31

1.9K 232 9
                                        

Jennie yang baru saja meneguk air langsung tersedak begitu mendengar ucapan Rosé. "Kau ingin apa?!" tanyanya, hampir memekik.

Rosé, yang tidak menyadari reaksi aneh Jennie, hanya tersenyum polos. "Tidur bareng Jisoo oppa malam ini. Lagipula, bukankah dia yang bilang ingin mendengarkan album baruku sebelum rilis? Aku ingin memutarnya secara eksklusif untuknya."

Lisa tertawa sambil mengunyah makanannya. "Baguslah! Aku dan Jennie unnie bisa tidur bersama, lalu kita bisa gosip semalaman, huh?"

Jennie membeku di tempatnya. Ia melirik Jisoo, berharap pria itu segera memberikan alasan untuk menolak. Tapi alih-alih menolak, Jisoo justru terlihat santai, seolah tidak ada yang salah dengan ide itu.

Jennie mengerutkan kening, mulai kesal. "Tapi kenapa harus tidur bareng?" tanyanya dengan nada yang lebih ketus dari yang ia maksudkan.

Rosé tertawa kecil. "Aku dan Jisoo oppa sering begini, Unnie. Kau tahu itu, kan?"

Tahu? Tentu saja ia tahu. Mereka sudah sering menghabiskan waktu bersama sejak lama. Tapi kali ini berbeda. Kali ini, Jisoo adalah miliknya.

Dan Jennie sama sekali tidak suka dengan ide itu.

"Tapi—"

Jisoo tiba-tiba menyela, menatap Rosé dengan ekspresi lembut. "Aku memang ingin mendengar albummu, Chaeng, tapi mungkin tidak malam ini. Aku agak lelah."

Jennie menoleh cepat ke arah Jisoo, terkejut karena akhirnya pria itu mengatakan sesuatu yang benar.

Rosé mengerucutkan bibirnya. "Benarkah? Padahal aku ingin kau menjadi orang pertama yang mendengarnya..."

Jisoo tersenyum kecil, berusaha menenangkan gadis itu. "Aku janji, kita bisa mendengarkannya besok pagi. Kau bisa tidur di kamarku kalau kau mau, aku tidur di sofa."

Jennie hampir ingin menginjak kaki Jisoo di bawah meja. Pria itu baru saja menyelamatkan mereka dari kemungkinan besar ketahuan, tetapi mengapa dia masih menawarkan Rosé untuk tidur di kamarnya?!

Lisa yang tidak menyadari ketegangan kecil itu hanya mengangkat bahu. "Yah, terserah kalian. Yang penting aku tetap tidur dengan Jennie unnie yang seksi ini."

Jennie mengabaikan ucapan Lisa yang menyebutnya seksi. Ia menatap Jisoo tajam seolah mengancamnya untuk tidak melakukan hal bodoh. Jisoo hanya menatap balik dengan ekspresi polos, seolah berkata, Apa? Aku baru saja menyelamatkan kita.

Makan malam pun berlanjut, meskipun Jennie masih merasa sedikit gelisah. Jika Rosé tetap tidur di kamar Jisoo malam ini, maka ia harus memastikan bahwa pria itu tidak melakukan kesalahan yang bisa membuat mereka ketahuan.

Tapi Jennie juga tahu satu hal.

Malam ini, ia tidak akan bisa tidur dengan tenang.

Setelah makan malam selesai, Jennie terus mengawasi Rosé yang tampak santai menyiapkan barang-barangnya. Gadis itu membawa gitar akustiknya, earphone, dan MacBook, lalu berjalan menuju kamar Jisoo dengan ekspresi penuh semangat.

Jisoo, yang juga baru selesai membereskan meja makan, hanya bisa tersenyum melihat antusiasme Rosé. "Kau benar-benar serius, huh?" tanyanya sambil bersandar di kusen pintu.

"Tentu saja!" Rosé menjawab riang, meletakkan barang-barangnya di sudut kamar Jisoo sebelum duduk di tepi ranjang. "Aku sudah lama ingin memutarkan demo lagu-laguku untukmu. Kau harus dengarkan dengan penuh perhatian, oppa."

Jennie berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di dadanya dengan ekspresi tidak senang yang berusaha ia sembunyikan. Matanya dengan cepat menyapu seluruh kamar, lalu berhenti pada sosok Rosé yang kini sudah nyaman duduk di kasur dengan piyama tidurnya—atasan lengan pendek dan celana pendek berwarna pink muda yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah.

Jennie menggertakkan giginya.

