Case 13

2.4K 184 10
                                        

Tepat beberapa hari setelah pembicaran Farhan dengan Poljen Atmaja dan Komandan Haris, surat peralihan penanganan kasus diterbitkan. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa pihak kepolisian menyerahkan kasus itu sepenuhnya kepada Badan Intelejen Negara. Tidak dituliskan secara spesifik apa alasannya. Hanya demi keberlangsungan institusi kepolisian.

"Jadi, kita udah nggak harus celupin tangan kita ke perkara ini lagi, kan?" Tanya Jati usai membaca surat putusan.

"Ya," jawab Farhan singkat.

Farhan sudah menduga akan hal ini setelah pembicaraan mereka malam itu. Ia menolak ide untuk bergabung dengan penyidik khusus Badan Intelejen Negara. Karena ia yakin timnya dapat menyelesaikan kasus itu sendiri. Sama seperti kasus-kasus sebelumnya. Namun ternyata penolakan Farhan benar-benar berujung pada surat putusan tersebut.

Sebenarnya bukan tidak mungkin jika Farhan turut bergabung dengan tim dari BIN. Hanya saja itu artinya ia harus berada di bawah pengawasan Poljen Atmaja. Pria yang digosipkan mensponsori Dokter Juan. Farhan tidak ingin percaya akan rumor dan jelasnya tidak ingin hal pribadi memengaruhi penilaiannya. Namun perasaannya tetap tidak senang akan hal itu.

Apalagi dengan sikap Dokter Juan yang mulai ketus padanya saat terakhir mereka bertemu. Memang itu baru pertama Farhan dapatkan dari pria yang lebih tua. Dan jika ia berpikir positif, mungkin itu karena dokter Juan lelah dengan pekerjaan sehingga memengaruhi suasana hatinya. Seperti para perempuan yang ada di dalam departemennya.

Tapi Juan itu pria.

"Aahh... Akhirnya bisa istirahat juga... Uugghhh," ujar Izul sembari meregangkan tubuhnya.

Menyelidiki kasus yang buntu selama lebih dari satu minggu membuat duda tampan itu lelah secaraa fisik dan mental. Karenanya saat surat putusan itu keluar, semua beban dalam hidupnya seakan terangkat dan tubuhnya menjadi ringan.

Tapi tidak dengan Farhan. Masih ada hal yang mengganjal pikiran pria itu. Pun juga perasaan tidak rela untuk menyerah. Itu seperti menodai hasil kerja kerasnya, melukai harga dirinya.

Oleh karena itu, di sinilah Farhan sekarang. Markas Besar Kepolisian, tempat Poljen Atmaja menjabat dan berwenang.

"Apa saya boleh berasumsi jika anda berubah pikiran, Kapten Farhan?" Tanya Poljen Atmaja.

Farhan, "Apakah terlihat sangat jelas?"

"Yah, anda begitu minim ekspresi. Jadi sedikit ambisi di wajah anda bisa sangat jelas terlihat," jawab pria yang lebih tua.

"Saya akan bergabung dengan penyidik khusus dari BIN untuk menyelidiki kasus ini. Karena bagaimanapun, ini adalah kasus yang harusnya ditangani tim dua. Saya tidak bisa melepasnya begitu saja," jelas Farhan.

Poljen Atmaja mengangguk mengerti, "baiklah. Namun yang perlu anda pahami, kasus ini tidak boleh sampai bocor ke permukaan sebelum benar-benar tuntas sampai ke persidangan."

Farhan memerhatikan apa yang pria tua itu katakan. Sembari meminum tehnya, Poljen Atmaja melanjutkan, "anda juga tidak boleh memberitahu siapapun jika anda bergabung dengan penyidik khusus. Ini akan menjadi rahasia. Dan untuk membuat anda nyaman, silahkan pilih salah satu anggota tim dua atau tim lain yang bisa anda ajak bekerja sama. Tentunya orang yang benar-benar anda percaya. Jika tidak ada, tidak masalah."

"Saya mengerti."

Poljen Atmaja mengeluarkan sebuah ponsel hitam polos dari dalam meja kerja. Meletakkan benda tersebut di hadapan Farhan, sembari berkata, "pakai ini untuk berkomunikasi dengan anggota penyidik khusus. Dan datanglah ke tempat yang akan dikirimkan lewat pesan di sana."

"Saya mengerti."

Setelah mengatakan beberapa patah kata, kapten tim dua itu memohon undur diri. Sementara Poljen Atmaja tersenyum puas melihat rencananya sedikit demi sedikit mendekati keberhasilan.

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang