tapi ada gemetar di suaranya. "Kamu mau jadi perempuan lagi?"
Jisoo menatap mata Jennie lama. Ia membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Nafasnya berat. "Aku... gak tahu."
Jennie mengalihkan pandangan. Tangannya meremas bagian bawah kausnya. "Kalau kamu kembali, kita jadi apa, Chu?"
Jisoo mendekat, menggenggam tangan Jennie. "Kita... masih kita."
"Tidak semudah itu," jawab Jennie, suaranya gemetar. "Aku jatuh cinta sama kamu... seperti ini. Dengan suara kamu, tubuh kamu, cara kamu melindungiku, cara kamu peluk aku dari belakang dan semuanya terasa... pas dan nyaman. Kalau kamu berubah lagi... aku takut."
"Aku juga takut," jawab Jisoo, suaranya berat dan pelan. "Tapi ini tubuh bukan sepenuhnya aku, Jen. Aku kadang lihat ke kaca dan... aku gak tahu siapa yang kulihat. Aku suka bersamamu, aku cinta kamu. Tapi aku juga gak mau kehilangan diriku sendiri."
Mata Jennie berkaca-kaca. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam. "Kita gak harus mutusin sekarang. Tapi janji satu hal..."
"Apa?"
"Jangan minum obat itu diam-diam. Apa pun yang kamu pilih nanti... aku harus tahu. Aku harus ada di situ."
Jisoo menarik Jennie ke dalam pelukannya. "Aku janji."
"Boleh aku lihat lagi?" tanyanya pelan.
Tanpa kata, Jisoo menarik Jennie ke pangkuannya, membiarkan tubuh Jennie bersandar di dadanya. Ia membalik layar ponsel dan kembali membuka situs tadi, membiarkannya terbaca jelas oleh mereka berdua.
Dan di sanalah...
Reversal Dose — Rp800.000.000,- (Limited Stock) (Termasuk 1 dosis Anti-Fatigue Formula secara gratis untuk seluruh pemilik efek samping permanen dari produk kami sebelumnya.)
Mata Jennie membulat. "Delapan ratus juta? Gila. Dulu kamu cuma bayar...?"
Jennie terdiam sejenak. Ia membaca ulang kalimat demi kalimat di layar, lalu bergumam, "Mereka tahu kamu bakal kejebak. Mereka tahu orang-orang kayak kamu... yang mungkin bakal nyesel... bakal lakuin apa aja buat kembali."
Jisoo mengangguk. "Dan mereka kasih bonus... obat anti lelah itu. Yang dulu dijanjiin tapi gak pernah mereka kirim."
"Ada yang berubah dari badan kamu sejak pakai obat itu?" tanya Jennie, mendongak sedikit. "Selain obviously jadi laki-laki."
Jisoo menarik napas dalam. "Nde. Daya tahan tubuhku aneh. Aku tidur 8 jam tapi terkadang tetap capek. Pinggang kadang nyeri. Ototku tumbuh lebih cepat dari biasanya. Aku sempat mikir aku kena penyakit...."
"Enggak. Dan sekarang mereka coba menebus semuanya dengan satu kalimat kecil, free obat anti lelah karena kesalahan produksi."
Jennie mendesah panjang. "Chu..."
"Hmm?"
"Kalau kamu punya uang segitu. Kamu bakal beli?"
Jisoo tak langsung menjawab. Ia menatap layar yang mulai meredup karena tak disentuh. "Kalau aku mikirin tubuhku... mungkin iya. Tapi kalau aku mikirin kamu... rasanya kayak mengkhianati sesuatu. Mengkhianati versi diriku yang kamu cintai."
Jennie membalik tubuhnya sedikit, menatap wajah Jisoo dari pangkuannya. "Dengar. Aku gak mau jadi alasan kamu bertahan di tubuh yang nyakitin kamu. Cinta yang sehat gak minta kamu ngorbanin siapa kamu sebenarnya."
Jisoo membalas tatapan Jennie, matanya berkaca-kaca. "Tapi aku juga gak mau kehilanganmu karena aku berubah lagi."
Jennie mencium pipinya pelan. "Satu-satunya hal yang bisa bikin aku pergi... adalah kalau kamu gak jujur."
Lalu Jennie berbisik, "Kalau suatu hari nanti kamu mutusin buat beli itu, aku pengen kamu ngelakuinnya bukan karena takut aku gak cinta kamu. Tapi karena kamu sayang sama dirimu sendiri."
Jisoo tak tahan. Ia memeluk Jennie erat, mencium pucuk kepalanya. "Kamu terlalu baik buat aku, Jendeuk."
Jennie tersenyum kecil, masih dalam pelukan. "Ani. Aku cuma cinta banget sama kamu, paboya."
Udahan yuk adem ayemnya🤭 udah ada yang bisa nebak untuk alur menjelang endingnya gimana😜
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.