Jisoo hanya terkekeh sebelum menoleh ke arah Jennie. "Kenapa berdiri di situ, Jendeuk? Kau mau gabung?" godanya.

Jennie mendengus pelan, mencoba bersikap santai meskipun hatinya mulai mendidih. "Aku hanya ingin memastikan kau tetap ingat janji untuk tidur di sofa," ujarnya, menatap Jisoo dengan tatapan peringatan.

Jisoo tertawa kecil, mengangkat kedua tangannya. "Aku ingat, aku ingat."

Rosé menoleh ke arah Jennie dan tersenyum polos. "Kalau unnie cemburu, kau bisa tidur di sini juga, tahu?"

Jennie langsung tersentak. "A-apa? Aku tidak cemburu!" bantahnya cepat, meskipun pipinya mulai sedikit memanas.

Lisa, yang tiba-tiba muncul dari belakang Jennie, langsung bersorak. "Oh! Jennie unnie cemburu!"

Jennie menoleh tajam ke arah Lisa. "Aku bilang tidak!"

Jisoo tertawa melihat kekacauan kecil itu, lalu menepuk bahu Jennie dengan lembut. "Tenang saja, Jendeuk. Aku pria yang bertanggung jawab. Aku tidak akan melakukan hal aneh."

Jennie hanya mendelik sebelum akhirnya berbalik dengan kasar. "Terserah kalian. Aku pergi tidur."

"Kkk... ayo unnie" Lisa tertawa kecil sebelum menyeret Jennie ke kamarnya sendiri.

Sementara itu, Jisoo kembali menatap Rosé, yang sudah memasang earphone dan membuka MacBook-nya.

"Baiklah, oppa. Ayo dengarkan lagu-laguku," ujar Rosé dengan senyum manis.

Jisoo menghela napas dalam hati. Malam ini akan panjang, tapi yang lebih mengkhawatirkannya adalah satu hal—Jennie pasti sedang merajuk.

Jisoo duduk santai di tepi kasur, menikmati suara gitar Rosé yang lembut. Lagu-lagu baru yang dimainkan Rosé membuat suasana di kamar terasa tenang dan nyaman, dan Jisoo merasa dirinya terbawa dalam alunan musik yang begitu menyentuh. Ia mencoba bertahan untuk tetap terjaga, tetapi seiring berjalannya waktu, kantuk semakin melanda.

Akhirnya, ia tidak bisa menahan diri lagi dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya tertutup perlahan, dan dalam hitungan detik, Jisoo tertidur, meskipun Rosé masih dengan antusias memainkan gitar dan bernyanyi.

Rosé yang sedang fokus memainkan lagunya mulai menyadari bahwa Jisoo sudah tertidur. Awalnya ia mencoba mengabaikannya, tetapi setelah beberapa saat, rasa kesal mulai tumbuh di hatinya. "Yah, oppa!" serunya pelan, berusaha membangunkan pria itu dengan nada tinggi. Namun, Jisoo hanya bergeming, tampak semakin lelap.

Rosé mendesah frustasi, memandang Jisoo yang terlelap begitu saja. Tanpa berpikir panjang, ia mengulurkan kakinya dan dengan cepat menarik bulu kaki panjang Jisoo yang terjulur di luar selimut.

"Auh!" Jisoo langsung terbangun, terkejut dan merintih karena sakit. "Aduh! Chaeng, kenapa kamu...?"

Rosé tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Jisoo yang terguncang. "Kau tertidur, oppa! Aku sudah memainkan lagu terbaikku dan kau malah tidur! Apa itu sopan?"

Jisoo masih memegangi kakinya yang terasa pedas akibat tarikannya, matanya sedikit berkabut karena kantuk. "Ya, ya, aku terbangun. Cukup, Chaeng, itu menyakitkan!"

Rosé hanya terkikik, lalu kembali memainkan gitar dengan santai. "Kau harus tetap terjaga. Aku tidak mau kehilangan audiens terbaikku!"

Jisoo merintih pelan, mencoba duduk dengan lebih tegak meskipun matanya masih sedikit terpejam. "Aku sudah cukup terjaga, jangan khawatir. Lagumu bagus kok, sangat menenangkan," gumamnya dengan suara serak.

Rosé tersenyum puas, meskipun masih merasa kesal. "Sebaiknya kau tetap terjaga. Aku tidak ingin menjadi pelawak yang hanya bisa membuat orang tidur," katanya sambil melanjutkan petikan gitarnya.

Jisoo, meskipun tidak sepenuhnya terjaga, tersenyum gemas mendengar kata-kata Rosé. "Oke, oke. Aku janji tidak akan tidur lagi. Aku mendengarkan kok."

Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang