Bab ini mengandung konten dewasa. Semua yang ada di sini untuk kepentingan cerita. Jangan sekali-sekali berniat untuk mempraktikkannya di dunia nyata. Bijaklah ketika bembaca.
Read at your own risk.
Selamat membaca.
__________________________________
Hujan lebat di luar membuat Farhan menghentikan sejenak kegiatannya menonton rekaman terkait penyelidikan. Waktu menunjukkan sepuluh menit lewat tengah malam. Gelegar petir disertai cahaya kilat menjadi musik latar belakang.
Tok
Tok
Tok
"Ya?" Jawab Farhan berjalan untuk membuka pintu. Ia bertanya ketika melihat sang ayah berdiri di sana, "Ada apa pak?"
"Mas, bapak sama ibu mau ke rumah sakit," ujar Pak Burhan.
"Bapak sakit? Atau ibu?" Tanya Farhan cemas.
"Bukan kami. Tetangga kita—Pak Broto— kondisinya kritis setelah dua hari di rumah sakit. Anaknya—Imelda—minta tolong bapak sama pak Susmito buat jaga-jaga kalau ada apa-apa. Ibumu minta ikut karena kasian sama Imel. Jadi sekarang bapak, ibu, pak Susmito sama istrinya mau ke rumah sakit," jelas pak Burhan.
"Aku antar, ya, pak. Udah malam gini, hujan lagi," tawar Farhan yang hendak mengambil jaket serta dompetnya.
Namun Pak Burhan segera menghentikan putranya itu, "ndak usah. Kamu istirahat aja. Mungkin kami nginap di rumah sakit, sampai keluarga besar Pak Broto yang dari Kalimantan datang."
Farhan mengangguk, "hati-hati, Pak."
"Jaga rumah, ya, mas."
Setelahnya, Farhan melihat kedua orang tuanya pergi bersama dengan mobil milik Pak Susmito. Meskipun rumah dinas kepolisian ini tidak besar dan mewah, namun para penghuninya sangat menjaga kekeluargaan. Saling mengayomi dan toleransinya tinggi.
Keluarga Pak Broto dan Pak Susmito misalnya. Dua orang pensiunan polisi satu angkatan di atas Pak Burhan, ayahnya, yang telah menjalin pertemanan sangat lama. Saling menjaga dan membantu dikala susah. Benar-benar kehidupan harmonis yang lebih berharga dari apapun.
"Semoga Pak Broto nggak kenapa-napa," guman Farhan berdoa.
Tak lama dari kepergian kedua orang tuanya, pintu depan rumah pria itu diketuk. Farhan mengira itu adalah orang tuanya yang mungkin memiliki sesuatu yang tertinggal, dan kembali untuk mengambilnya. Tapi anehnya, ketukannya cukup keras dan terkesan buru-buru.
Lagipula, jika itu adalah ayah dan ibunya, untuk apa mereka mengetuk? Bukankah mereka memiliki kunci rumah juga?
Suara ketukan yang semakin mengganggu membuat Farhan mempercepat langkahnya. Membuka sedikit tirai jendela samping pintu untuk melihat tamu malamnya.
"Dokter Juan? Ada apa malam-malam begini— Tunggu. Kenapa anda basah kuyup?" Tanya Farhan sedikit khawatir.
Juan hanya berdiri di sana dengan tubuhnya yang basah. Wajah pria itu tampak mencemaskan sesuatu—atau mungkin banyak. Jemarinya bergerak gelisah.
"Gue perlu ngomong sesutu. Penting," ucap Juan dengan bibir bergetar. Mungkin kedinginan.
"Masuk dulu. Kita bicara di dalam," ajak Farhan.
Ia menuntun Juan untuk masuk ke dalam rumah dan mengunci kembali pintunya. Ini sudah lewat tengah malam, tidak akan baik jika ada tetangga yang melihatnya menerima tamu dan berbicara di luar. Hal lain yang membuat Farhan menerima Juan di dalam rumahnya adalah ekspresi dokter itu. Sepertinya apa yang ingin dibicarakan olehnya memang sangat penting.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romantizm"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)