Case 20

2.2K 142 12
                                        

Farhan berbohong jika ia tidak merasa lelah dengan hidupnya akhir-akhir ini. Pekerjaan yang menumpuk untuk segera diselesaikan. Suasana rumah yang begitu dingin dan sepi tanpa orang tua. Juga dokter Juan yang selalu mengganggunya di kantor. Bahkan dalam tidur singkatnya.

Sungguh melelahkan. Kapten tim dua itu berjanji pada dirinya sendiri untuk mengambil cuti akhir bulan ini. Ia butuh mengistirahatkan tubuh dan pikirannya barang sehari dua hari.

"Sehat, Cap?" Tanya Saka sedikit khawatir.

Melihat wajah pucat Farhan dengan lingkaran hitam di bawah mata juga jenggot tipis adalah pemandangan baru bagi anggota bungsu itu.

"Saya baik. Hanya kurang tidur," jawab Farhan apa adanya.

Jati menyahut setelah meletakkan kopi hitam titipan Farhan di atas meja pria itu. "Kurang tidur, kurang makan dan kurang kasih sayang, Cap."

Izul menyenggol lengan Jati yang bicara seenak hati. Tidak memikirkan keadaan mereka saat ini.

"Maaf, Cap," ucap Jati setelahnya.

Farhan, "Tidak masalah. Omongan kamu ada benarnya. Karena itu saya akan mengambil cuti beberapa hari akhir bulan ini."

Jati memandang Izul yang juga memandangnya. Kemudia keduanya menatap Saka. Sementara Saka hanya mengedikan bahu, pertanda ia tidak mengetahui rencana kapten mereka.

Malam harinya, Farhan kembali merampungkan rapat dengan tim penyelidik khusus di kediaman Atmaja. Pemilik rumah tidak lagi mengundangnya untuk makan malam setelah terakhir kali. Membuatnya lega, namun juga sedikit kecewa.

"Gerimis. Sepertinya akan hujan deras lagi. Kamu membawa jas hujan, kan?" Tanya Tuan Atmaja saat mengantar Farhan melewati lorong rumahnya.

Farhan, "Ya, Tuan. Anda tidak perlu khawatir."

Tuan Atmaja, "Melihat kamu seperti ini, siapa yang tidak khawatir? Kamu seperti bisa pingsan kapan saja. Kamu tau itu?"

"Tapi sungguh, saya baik-baik saja," jawab Farhan meyakinkan.

Tuan Atmaja, "Andai ada Juan, saya pasti akan memaksa kamu menginap."

Farhan tidak menjawab, masih mencerna pernyataan Tuan Atmaja. Apa itu artinya Juan tidak ada di rumah?

"Juan kembali ke apartemennya seminggu yang lalu. Empat saudaranya sedang bertugas di luar kota. Anak itu tidak suka tinggal sendiri. Jadi dia kembali ke apartemen karena ada Hyukjae di sana," lanjut Tuan Atmaja.

"Ah. Saya mengerti." Farhan merasa tidak senang mengetahui Juan lebih memilih tinggal bersama Hyukjae daripada sendirian.

"Saya pamit, Tuan. Selamat malam."

Setelah itu Farhan melajukan motornya keluar dari area perumahan elit kediaman Atmaja, menuju jalanan Ibukota yang tengah diguyur hujan deras.

Sesampainya di rumah, Farhan memarkir motornya dan melepas jas hujan sembarangan. Langkah gontainya membawanya segera masuk ke kamar, tanpa menyalakan satupun lampu di rumah. Kecuali teras depan yang memang dibiarkan menyala.

Ia merebahkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur. Tidak peduli dengan bajunya yang setengah basah. Kepalanya terasa sangat sakit. Begitu pula dengan kerongkongannya yang kering tiba-tiba. Perutnya? Jangan ditanya. Itu sudah perih dari sore sebelum rapat di kediaman Atmaja.

Farhan sadar jika ia telah mencapai batasnya. Tubuhnya lelah karena pekerjaan yang menumpuk. Tidak bisa makan karena ingin segera menyelesaiakan laporan. Kurang tidur karena akan selalu terbangun tengah malam karena memimpikan Juan. Setelahnya ia akan berdiam diri di kamar mandi untuk membereskan efek dari mimpi. Begitu terus selama berhari-hari.

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang