Jennie masih duduk di pangkuan Jisoo, tangannya bermain-main dengan ujung rambut Jisoo, sementara Jisoo memandangnya dengan penuh kasih sayang.
"Chu, aku serius, loh," kata Jennie tiba-tiba, suaranya sedikit lebih serius tapi tetap lembut. "Aku bakal ganti uang belanjaan tadi. Aku nggak mau kamu merasa aku cuma manfaatin kamu."
Jisoo menggeleng pelan, tangannya mengelus punggung Jennie dengan gerakan menenangkan. "Jendeuk, aku bilang nggak apa-apa, kan? Aku tahu kamu nggak gitu. Lagipula, lihat ini—" Jisoo mengangguk ke arah tumpukan tas belanja di sudut kamar. "Wajahmu waktu keluar dari butik tadi? Itu worth every won."
Jennie tersenyum kecil, tapi matanya masih menunjukkan sedikit rasa bersalah. Dia menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang selalu muncul saat dia sedang berpikir keras. "Tapi... aku mau kasih sesuatu buat kamu juga. Biar adil."
Jisoo mengangkat alis, sedikit penasaran. "Oh? Apa itu? Jangan bilang kamu mau traktir aku makan ayam di restoran mewah juga."
Jennie tertawa, lalu memukul lengan Jisoo pelan. "Bukan! Lebih spesial dari itu." Dia bangkit dari pangkuan Jisoo, berjalan ke meja kecil di sudut kamar, dan membuka laci. Setelah mengobrak-abrik sebentar, dia kembali dengan sebuah kotak kecil berwarna hitam di tangannya.
Jisoo memandang kotak itu dengan bingung. "Apa ini?"
Jennie duduk kembali di samping Jisoo, kali ini dengan ekspresi sedikit gugup. "Buka aja," katanya, suaranya hampir berbisik.
Dengan hati-hati, Jisoo membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sepasang gelang terbuat dari perak dengan ukiran kecil berbentuk bintang di salah satu sisinya. Ada dua gelang, satu dengan ukiran "J" dan satu lagi dengan "C".
"Jendeuk..." Jisoo menatap gelang itu, lalu menoleh ke Jennie dengan mata berbinar. "Ini... untuk kita?"
Jennie mengangguk, wajahnya sedikit memerah.
"Couple bracelets. Aku lihat ini pas kita ke butik tadi, tapi aku beli diam-diam waktu kamu ngelamun di sofa. Aku pikir... ya, kenapa nggak? Biar kita punya sesuatu yang matching."
Jisoo tersenyum lebar, hatinya terasa hangat. Dia mengambil gelang dengan ukiran "J" dan memakaikannya di pergelangan tangan Jennie dengan hati-hati. "Cantik," katanya, lalu mengambil gelang dengan ukiran "C" dan memakainya di tangannya sendiri.
"J untuk Jennie, lalu C apa?" Bingung Jisoo
Jennie terkekeh, lalu memeluk Jisoo erat. "C untuk Chichu, akan membosankan kalau dua-duanya berhuruf sama."
"Ahhh... kalau begitu jadi J itu Jendeuk, ya?," kata Jisoo gemas, mencium puncak kepala Jennie lagi.
Tiba-tiba, pintu kamar mereka terbuka dengan suara keras. Lisa berdiri di ambang pintu, masih dengan handuk melilit rambutnya. "Kalian berdua! Cepat ke ruang tamu, Rosé bikin popcorn, kita mau movie night!"
Jennie dan Jisoo saling pandang, lalu tertawa bersamaan. "Aigoo, Lisa, timing-mu sempurna sekali," sindir Jennie sambil menggeleng.
"Timing apa? Aku cuma mau ngajak nonton!" Lisa memandang mereka curiga. "Kalian tadi ngapain sih? Kok muka Jennie unnie merah gitu?"
Jisoo langsung menutup wajah Jennie dengan tangannya, pura-pura serius. "Nggak ada apa-apa. Jangan kepo."
Lisa mendengus, tapi akhirnya berbalik sambil berteriak, "Ppali! Rosé udah pilih film horor, kalian jangan kabur!"
Begitu Lisa pergi, Jennie menyingkirkan tangan Jisoo dari wajahnya sambil cekikikan. "Dia beneran bakal bikin kita nonton horor?"
Jisoo menghela napas. "Aku sudah bisa bayangin Rosé teriak setiap lima menit dan Lisa ketawa dengan suara nyaringnya itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!
FantastikPenampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula? silahkan dibaca~ #slowupdate
