Jennie membuka mata perlahan. Kelopak matanya masih terasa berat, tapi tubuhnya terasa hangat... nyaman. Ia menyadari bahwa ia masih dalam pelukan Jisoo, lengannya melingkari pinggang pria itu, sementara kepalanya bertumpu di dada yang bergerak naik-turun perlahan.
Dan untuk pertama kalinya... Jennie merasa tubuh itu tidak lagi terasa tegang. Tangannya bergeser sedikit, menyusuri lengan Jisoo yang memeluknya erat. Ototnya terasa lebih lentur... lebih hangat. Tidak lagi kaku seperti biasanya. Mungkin kekasihnya itu kelelahan.
Jennie mengangkat wajahnya sedikit, memperhatikan leher dan rahang Jisoo yang masih tertidur pulas. Ada sedikit senyum mengembang di wajahnya.
"Aneh," gumam Jennie pelan.
Jisoo tidak bangun. Biasanya, tubuhnya refleks setiap kali Jennie bergerak sedikit saja di ranjang. Tapi pagi ini... ia benar-benar rileks. Seolah seluruh tubuh Jisoo sedang dalam mode istirahat sepenuhnya.
Jennie menyentuh dada Jisoo pelan. Degup jantungnya masih ada, ritmenya lambat, tenang. Bahkan tangannya yang biasanya agak kaku memeluk pun sekarang menggantung santai di punggung Jennie.
Jennie mengerutkan alis. "Apa semalam dia minum obat pegal itu?" bisiknya sendiri. "Sepertinya iya..."
Ia menarik napas dan mengelus lengan Jisoo pelan. "Tapi kenapa ga bilang?"
Ada rasa kesal kecil yang muncul. Jennie menatap wajah pria itu. Jisoo tertidur dengan rahang sedikit terbuka, rambut berantakan ke belakang, dan dengan ekspresi damai
"Begini kamu kalau tenang, ya..." Jennie berbisik, lalu menunduk dan mencium pipinya sebentar. "Tetap tampan." Kekehnya pelan.
Ia lalu merapat lagi ke dadanya, membiarkan dirinya larut dalam kehangatan tubuh Jisoo.
Setelah beberapa menit memeluk Jisoo dalam diam, Jennie perlahan bangkit dari pelukannya, mencuri waktu untuk mandi pagi. Ia berjalan pelan ke kamar mandi, menoleh sebentar ke arah Jisoo yang masih tertidur damai di ranjang.
"Kiyowo..." gumam Jennie sebelum menutup pintu kamar mandi.
Air hangat mengalir, menyapu kulitnya, tapi pikirannya melayang ke Jisoo, ke semua hal yang terjadi semalam. Semua masih melekat jelas dalam benaknya.
Beberapa belas menit kemudian, Jennie keluar dari kamar mandi dengan rambut basah terikat asal dan hoodie kebesarannya milik Jisoo menutupi tubuh mungilnya. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu.
Jisoo... masih dalam posisi yang sama.
Tubuhnya tetap terlentang, kepala sedikit miring ke kanan, napasnya teratur.
"Jichu?" panggil Jennie pelan, mendekat sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia duduk di sisi tempat tidur dan menepuk paha pria itu. "Sayang, bangun..."
Tak ada reaksi.
Jennie menyipitkan mata, lalu mencoba mengguncang bahunya pelan. "Yah... jangan becanda..."
Tetap tak bergerak.
Degup jantung Jennie mulai bertambah cepat. Ia menyentuh pipi Jisoo yang terasa hangat, tidak seperti biasanya.
"Jisoo?" suaranya mulai parau. Ia mengguncang tubuh pria itu lebih kuat. "Hei—oppa—bangun..."
Jisoo sedikit bergeming. Napasnya bertambah dalam, dan wajahnya mengerut seolah baru terbangun dari mimpi. Mata itu akhirnya terbuka perlahan.
Jennie langsung menunduk, kedua tangannya memegang wajah Jisoo. "Kamu baik-baik saja?"
Jisoo menarik napas panjang, lalu menatap Jennie kosong beberapa detik. Sejenak, tak ada respons dari matanya. Hanya kelopak yang bergerak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!
FanteziePenampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula? silahkan dibaca~ #slowupdate
