L

21.3K 930 232
                                        

Gara pernah membaca mengenai teori relativitas waktu yang dikemukakan oleh Albert Einsten, katanya, waktu itu sebenarnya relatif bukanlah mutlak¬---yang dimana waktu bisa saja berubah tergantung kondisi tertentu, bukan mutlak sama untuk semua orang dan di semua tempat. Secara fisiknya, waktu akan berjalan lebih lambat ketika kita bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, terutama jika kita mendekati kecepatan cahaya---luar angkasa.

Tetapi kali ini, Gara menggambarkan teori ini secara psikologis, dimana perasaannya mengatakan bahwa waktu terasa begitu cepat ketika ia menghabiskan harinya bersama orang-orang yang ia cintai dan kasihi. Suasana nyaman, aman dan hangat yang ia rasakan membuatnya merasa waktu 60 menit terasa seperti kedipan mata yang seketika saja terlewat. Padahal ia ingin sekali waktu berjalan dengan lambat agar ia bisa lebih lama lagi berada di rumah, bersama orang tua, adik-adiknya dan tentu saja Syilanya.

“Kakak siap-siapnya jangan lama dong, orang udah nungguin banget dari tadi, tau!” Suara teriakan yang begitu cempreng itu berasal dari Herra yang sudah begitu kesal menunggu Liora yang sangat lama bersiap, padahal malam ini mereka sekeluarga sekaligus dengan satu tambahan personil yaitu calon kakak iparnya---akan jalan-jalan di luar karena keesokan harinya Abangnya yang paling tampan akan belajar di luar negeri, yang artinya mereka akan jarang sekali berkumpul bersama lagi.

Bara mengelus rambut anak ketiganya tersebut dengan hangat guna sedikit menenangkan, “sabar cantiknya Daddy, Kak Yora lagi dandan biar tambah cantik, biar nggak kalah dari kamu sama Mommy.” Bara membujuk, menghilangkan sedikit raut cemberut dari wajah Herra.

“Tapi Mommy dandannya nggak lama, Kak Syila yang secantik itu aja dandannya nggak lama.” Herra tetap protes, melihat bagaiman cantiknya Syila malam ini membuatnya membandingkan dengan berapa lama waktu yang syila habiskan untuk berdandan ketimbang dengan Kakaknya yang selalu ia ajak bertengkar tersebut.

Syila tersipu malu begitu namanya disinggung dan dipuji cantik begitu oleh adik Gara yang bisa Syila katakan paling tengil dan juga jahil. Tak sia-sia juga ia menghabiskan waktunya untuk berdandan tadi. Jangan kira Syila bersiap sebentar, Ia berdandan sedari setengah jam sebelum jam yang telah ditentukan, mulai dari memilih outfit higga make up yang ia gunakan agar jangan sampai terlihat jomplang dengan visual dari keluarga Pratama ini, apalagi para perempuan-perempuannya.

“Sewot banget sih, lagian aku nggak telat, ya. Tepat waktu, nih.” Yora menyahut dengan sebal, ia menuruni tangga dengan tatapan penuh permusuhan mengarah pada Herra.

Herra mendengus, ia gandeng tangan Daddynya yang sudah berdiri dari duduknya dan siap untuk pergi kemanapun anak-anak serta istrinya mengajaknya. Malam ini sang kepala keluarga tersebut siap sedia untuk membawa keluarganya mengelilingi Jakarta yang luas ini, dengan catatan kalimat tersebut hanyalah sekedar kiasan yang terkesan sedikit hiperbola.

“Ini beneran kita semua di satu mobil yang sama?” Syila bertanya dengan suara berbisik di telinga Gara, kebetulan mereka pun berjalan di barisan paling belakang. Di depan sekali Bara yang tengah menggendong Kara sekaligus menggandeng Herra, sementara di barisan kedua ada Yora yang berjalan bergandengan dengan Mommynya.

Gara meraih tangan Syila untuk ia tenggelamkan dalam jemarinya, “kamu keberatan? Atau ngerasa nggak nyaman?”

Syila menggeleng, tentu saja bukan iu maksudnya bertanya begitu. Bagaimana mungkin ia bisa merasa tak nyaman bersama kelurga yang sudah begitu baik dan mau menerimanya ini  dengan penuh kasih sayang, lagian ia sudah begitu terbiasa sekarang ada diantara orang tua dan adik-adiknya Gara, tidak lagi secanggung di awal ia bertemu dengan keluarga ini.

“Nggaklah, aku kan cuman nanya karena kita kan orangnya banyak, mana ketambahan aku lagi, takutnya nanti sempit, terus bikin nggak nyaman selama perjalanan.”

Gara My BoyfieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang