Pagi itu, Jennie terbangun dan terkejut melihat Jisoo sedang berolahraga di ruang tengah. Dia sedang berlari di treadmill tanpa kaos, memperlihatkan tubuh atletisnya yang kekar, dengan otot-otot perut dan dada bidang yang terlihat jelas.
Jennie diam di ambang pintu, tak bisa berhenti menatap Jisoo yang tampak begitu fokus dan kuat. Tiba-tiba, jantungnya berdebar lebih cepat, dan pipinya memerah.
"Jisoo..." Jennie akhirnya bersuara, sedikit canggung.
Jisoo mendengar dan berhenti sejenak, menoleh ke arah Jennie. "Oh, pagi, Jennie!" katanya sambil tersenyum, sedikit terengah-engah.
Jennie terkejut, lalu tersenyum malu. "Pagi, Chu. Aku tidak menyangka kau olahraga pagi-pagi begini," jawabnya, sedikit kikuk.
Jisoo terkekeh dan menyeka pelipisnya yang berkeringat. "Kau nggak mau ikut?" tanyanya, sambil menunjuk ke treadmill.
Jennie menggeleng. "Aku belum siap. Aku lebih milih sarapan dulu," jawabnya, sambil berjalan ke dapur.
Jisoo tersenyum dan kembali melanjutkan olahraganya. "Oke, nanti kita makan bareng ya," katanya dengan santai.
Jennie mengangguk pelan, meskipun pikirannya masih melayang ke sosok Jisoo yang begitu menawan di hadapannya.
Setelah beberapa lama berlari, Jisoo akhirnya turun dari treadmill, wajahnya tampak sedikit merah karena kelelahan. Tanpa mengenakan kaos, tubuhnya yang kekar dan basah oleh keringat terlihat begitu jelas. Dia berjalan ke arah dapur tempat Jennie sedang menyiapkan sarapan.
"Jennie," kata Jisoo dengan nafas terengah-engah, "Bisa ambilkan aku air minum?"
Jennie yang sedang membungkuk di lemari es mendengar suara Jisoo dan langsung terkejut. Matanya seketika terfokus pada tubuh Jisoo yang basah oleh keringat, dada bidangnya terlihat jelas, dan otot-otot perutnya yang kencang begitu mencuri perhatian. Hatinya mulai berdebar dengan cepat.
"Ah, iya... tunggu sebentar," jawab Jennie, mencoba tetap tenang, meskipun jantungnya rasanya hampir melompat keluar. Tangan Jennie sedikit gemetar saat ia mengambil gelas dari rak, berusaha mengalihkan perhatian dari pria di depannya.
Jisoo mendekat lebih dekat, masih terengah-engah, dan berdiri di samping Jennie. "Kenapa nggak ikut olahraga? Kedengerannya seru kalau kita olahraga bersama," katanya sambil tersenyum, membuat Jennie semakin gugup.
Olahraga bersama? Olahraga apa yang Jisoo maksud?! Oh ayolah, katakan dengan jelas dan jangan membuat dirinya salah paham...
Jennie menunduk, menyodorkan air kepadanya, "Aku... aku lebih suka olahraga ringan aja," jawabnya sambil berharap Jisoo tidak melihat wajahnya yang memerah.
Jisoo mengambil gelas itu dan tersenyum, seakan tidak sadar dengan kegugupan Jennie. "Terima kasih," katanya, lalu meneguk air sampai habis.
Jisoo meletakkan gelas kosong di meja dapur dan menatap Jennie yang sedang sibuk di depan kompor. "Jendeukie, masak apa pagi ini?" tanyanya santai, mengusap keringat di lehernya dengan handuk kecil yang ia bawa.
Jennie melirik ke arahnya sebentar sebelum kembali fokus pada panci di depannya. "Aku masak sayur sop. Suka, kan?"
"Tentu saja suka," jawab Jisoo dengan nada riang. Dia bersandar di meja dapur, masih dengan dada telanjang, memperhatikan Jennie yang terlihat sibuk dan cantik.
Setelah beberapa detik hening, Jisoo bertanya lagi, "Oh ya, kamu tidur nyenyak semalam?"
Jennie menoleh sedikit sambil mengaduk sayurnya. "Lumayan, kok. Memangnya kenapa, Oppa?"
Jisoo tersenyum kecil, tapi ada keraguan di matanya. "Aku tidak bisa tidur," akunya dengan nada pelan.
Jennie berhenti sejenak, menatapnya penasaran. "Nggak bisa tidur kenapa? Kebanyakan minum kopi lagi?" godanya sambil tersenyum kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!
FantasyPenampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula? silahkan dibaca~ #slowupdate
