48

2.3K 252 28
                                        

Jennie masih terdiam di pelukan Jisoo, air matanya perlahan mengering, digantikan senyum kecil di wajahnya. Jisoo mencium keningnya lagi, tangannya mengelus punggung Jennie dengan lembut.

"Chu..." Jennie menarik diri sedikit, memandang wajah Jisoo. "Kamu... beneran gak apa-apa dengan ini? Maksudku, ini besar. Karier kita, konser, semua—"

Jisoo memotongnya dengan senyum, jarinya menyentuh bibir Jennie untuk menghentikan kata-katanya. "Jendeuk, aku tahu ini besar. Dan ya, aku juga takut. Tapi aku lebih takut kehilangan dirimu. Kehilangan kita. Dan sekarang, ada dia..." Ia melirik ke arah perut Jennie, matanya berbinar. "Ini membuatku lebih yakin untuk tetap di sini."

Jennie tertawa kecil, meski suaranya masih sedikit serak karena tangis. "Kamu terlalu romantis hari ini. Aku curiga ini efek obat pegal itu."

Jisoo terkekeh, lalu tiba-tiba bangkit dari sofa, menarik tangan Jennie dengan lembut. "Ayo, ambil tes itu. Aku mau lihat sendiri."

Jennie mengernyit, sedikit terkejut. "Chu, kamu serius? Itu cuma... alat tes, lho."

"Aku tahu," kata Jisoo, senyum nakalnya muncul. "Tapi aku mau lihat buktinya. Biar aku yakin ini bukan mimpi."

Jennie menggelengkan kepala, tapi tak bisa menahan tawa kecil. Ia berjalan ke kamar mandi, diikuti Jisoo yang tampak seperti anak kecil yang excited menunggu kejutan. Di wastafel, Jennie membuka laci dan mengambil alat tes kehamilan itu dengan hati-hati, menunjukkan dua garis yang masih jelas terlihat.

Jisoo menatap alat itu, matanya membelalak, lalu tiba-tiba tertawa keras. "Ya Tuhan, Jendeuk! Ini beneran! Aku ga percaya kecebongku beneran hidup dan bisa berkembang!" Tanpa aba-aba, ia membungkuk dan mengangkat Jennie ke dalam pelukannya, menggendongnya seperti koala dengan tangan melingkari pinggangnya dan kaki Jennie menggantung di udara.

"Chu! Apa-apaan ini?!" Jennie menjerit kecil, tapi tawanya pecah, tangannya memukul pundak Jisoo pelan. "Turunin aku, aku bukan bayi!"

"Tapi kamu bayiku," canda Jisoo, mulai berjalan mengelilingi ruang tamu dengan Jennie masih digendongannya. Ia berputar-putar perlahan, sesekali menggoyang-goyang Jennie seperti sedang menimang anak kecil. "Lihat, Jendeuk, ini latihan buat nanti. Aku harus biasain gendong dua orang sekaligus!"

Jennie tertawa lepas, kepalanya bersandar di bahu Jisoo. "Ish, Chu! Aku malu kalau tetangga lihat!"

"Biarkan mereka lihat," balas Jisoo, masih berjalan pelan sambil menggendong Jennie. "Aku mau seluruh dunia tahu aku punya Jendeuk dan calon bayi Jendeuk. Bayi kucing yang lucu... Kuma dan dalgom pasti iri posisinya tergeser dengan anak kucing."

Jennie memukul pundaknya lagi, wajahnya memerah. "Yah, berhenti! Aku pusing!"

Jisoo akhirnya berhenti, tapi tak langsung menurunkan Jennie. Ia menatapnya dengan senyum lebar, lalu mencium bibirnya dengan lembut. "Aku serius, Jendeuk. Kita akan hadapi ini bersama. Dan langkah pertama... kita harus bicara dengan YG."

Jennie membeku, matanya melebar. "YG? Chu, kamu serius ingin bilang ke mereka sekarang?"

Jisoo mengangguk, akhirnya menurunkan Jennie dengan hati-hati, tapi tangannya tetap melingkari pinggangnya. "Tentu. Kita gak bisa sembunyikan ini selamanya. Mereka harus tahu supaya kita bisa atur jadwal, konser, semuanya. Aku gak mau kamu stres karena memikirkan ini sendirian."

Jennie menggigit bibir, rasa cemas kembali muncul. "Tapi... bagaimana kalau mereka marah? Atau... atau kalau ini bikin masalah buat BLACKPINK?"

Jisoo menggeleng, tangannya menggenggam tangan Jennie erat. "Jendeuk, BLACKPINK adalah kita. Kamu, aku, Rosé, Lisa. Mereka tidak akan marah. Mereka mungkin kaget, tapi mereka keluarga kita. Dan YG... mereka harus mengerti. Kita akan cari cara supaya semuanya tetap berjalan, tapi dengan kamu dan bayi kita."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang