Case 42

1.8K 142 19
                                        

"Hasil pemeriksaan Dokter Juan untuk sementara, belum bisa dikatakan baik. Meskipun kondisinya terbilang stabil, kami masih perlu mengobservasi jantung dan paru-parunya," ujar Dokter Zein.

"Apa ada masalah dengan itu?" Tanya Tuan Atmaja.

"Hipotermia berat yang berujung pada henti jantung seringkali menyebabkan kecacatan pada dua organ bersangkutan. Kami mencoba untuk melepas alat bantu pernapasan pada Dokter Juan kemarin, dan hasilnya dia masih sangat kesulitan. Karena itu, mungkin perawatan berikutnya akan lebih lama."

"Bagaimana dengan luka tembaknya?"

"Lukanya cukup dalam, tapi tidak ada masalah dengan itu."

Juan mendengarkan pemaparan dokter tentang kondisinya pada Tuan Atmaja. Tidak terlalu terkejut karena sejujurnya ia juga merasa tubuhnya tidak baik-baik saja. Namun bukan itu yang membuat pikiran Juan rumit karena penasaran.

Ada sesuatu yang aneh dengan dirinya setelah melewati kematian dan terbangun dari tidur panjang. Sebuah perasaan asing yang mengganjal hatinya. Membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

"Lo butuh sesuatu, Ju?" Tanya Hasta.

Juan menggeleng, tersenyum lemah.

Seperti itu misalnya. Ketika orang-orang di sekitar menunjukkan kepedulian padanya. Juan akan merasa sebuah batu besar baru dilemparkan ke dadanya. Membuat ia merasa sesak. Dan Juan tidak tahu harus bagaimana.

Di sisi lain, Ranu juga merasakan hal yang sama. Ia merasa Juan lebih pendiam dari biasanya. Saudara kembarnya itu sering kedapatan merenung sendiri. Dan ketika ditanya, ia hanya akan menjawab dengan 'ya' atau 'tidak'. Terkadang hanya senyuman dan gelengan kepala.

Yang lebih membuatnya heran adalah ketika Farhan memeluknya beberapa waktu lalu. Juan yang biasa tentu akan senang jika dipeluk oleh orang yang sangat dicintainya. Tapi waktu itu, Juan hanya tersenyum lemah dengan tatapan kosong di matanya. Pria itu bahkan tidak membalas pelukan Farhan. Membuat Ranu bertanya-tanya, ada apa dengan Juan sebenarnya?

"Lo mau ngapain, Ju?" Tanya Shindu lembut ketika melihat Juan hendak turun dari tempat tidur dan berpegangan pada tiang infus.

"Kamar mandi," jawab Juan pelan.

Wajahnya sedikit meringis karena merasa sakit pada bekas luka di punggungnya. Shindu dan Hasta bergerak bersamaan, berniat membantu adik mereka turun dari tempat tidur dan ke kamar mandi.

Namun saat tangan Shindu menyentuh lengannya, Juan menepis pelan dan sedikit mundur ke belakang. Shindu terkejut. Begitu pula dengan Hasta dan Ranu. Dan yang lebih terkejut, tentu saja Juan.

Pria sakit itu tidak tahu kenapa tiba-tiba ia menepis tangan Shindu yang mencoba membantunya. Juan hanya merasa harus melakukannya.

"Maaf. Gue bisa sendiri," ucap Juan. Ia tersenyum canggung dan tidak bisa menatap mata Shindu.

Kebetulan seorang perawat datang untuk pemeriksaan rutin di pagi hari. Dan ketika perawat itu membantu Juan, tidak ada penolakan sama sekali.

Ah, Ranu mengerti sekarang.

Juan menghindari mereka. Pria itu pasti merasa kecewa karena sebelumnya mereka tidak mempercainya. Menyalahkan bahkan mengabaikannya hingga membuat Juan celaka.

"Apa yang harus gue lakuin, baby?" Tanya Ranu pada Saka saat tengah berdua di apartemen yang lebih tua.

Saka mengelus surai hitam Ranu yang tidur di pangkuannya.

"Gue juga nggak tau, mas. Tapi kalau gue yang ada di posisi Dokter Juan, mungkin gue butuh waktu sendiri," jawab Saka.

"Gue—kami nggak bisa biarin dia sendiri lagi."

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang