Case 04

3.1K 197 27
                                        

"Kalau kita lihat dari motifnya, besar kemungkinan pelakunya adalah mantan kekasih korban, Panca." Ujar Izul menunjuk foto seorang pria yang tertempel pada papan putih di sampingnya.

"Tapi dia punya alibi di waktu perkiraan kematian korban. Ada beberapa saksi juga yang memperkuat alibinya," sanggah Farhan.

Beberapa orang lain di dalam ruangan itu mengangguk sembari melihat hasil laporan sementara di tangan mereka.

Izul kembali mengeluarkan pendapatnya dengan yakin, "Apa mungkin si Panca ini ngebayar orang-orang itu buat jadi saksinya? Saya yakin banget kalau Panca ini pelakunya, Cap."

"Ada rekaman CCTV, Zul. Lagi, keyakinan aja nggak cukup buat nangkap pelaku. Kita butuh bukti yang valid."

Kali ini kapten tim satu, Liam, yang menanggapi. "Gimana laporan hasil autopsinya?" Lanjut pria itu.

"Belum ada laporan dari pihak forensik. Proses autopsi memakan waktu yang lebih lama karena sempat ada penolakan dari keluarga korban. Namun dari hasil autopsi sementara di lapangan saat jasad ditemukan, ada tiga sidik jari berbeda yang tertinggal di tubuh korban. Dari pencocokan, diketahui salah satunya memang milik Panca. Dua lainnya tidak atau belum terindentifikasi," jawab Saka sesuai hasil laporan di tangannya.

Farhan, "Ya, saya juga mendapat laporan itu dari tim forensik tadi pagi."

Mai, "Jadi kita harus gimana, Cap?"

Liam, "Kita selidiki lagi orang-orang ini. Pastikan buat nggak melewatkan hal sekecil apapun. Cari juga keterangan dari orang terdekat korban, tanpa terkecuali."

"Izul dan Saka tolong bantu anggota tim satu di lapangan. Jati dan Mai kumpulkan berkas kasus serupa dari sepuluh tahun terakhir," ujar Farhan menginstruksi anggota timnya.

"Siap, Cap!"

"Saya akan ke rumah sakit kepolisian untuk memeriksa kelanjutan autopsi korban," lanjut Farhan lagi.

Liam mengangguk setuju, "Oke. Kabari saya jika menemukan sesuatu."

"Baik."

Rapat gabungan antara tim satu dan tim dua berakhir dengan instruksi bubar dari Kapten Liam. Beberapa keluar untuk mencari bukti di lapangan, sisanya berkutat dengan berkas kasus dalam ruang penyimpanan. Dan di sinilah Farhan, rumah sakit kepolisan. Wilayah kerja dokter Juan. Pria yang baru tadi pagi memberikan brownies untuknya.

Tubuh tingginya Farhan sandarkan pada dinding di depan ruangan Juan. Menunggu pria yang lebih tua untuk menghampirinya sebelum masuk ke dalam. Padahal Juan sudah memintanya untuk masuk melalui pesan singkat. Namun Farhan tidak menyukai ide untuk masuk tanpa pemilik ruangan. Apalagi itu bukan area kerjanya.

"Dek Farhan!"

Farhan menoleh. Juan sedikit berlari dari ujung koridor menuju dirinya. Membuat surai hitam pria itu berayun-ayun saat terkena angin tipis dan guncangan dari tubuhnya. "Apa rambutnya selalu tampak halus seperti itu?"

"Sorry lama. Gue masih ada rapat sama staff dan beberapa petinggi rumah sakit," jelasnya. Farhan mengangguk sembari mengenyahkan pemikiran aneh yang baru saja melintas di kepalanya.

Juan membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Farhan masuk. Ia menyusul di belakangnya. Mereka mengambil tempat duduk bersebelahan di sofa depan meja kerja. Lebih tepatnya, Juan yang mendekat setelah Farhan duduk di salah satu sisi sofa. Mengambil kesempatan dalam kesempitan.

"Terima kasih atas laporan yang anda berikan pagi tadi, dokter. Itu sangat membantu memperkuat keyakinan kami tentang pelaku pembunuhan Henry Shu. Dan sekarang, beberapa dari tim dua telah menangkap dan mengintrogasi mereka."

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang