Case 19

2.1K 140 9
                                        

Juan kembali gelisah. Sejak hari Farhan menginap di kediaman Atmaja, pria itu lagi-lagi mendorong pergi dirinya. Kebiasaan buruk kapten tim dua yang tidak pernah bisa Juan mengerti alasannya.

Maksud Juan, jika memang Farhan merasa tidak nyaman akan sesuatu tentangnya, bisa, kan, dibicarakan? Dengan begitu, Juan akan mengerti dan bisa memperbaiki. Mungkin juga ia bisa lebih berhati-hati.

Tapi jika Farhan sedikit-sedikit menghindar, sedikit-sedikit menjauh, Juan jadi bingung sendiri. Tersesat sendiri. Itu melelahkan sekali.

"Kenapa membuat ekspresi gundah seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan, Joowan-ah?" Tanya Hyukjae setelah menghampiri Juan yang berdiri termenung di balkon apartemen.

Menghela napas berat, Juan balik bertanya, "Hyung. Apa yang kamu rasakan saat aku berkali-kali menolakmu?"

Hyukjae menoleh, "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

Juan, "Rasanya sangat menyebalkan, kan? Kamu lelah, tapi hatimu terus memaksa. Sampai sesak sekali rasanya. Benar, kan?"

Hyukjae mengalihkan pandangan. Menatap langit gelap tanpa bintang, sama seperti yang dilihat Juan.

"Hmm. Itu benar. Tapi aku sama sekali tidak menyesal."

"Wae?" Tanya Juan pelan.

"Perasaanku tidak salah. Penolakanmu juga tidak. Usahaku juga bukan tidak ada artinya. Setidaknya, kamu tahu ada aku yang mencintaimu di dunia ini. Tentang siapa yang akan bersamamu nanti, aku tidak peduli. Selama itu orang yang kamu sukai. Tapi tentu saja jika orang itu aku, akan lebih bagus lagi," jawab Hyukjae.

Juan terpaku untuk sesaat sebelum menjawab, "Itu kata-kata yang bagus. Tapi aku nggak bisa bilang begitu ke orang yang aku suka."

"Karena kamu ingin dia hanya berakhir denganmu, benar?" Tanya Hyukjae.

Mengangguk, Juan menjawab, "Hmm. Apa aku egois?"

Hyukjae, "Tidak. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengungkapkan cintanya. Dan kebetulan caramu adalah dengan menjadikan orang itu milikmu."

Juan, "Kenapa kamu nggak melakukan hal yang sama? Dengan menjadi egois maksudku."

"Kenapa, ya?" Balas Hyukjae balik bertanya. Juan memiringkan sedikit kepalanya, membuat Hyukjae mengusap sisi wajah pria yang lebih muda, "karena aku terlalu mencintaimu. Dan menjadi egois bukan hal yang akan membuatmu balik mencintaiku."

Juan, "Kamu benar."

"Tidak apa-apa menjadi egois untuk sementara waktu, Joowan-ah. Asal kamu tau kapan harus berhenti. Jangan sampai keegoisan itu menyakitimu, atau orang yang kamu cintai," ucap Hyukjae memberi saran. Suaranya berat namun juga lembut untuk suatu alasan. Membuat Juan merasa aman.

Juan sesikit mendongak, "Hyung? Bisakah aku minta sebuah pelukan?"

Hyukjae tersenyum, "Tentu saja. Kemari," katanya membuka lebar kedua lengan. Siap menyambut tubuh Juan.

"Maaf aku memperlakukanmu seperti ini saat kamu bahkan memiliki perasaan itu untukku. Aku benar-benar sangat jahat, ya?" Ucap Juan dalam pelukan.

Hyukjae terkekeh, "Kamu orang jahat yang tidak bisa aku benci seumur hidupku."

Juan, "Maaf, hyung."

Mencium pucuk kepala sang adik, Hyukjae berkata, "Selama kamu bahagia, semua luka karena penolakan ini tidak ada apa-apanya."

Pelukan itu berlangsung cukup lama. Dengan Juan yang terus meminta maaf dan Hyukjae mengusap punggung yang lebih muda sembari mengatakan, "tidak apa-apa," secara berulang.

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang