Gelap.
Dingin.
Sesak.
Udara di sekitar Juan terasa begitu tipis, begitu dingin, dan begitu mematikan. Seluruh tubuhnya terbungkus sutra yang melilitnya tebal, dari ujung kaki hingga ke atas kepala. Menyisakan lubang hidungnya yang bahkan sulit untuk digunakan mengais udara. Mulutnya terkunci rapat tanpa celah untuk berteriak.
Suaranya terkubur di tenggorokan, tercekik bersama desakan ketakutan yang semakin menyesakkan.
Juan tidak begitu ingat bagaimana ia berakhir di tempat ini. Terakhir kali ia dikepung oleh anggota Viper setelah menghabisi sebagian dari mereka di ruang pusat data. Ketika mencoba kabur melalui celah kecil manusia, rasa panas di punggung melumpuhkannya. Ia melihat Kevin berjalan menuju arahnya dengan pistol di tangan.
Rasa panas yang dengan cepat menyebar di punggungnya membuat Juan hilang kesadaran. Samar-samar ia mendengar percakapan beberapa orang:
"...bos suka dia pakai warna merah .."
"..peti...siap..."
"...kenapa nggak dibunuh aja?"
"Mana gue tau?"
"Nggak usah banyak bacot! Bos nyuruh kita buat biarin dia hidup."
"Aneh memang si bos. Kalau ditembak gini, siapa yang masih bisa hidup. Sebentar lagi paling dia mati."
"Memang bos udah dapat 'itu'?"
"Targetnya berubah. Yang ini terlalu sulit."
"Ayo cepat..."
Setelahnya Juan benar-benar tidak bisa mendengar lagi. Dan saat terbangun, ia sudah berada di dalam sebuah benda kotak dingin. Dengan tubuh terasa seperti mati. Tidak bisa bergerak barang sesenti. Juan panik. Ia melihat sekitar dengan bola matanya yang terasa panas.
"Karena kamu sangat menyukai warna merah, aku secara pribadi sengaja memilih sutra ini untuk membungkusmu, baby. Supaya nanti di dalam peti kamu tidak kedinginan. Dan tentu saja merah akan membuatmu tampak berbeda dari mayat lainnya," ujar Kevin mengusap pipi Juan.
"Kamu sakit!!" Desis Juan susah payah.
Kevin menggeleng, "ini yang namanya selera, baby. Dan untukmu yang keras kepala, aku akan membuat tubuhmu ikut mengeras bersama kepalamu.
"...fuck!"
"Harusnya kamu bersyukur aku masih memberimu kematian yang indah dengan menguburmu di peti jenazah. Aku biasanya tidak sebaik ini, you know that?"
Juan ingin berteriak dan meminta pertolongan. Namun ia sadar di mana ia berada sekarang. Di tempat banyak orang dengan komunikasi lancar saja Juan diabaikan, apalagi di tempat yang notabennya sarang ular? Siapa yang akan menolongnya?
Kevin tersenyum liar, "Tidak perlu bersusah payah, Han Joowan. Nikmati saja perjalanan singkatmu menuju kematian."
"...raf..rafles..sia... Kamu menginginkan...benda itu...kan?"
"Ya, kamu benar. Tapi dari pada itu, aku lebih menginginkan kematianmu. Lagipula, bukan cuma kamu yang bisa memecahkan sistemnya. Masih ada Bryan."
Sial. Juan benar-benar tidak bisa memikirkan cara untuk keluar. Lilitan kain ini benar-benar sangat rapat dan tebal. Menyulitkan setiap gerakan.
"Aku tidak punya banyak waktu. Mereka pasti akan datang sebentar lagi. Selamat tinggal, baby doll. Sampai bertemu di neraka," sambung Kevin sebelum meninggalkan Juan.
"Aku bersumpah jika menemukanmu di neraka, akan aku potong tubuhmu sedikit demi sedikit untuk kusajikan pada anjing penjaga neraka!"
Juan tidak lagi bisa bicara ketika seseorang membungkam mulutnya. Melilitnya dengan sutra merah berlapis tebal. Menyisakan hanya matanya yang bergerak gelisah. Tak lama matanyapun ditutup sehelai sutra panjang. Membuatnya tidak bisa melihat apapun di luar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romance"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)