Bab ini mengandung konten dewasa. Semua yang ada di sini untuk kepentingan cerita. Jangan sekali-sekali berniat untuk mempraktikkannya di dunia nyata. Bijaklah ketika bembaca.
Read at your own risk.
Selamat membaca.
___________________________________
Cahaya matahari yang telah meninggi masuk melalui celah jendela tepat di samping tempat tidur Farhan. Membuat matanya yang masih terpejam mengerjap tidak nyaman. Secara insting pria itu mencoba menggunakan tangannya untuk menghalau sinar datang. Namun saat mengangkat, rasa sakit seperti sengatan menusuk punggung tangannya.
Farhan mengerjap lagi, mencoba sekuat tenaga untuk membuka perlahan matanya. Cahaya lebih terang meyerbu masuk sekaligus, membuat denyutan di kepala kembali terasa.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Pria di atas tempat tidur itu terbatuk beberapa kali sebelum membantu dirinya sendiri untuk mengambil posisi duduk. Mengamati sekitar, Farhan lega ia berada di kamar dan bukan terkapar di jalan raya. Karena seingatnya, sakit itu telah menyerang di separuh perjalanan pulang. Ia bahkan tidak ingat bagaimana caranya sampai dengan selamat.
Melihat punggung tangannya yang baru saja terasa tertusuk, ada jarum dengan selang yang terhubung pada cairan infus, tergantung di ujung jendela. Farhan menyisiri pandangan mencari ponselnya.
"Udah bangun?" Tanya seseorang yang baru memasuki kamar. Siluetnya tidak tampak jelas karena serbuan cahaya siang juga pandangan Farhan yang masih arang-arang.
"You good?" Tanya orang itu lagi.
Kali ini ia mendekat hingga Farhan dapat melihatnya dengan sangat jelas.
Juan dengan hati-hati menyentuh dahi Farhan. Memasukkan ujung termometer dalam telinganya. Hingga bunyi 'tiit' dari benda itu terdengar. Sekaligus menyadarkan Farhan dari kelinglungan.
"All's good. Masih pusing, nggak?" Tanya Juan lagi. Kendati tidak mendapati jawaban dari Farhan, ia menimpali, "oh. Nggak heran, sih. Lo udah nggak sadar hampir dua hari."
Dua hari? Yang benar saja?! Ia tidak sadar selama dua hari hanya karena demam?!
"Jangan bikin muka heran gitu. Lo deman tinggi, asam lambung naik sama dehidrasi. Kalau lo masih nggak sadar waktu gue masuk barusan, gue pasti udah bawa lo ke rumah sakit buat cek CT sama tes darah. Takutnya ada penyakit yang lebih parah. Tapi lihat lo udah bangun gini, sedikit mengurangi kekhawatiran gue."
"Terima kasih," ucap Farhan pelan, hampir tidak terdengar.
Namun Juan tentu masih bisa mendengarnya dengan jelas. "No need. Yang penting lo sehat dulu. Gue udah telpon Saka buat mintain lo izin cuti sakit sampai dua hari ke depan. Poljen Atmaja juga udah gue kabarin. Jadi fokus buat recovering aja, oke."
Mendengar penjelasan dokter Juan, Farhan benar-benar tidak enak hati. Ia merasa tidak bisa menjaga tubuhnya sendiri. Hingga harus merepotkan orang-orang di sekitarnya.
"Makan dulu. Gue pesen ini tadi pagi. Udah gue hangatin sejam yang lalu. Masih enak, kok." Juan menyodorkan semangkuk bubur ayam sayur dan berniat menyuapkan satu sendok padanya.
Namun farhan menolak dengan alasan kerongkongannya sakit dan lidahnya tidak bisa merasakan apapun.
"Alasan klasik. Lo harus makan, apapun alasannya. Gue nggak mau, ya, badan seksi berotot lo tiba-tiba nyusust," paksa Juan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Roman d'amour"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)