Case 18

2.2K 156 12
                                        

"Kenapa gue nggak bisa autopsi jasad korban lapas ketiga? Surat izinnya, kan, udah ada?!" tanya Juan frustasi.

Terang saja. Pagi ini, surat izin untuk tindakan autopsi korban ketiga pembunuhan di lapas telah keluar. Namun ketika Juan bersiap melakukan tindakan, beberapa petugas dari tim penyelidik khusus menghalanginya. Mengatakan jika dokter forensik yang bertanggungjawab atas tindakan adalah Dokter Baskara. Dokter forensik senior, yang bahkan jam terbangnya tidak melebihi Juan.

"Maaf, Dokter Juan. Anda secara resmi dilarang untuk menyentuh jasad yang berhubungan dengan kasus ini lagi," ujar salah satu petugas dari tim penyelidik khusus.

"Kalian udah ngomong itu berkali-kali kayak kaset rusak. Kasih gue alasannya for god sake!" Kekeuh Juan.

"Dokter Juan! Anda seharusnya tidak mengganggu proses penyelidikan dengan mempertanyakan kebijakan atasan. Biarkan mereka melakukan tugasnya, dan anda juga seharusnya melakukan hal yang sama," saran Dokter Baskara yang baru saja datang bersama beberapa asistennya. Tampilannya sudah sangat siap untuk melakukan pembedahan kapan saja.

"Ju. Mending lo mundur dulu. Lo bisa kena sp kalau sampai menghalangi proses autopsi," saran Dara mengapit lengan Juan. Berusaha menariknya agar pergi dari ruang tindakan.

Juan mau tidak mau mengikuti Dara. Keluar dari ruang tindakan menuju ke ruangannya.

"Gue tau lo kesel, tapi jangan sampai kekesalan lo ganggu autopsi. Itu kode etik kita, Juan!" Ucap Dara mengingatkan.

Juan, "Tapi ini kasus gue! Dari awal gue yang periksa jasadnya."

Dara menghela napas, "Bukan kita yang nentuin ini kasus siapa, Ju."

Wanita itu membuka lemari pendingin mini di bawah meja kerja Juan dan mengambil dua botol air mineral. Wanita itu membuka satu untuk disodorkan pada Juan, "Tugas kita cari tau penyebab kematian jasad yang ditugaskan buat kita. Kalaupun di TKP lo yang periksa, di ruang operasi Dokter Baskara—ya, lo harus terima dan bantu. Kasih laporan pemeriksaan lo ke dia kalau perlu."

Juan, "Gue tau, cuma—"

"Karena Farhan?" Tanya Dara cepat.

Bingo!

Juan tidak akan berbohong ini untuk kepentingan korban atau keluarga atau tentang keadilan. Karena itu memang sudah pasti hal pertama yang harus ahli forensik lakukan. Namun untuk bersikeras menangani sesuatu yang telah dipindahtangankan secara sah dan sesuai ketentuan memang Farhan alasan Juan.

Dokter tampan itu ingin setidaknya memiliki kontribusi besar dalam kasus yang ditangani kapten tim dua. Apalagi pria cepak kesayangannya rela bergabung dalam tim penyelidik khusus untuk kasus ini. Jika Juan tiba-tiba dipaksa lepas tangan, itu artinya ia tidak lagi bisa bekerja sama dengan Farhan.

Terdengar konyol memang, tapi mau bagaimana lagi? Juan memang sesuka itu kepada Farhan. Perjalanan kejar-mengejar yang awalnya hanya ketertarikan biasa kini berkembang menjadi sesuatu yang luar biasa.

Apa itu cinta? Mungkin saja. Juan hanya tahu, ia tidak menginginkan orang lain selain Farhan.

"Lo bener. Gue harus kooperatif," ucap Juan menyerah.

"Gitu, dong!" Balas Dara bangga.

Wanita seksi dan montok itu mengangkat botol air minum miliknya, memberi sinyal Juan untuk melakukan hal yang sama. Dengan cengiran khasnya, Dara bersulang untuk mereka berdua. Juan terkekeh, menggeleng pasrah dan meladeni tingkah sahabatnya.

Farhan di sisi lain tengah disibukkan oleh laporan-laporan yang tidak ada hentinya. Mulai dari kasus lama yang baru saja selesai persidangan atau masih dalam proses. Membuat kapten tim dua itu hampir tidak memiliki waktu untuk dirinya. Bahkan untuk sekedar kopi pahit dan gorengan di pagi hari.

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang