Case 05

2.7K 194 3
                                        

Setelah kejadian Farhan tanpa sengaja mengelus surai Juan di rumah sakit kepolisian, kepala detektif tim dua itu melakukan segala cara untuk menghindari sang dokter forensik. Terhitung sudah dua minggu lamanya pria itu berusaha. Dan sampai pagi ini, Juan masih tetap kekeuh mendekatinya. Farhan seperti tidak bisa lari kemanapun dan itu membuatnya sangat frustasi.

"Cap, sidang pertama untuk kasus Alinda besok, mau ikut?" Tanya Saka.

Farhan memijat pelipisnya, "Tidak, Saka. Biar kapten Liam saja yang mewakili. Dari awal itu adalah kasus tim satu."

Saka mengangguk paham. Sejenak pandangannya teralihkan oleh segelas kopi tak tersentuh di atas meja sang kapten. Beberapa camilan seperti kue, roti dan bubur juga ada. Hanya saja yang menarik perhatiannya adalah makanan tersebut tidak lagi bisa di makan. Itu menumpuk sejak beberapa hari yang lalu.

"Cap, maaf ya, itu makanan kayaknya udah basi. Nggak dibuang aja?" Tanya Saka dari tempat duduknya.

"Akan saya buang nanti, Saka."

"Oke, Cap."

Kemudian dengan wajah lelahnya, Farhan pamit untuk keluar ruangan dengan alasan mendinginkan kepala. Izul mendorong kursinya mendekat ke meja Saka setelah Farhan tak lagi terlihat. Jati, Mirna, Ayu dan Mai melakukan hal yang sama. Ada sesuatu yang membuat mereka penasaran.

"Eh, kapten Farhan sama dokter Juan ada apaan?" Tanya Jati langsung pada intinya.

"Apanya yang 'ada apaan'? Dari awal mereka nggak ada apa-apa," jawab Mai.

"Tapi kali ini beda, Mai!" Tukas Ayu. Lengkap dengan wajah khas wanita itu ketika sedang mengghibah.

"Sama aja. Dokter juan seperti biasa nggodain Farhan, terus ditolak. Itu biasa, kan?"

"Iya, yang itu biasa. Tapi reaksi Cap yang nggak biasa." Kali ini Izul yang menjawab, menatap sekilas arah meja Farhan. Takut jika tiba-tiba sang kepala detektif tim dua muncul di sana.

Mirna berbinar seakan menemukan seseorang yang mengerti diri ya, "Eh, lo nyadar juga. Gue pikir cuma gue aja yang ngerasa gitu. Kayak Cap lagi jaga jarak gitu nggak, sih?"

Izul, "Iya. Mana mukanya juga sepet banget. Untung ganteng."

Saka, "Bukannya dari dulu muka Cap emang gitu, ya?"

"Saka diem aja, deh!"

"Udah gitu coba lihat di atas meja Cap! Semua yang dokter Juan kasih nggak ada yang dijamah," tunjuk Mirna pada meja kerja Farrhan.

"Sampai basi gitu. Kenapa, ya?" Tanya Ayu heran.

Jati, "Mungkin Cap udah capek sama kelakuan dokter Juan. Di sini ngejar-ngejar Cap, tapi di luar sana masih aja sama yang lain."

"Yang lain itu siapa?" Tanya Saka.

Ayu, "Gue kalo jadi Cap juga capek, sih."

Mirna, "Iya, kan? Harusnya dokter Juan itu sadar diri, kalo emang Cap Farhan nggak suka sama dia." Komentarnya membuat semua mata tertuju padanya. Pasalnya, hampir semua penghuni kepolisian tahu jika Mirna dan Ayu adala penggemar setia dokter Juan. Dan penggosip setianya juga tentu saja.

Ayu, "Gue pikir lo suka sama dokter Juan? Just like me!"

Mirna, "Makanya gue bilang buat dia sadar diri. Cap Farhan nggak suka sama dokter Juan. Jadi mending sama gue aja gitu."

"Asu lo!"

"Lah bener, kan?! Laki petantang-petenteng modelan dokter Juan cocokan juga sama gue. Kalau Cap Farhan mana suka," lanjut Mirna.

"Oohh. Jadi itu yang bikin dek Farhan jadi menghindar? Karena gue nggak sadar diri? Petantang-petenteng?" Tanya seseorang setengah berbisik seolah-olah bagian dari kelompok yang sedang berdiskusi.

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang