Case 39

1.6K 127 15
                                        

Farhan terpental dan tubuhnya membentur dinding di belakang. Membuat lengannya sedikit nyeri karena benturan. Lima orang pria dengan tongkat besi dan rantai di tangan mengurungnya dalam kerumunan. Memandangnya remeh hanya karena detektif itu sendirian.

"Berikan aja benda itu pada kami pak polisi," ujar salah satu pria dengan tato ular di lehernya.

"Kami akan berbaik hati lepasin lo, oke?" Timpal pria lainnya.

Tawa mengejek terdengar memenuhi gang sempit itu setelahnya.

"Dari awal ini bukan milik kalian. Jadi saya tidak ada kewajiban untuk mengembalikan," ucap Farhan.

Detektif itu menyimpan benda yang diperebutkan di saku dalam jaketnya. Mengancing jaket boomber hitam itu hingga leher. Memastikan keamanan benda di dalamnya. Kemudian dengan tongkat acak yang diambilnya dari tanah, Farhan bersiap untuk melawan.

Kenapa ia bisa berakhir dalam adegan seperti ini?

Itu karena petunjuk penting yang tanpa sengaja ia temukan di dalam mobil Juan ketika memeriksa untuk yang kesekian kalinya. Farhan hanya tidak percaya jika Juan bisa menghilang begitu saja tanpa meninggalkan apapun untuk mereka. Apalagi setelah mendengar cerita Tuan Atmaja tentang apa yang dokter itu bawa dalam dirinya.

Jadi ketika mobil Juan dibawa setelah pemeriksaan di pinggiran Sungai Bantaran Dalam, Farhan kembali memeriksa beberapa kali lagi. Dengan lebih teliti disetiap pengulangannya. Dan setelah tiga kali menyisir mobil mini cooper itu, ia menemukan sebuah penjepit dasi. Farhan melihat dengan seksama benda tersebut dan segera mengetahui jika itu adalah sebuah alat perekam.

Farhan memberitahu Bryan lewat panggilan telepon saat itu juga. Mengatakan jika benda tersebut sepertinya tidak lagi berfungsi karena terendam air selama tiga hari lamanya. Namun Bryan dengan tegas berkata untuk membawa benda itu padanya.

Dan entah bagaimana, lima orang sangar bertato ular mendatangi Farhan untuk merebut benda tersebut. Itu terdengar terlalu kebetulan. Dan Farhan sadar jika sebenarnya gerak-gerik mereka selama ini telah diawasi oleh Viper. Tentang kapan, siapa dan di mana, ia harus menemukan secepatnya.

Farhan berlari untuk membawa perekam itu agar bisa segera diperiksa. Menghindari lima pria bertato agar tdak terjadi perkelahian. Namun mereka lebih memilih untuk bermain kasar. Jadi apa boleh buat, Farhan harus melakukan apa yang bisa dia lakukan— melawan.

Setelah perkelahian sengit di dalam gang, Farhan berjalan gontai ke arah jalanan. Mencegat taksi yang dapat ia temui di sana. Meninggalkan lima pria bertato yang tidak bergerak karena serangan Farhan.

"Tolong ke alamat ini pak," ucap Farhan pada supir taksi sembari memperlihatkan lokasi kediaman Atmaja di ponselnya.

Detektif itu memegangi rahangnya yang lebam. Merasakan sakit yang membuatnya tidak nyaman. Begitu pula bagian perut dan kaki kirinya. Ini memang bukan yang pertama Farhan berkelahi dengan pelaku kejahatan. Itu sudah seperti makan camilan untuknya. Hanya saja biasanya Farhan dibantu oleh rekan-rekan.

"Ada apa dengan wajah anda, Kapten Farhan?" Tanya Ben ketika membukakan pintu depan.

Farhan tidak menjawab, melainkan bertanya, "di mana Bryan?"

Ben, "Silahkan ke ruang siber. Tuan Atmaja juga berada di sana."

"Saya tidak tau apa ini merekam sesuatu dan masih bisa digunakan," ucap Farhan menyerahkan penjepit dasi itu pada Bryan.

"Lasih gue waktu sehari—ngak, nggak—setengah hari aja buat perbaiki ini," jawab Bryan percaya diri.

Jika tentang sistem yang rusak, Juan akan lebih baik darinya. Namun jika itu tentang komponen, maka Bryan bisa lebih baik dari Juan.

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang