30

1.7K 230 4
                                        

Beberapa jam kemudian, suara bel apartemen berbunyi, menandakan kedatangan Lisa dan Rosé. Jennie menoleh sekilas ke arah pintu, lalu kembali menatap Jisoo yang masih asyik dengan ponselnya.

"Kau mau buka pintu atau aku saja?" tanya Jennie, nada suaranya setengah malas.

Jisoo hanya tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Kau yang lebih merindukan mereka, kan?"

Jennie mendengus, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Begitu dibuka, Lisa langsung melompat memeluknya.

"JENNIE UNNIEEE!" seru Lisa heboh. "Aku merindukanmu!"

"Yah, kau bertingkah seperti kita tak bertemu selama bertahun-tahun." Jennie tertawa, namun tetap membalas pelukan Lisa.

Rosé, yang berdiri di belakang Lisa, hanya menggeleng sambil tersenyum. "Kau tahu, dia bahkan berteriak namamu di mobil tadi."

Lisa melepaskan pelukannya, lalu melangkah masuk dengan mata berbinar. "Jisoo unnie— aniya, Jisoo oppa di mana? Aku ingin melihat wajah tampannya!"

Jennie melirik ke arah Jisoo yang baru saja bangkit dari sofa. "Di sana," katanya datar.

Lisa langsung berjalan cepat dan melingkarkan lengannya di bahu Jisoo. "Oppa! Aku merindukanmu! Kenapa kau tidak pernah membalas pesanku?"

Jisoo tertawa kecil, menepuk kepala Lisa. "Aku sibuk, Lisa."

Rosé mendekat dan menatap Jisoo dengan curiga. "Kalian berdua kenapa? Rasanya ada sesuatu yang berbeda."

Jennie merasakan dadanya berdetak cepat. Ia melirik Jisoo, yang tampaknya masih santai seperti biasa.

"Apa maksudmu, Chaeng?" tanya Jisoo santai.

Rosé menyipitkan matanya, menatap Jennie lalu kembali ke Jisoo. "Entahlah... ada sesuatu yang berbeda dari kalian berdua. Rasanya seperti..." Ia terdiam, lalu matanya membulat seakan baru menyadari sesuatu. Baju yang Jennie kenakan adalah baju milik Jisoo yang ia kasih sebagai hadiah. "Jangan bilang kalian—"

Lisa ikut terkejut dan langsung memegang kedua pundak Jisoo. "Oppa! Apa kau dan Jennie pacaran?!"

Jennie langsung tersedak mendengar pertanyaan Lisa yang tiba-tiba. Dengan cepat, ia meraih gelas air di meja dan meminumnya, berusaha menenangkan diri. Jisoo, di sisi lain, tetap tenang, seolah pertanyaan itu tidak mengejutkannya sama sekali.

"Apa?" Jennie akhirnya bersuara, berusaha terdengar sekadar penasaran, bukan panik.

Lisa menyipitkan matanya curiga, menatap Jennie lalu Jisoo bergantian. "Aku bilang, apa kalian pacaran?"

Jisoo tertawa kecil, menggeleng santai. "Kenapa tiba-tiba berpikir begitu?"

Rosé menyilangkan tangan di dadanya, matanya tetap memperhatikan ekspresi mereka berdua. "Entahlah, rasanya suasana antara kalian agak aneh. Biasanya Jennie unnie akan mengomel padamu karena malas membuka pintu, tapi tadi dia seperti... ya, lebih sabar."

Jennie langsung memasang ekspresi datar. "Aku tidak selalu mengomel, Chaeng." Enak saja dikata dirinya selalu mengomel.

Lisa masih belum puas. "Tapi kalian kelihatan lebih dekat dari biasanya." Ia menatap Jisoo penuh selidik. "Aku pun mencium aroma parfum Chanel Jennie unnie di pakaianmu"

Jisoo mengangkat bahu, mengambil sepotong kimbap dari meja dan memasukkannya ke mulutnya dengan santai. "Aku dan Jennie selalu dekat, kan?" jawabnya setelah menelan makanannya.

Jennie mengangguk setuju. "Ya, kami sudah berteman lama. Mungkin kalian saja yang terlalu banyak berkhayal."

Lisa masih tampak ragu, tapi akhirnya mengangkat tangannya menyerah. "Baiklah, baiklah. Tapi kalau aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu dariku, aku akan menghukum kalian!"

Jennie tertawa kecil, berusaha terdengar setenang mungkin. "Aku tidak takut."

Jisoo tersenyum, menatap Jennie sekilas sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke makanannya. Ia tahu mereka baru saja lolos dari kecurigaan Lisa dan Rosé—untuk saat ini.

Namun, Jennie merasa jantungnya masih berdebar kencang. Mereka harus lebih hati-hati. Kalau tidak, rahasia mereka bisa terbongkar lebih cepat dari yang mereka rencanakan.

Setelah percakapan itu, suasana kembali normal. Lisa dan Rosé akhirnya berhenti menginterogasi Jennie dan Jisoo, meskipun Jennie masih bisa merasakan sesekali tatapan curiga dari mereka. Dan yang ia bisa lakukan hanya menatapnya tajam yang membuat kedua nyali adiknya menciut seketika.

Jisoo membuka bungkus makanan terakhir, memperlihatkan tteokbokki yang masih mengepul. "Ayo makan sebelum dingin," katanya sambil mengambil sumpit.

Jennie, yang masih mencoba menenangkan pikirannya, ikut menyendok sedikit makanan ke piringnya. Namun, karena masih sedikit gugup, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan tteokbokki ke pangkuannya.

"Aish!" Jennie buru-buru mengambil tisu untuk membersihkan noda saus yang menempel di bajunya. Dan panas juga kuahnya.

Jisoo, tanpa berpikir panjang, mengambil tisu lain dan membantunya mengelap noda itu dengan gerakan alami. Jennie langsung menegang, menyadari betapa refleksnya Jisoo.

Lisa dan Rosé terdiam selama beberapa detik, lalu—

"HEI, KENAPA JISOO TERLIHAT TERBIASA MELAKUKAN ITU?!" Lisa menunjuk mereka berdua dengan sumpitnya, mulutnya terbuka lebar.

Jennie dan Jisoo langsung menoleh bersamaan, mata mereka melebar.

"Eh?" Jisoo buru-buru menarik tangannya kembali, berpura-pura santai. "Aku hanya membantu."

Rosé menaikkan alisnya, lalu menatap Jennie dengan penuh selidik. "Jennie biasanya tidak suka disentuh kalau lagi makan. Kenapa kali ini dia diam saja?"

Jennie tertawa canggung, berpikir cepat untuk menghindari jebakan itu. "Aku terlalu sibuk membersihkan noda di bajuku, Chaeng. Lagipula, Jisoo memang suka sok perhatian, kan? Pasti dia melakukannya karena tadi siang dia telah membuatku marah."

Lisa masih menatap mereka penuh kecurigaan, tetapi akhirnya mengangkat bahunya. "Baiklah, aku akan mempercayai kalian... untuk saat ini."

Jennie menarik napas lega dalam diam, sementara Jisoo hanya tersenyum kecil, melanjutkan makannya tanpa komentar lebih lanjut.

Obrolan pun kembali normal. Mereka membicarakan banyak hal—tentang pekerjaan, rencana liburan, dan gosip terbaru yang mereka dengar. Jennie mulai merasa lebih santai, berpikir bahwa mereka akhirnya bisa melewati makan malam ini tanpa ketahuan.

Namun, ketika Lisa sibuk dengan ponselnya dan Rosé mengunyah makanannya, Jennie merasakan sesuatu menyentuh lututnya di bawah meja. Ia menoleh ke samping, mendapati Jisoo tetap makan dengan tenang, seolah tidak ada yang terjadi.

Tapi Jennie tahu.

Pria itu dengan sengaja menyentuhkan lututnya ke lututnya.

Jennie melirik tajam, tapi Jisoo tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa. Sebaliknya, sudut bibirnya malah sedikit terangkat, seolah sedang menikmati situasi ini.

Jennie mendengus pelan, lalu tanpa peringatan, ia mendorong lutut Jisoo dengan sedikit tenaga.

Jisoo hampir tersedak tteokbokkinya.

"Oppa, kau baik-baik saja?" tanya Lisa dengan bingung.

Jisoo buru-buru mengambil air minumnya, meneguknya cepat. "I-iya... hanya sedikit kepedasan."

Jennie tersenyum puas, kembali makan seolah tidak terjadi apa-apa.

Jika Jisoo ingin bermain seperti itu, maka Jennie juga bisa melawan. Tapi yang jelas, mereka harus lebih berhati-hati.

Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang