Juan tidak pernah mempertanyakan tentang suatu kebenaran berkali-kali dalam satu hari, selama tiga puluh tujuh tahun hidupnya. Namun selama dua minggu terakhir ini ia melakukannya. Bertanya, "ini beneran?", atau, "gue nggak lagi mimpi, kan?", sambil menampar pelan pipi atau mencubit lengannya sendiri.
Alasannya hanya satu-Farhan.
Kepala detektif tim dua dari departemen reserse kriminal dan narkoba. Pria dengan surai cepak yang telah diperbarui itu sudah dua minggu ini sering berkeliaran di rumah sakit kepolisian. Dengan alasan mendiskusikan tentang kesus yang tengah mereka tangani.
Padahal Juan sudah mengirimkan hasil pemeriksaan forensik dari setiap kasus kriminal yang terjadi selama dua minggu terakhir lewat surel. Ia yakin telah menuliskan laporannya dengan sangat terperinci dan mudah dipahami. Hal itu membuat Juan jadi berpikiran yang iya-iya. "Iya, dia mulai suka sama gue," atau, "iya, dia mulai tertarik sama gue".
Apa bedanya?
Namun dari pertanyaan-pertanyaan juga pikiran-pikiran dalam kepalanya, Juan yakin akan satu hal. Farhan tidak lagi menghindar seperti sebelum kepergiannya ke Korea Selatan.
"Apa anda butuh sesutu?" Tanya Farhan ketika melihat Juan berdiri dari sampingnya.
Juan tersenyum sedikit kikuk, "gue mau ke kamar mandi."
Farhan turut berdiri dan segera mengambil kruk Juan di samping pria itu. Memerhatikan sang dokter berjalan hingga menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sepertinya Farhan terlalu mengambil hati ucapan Juan tentang berbaik hati padanya yang tengah sakit ini. Bukannya Juan tidak suka. Justru sang dokter itu suka sekali. Hingga sering kali ia lupa bagian mana dari tubuhnya yang sakit. Kaki atau pipi. Karena rasanya tulang pipinya sakit sejak ia terlalu banyak tersenyum.
Ah, bicara tentang kaki. Sebenarnya ini adalah minggu terakhir untuknya menggunakan kruk. Dokter spesialis ortopedinya telah menyatakan bahwa Juan siap mengganti kruknya dengan tongkat yang lebih sederhana.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Selama dua minggu terakhir, perkembangan rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi dan kemampuan gerak kaki kanannya, berjalan dengan sangat baik. Ia bahkan telah melepas gipsnya minggu lalu.
Juan senang? Tentu saja. Namun ada perasaan tidak rela juga dalam hatinya. Ia tidak rela jika kesembuhannya membuat Farhan kembali seperti setelan awal. Dingin dan tidak berperasaan. Yang jelasnya itu ditujukan hanya untuk Juan.
"Apa anda sudah memilih tongkat yang sesuai?" Tanya Farhan.
"Gampang itu. Di rumah ada beberapa punya istrinya ayah," jawab Juan. Ia melewatkan ekspresi bingung Farhan atas jawabannya.
Dokter forensik itu berpikir bagaimana caranya untuk tetap mendapat perhatian dari Farhan setelah kesembuhannya. Berpura-pura sakit bukanlah rencananya. Itu hanya akan mempersulit Juan saja. Tapi kalaupun tidak ada cara, sebenarnya Juan hanya tinggal kembali juga pada setelan awal. Mengejar Farhan di kantor kepolisian.
"Saya akan mengantar anda untuk pemeriksaan kembali minggu depan."
"Hmm..." Juan berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "sorry, dek. Tapi gue udah janji sama seseorang buat pemeriksaan minggu depan."
Farhan mengernyit karena ini pertama kali dokter Juan menolak niat baiknya. Ada sedikit perasaan tidak suka dalam dirinya. Sedikit. Hanya sedikit. Namun saat melihat raut menyesal dokter di samping, Farhan menormalkan kembali perasaannya. Itu tidak seperti dokter Juan hanya memilikinya untuk bersandar, kan?!
"Oke."
Juan, "lo nggak marah, kan? Gue, tuh, juga mau banget lo temenin, dek. Cuma, itu orang udah keburu bikin janji sama dokter gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romansa"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)