"Jadi apa maksud kedatangan anda dokter Juan?" Tanya Farhan langsung pada intinya.
Kini Farhan dan Juan hanya berdua di taman kompleks perumahan. Ah, sebenarnya daripada taman, itu lebih tepat disebut pohon beringin raksasa dengan tempat duduk melingkar di sekelilingnya. Farhan membawa Juan ke sana agar obrolan mereka tidak terdengar oleh orang tuanya.
"Formal banget. Kita nggak lagi di tempat kerja, dek. Ini juga bukan jam kerja," jawab Juan yang sebenarnya tidak menjawab pertanyaan Farhan.
"Kita tidak terlalu dekat untuk bisa melepaskan formalitas."
"Kita? Lo kali. Gue sih, emang nggak pernah nerapin formalitas ke siapapun kecuali yang pangkatnya jauh di atas gue."
"Tolong jawab saja pertanyaan saya, dokter Juan."
"Oke, oke!" Juan menyerah. "Gue sebenernya cuma mau jelasin aja ke lo, kalau apa yang selama ini lo denger tentang gue di luar sana, itu nggak benar," lanjutnya.
Farhan menatap Juan, menunggu pria itu untuk melanjutkan kembali penjelasannya.
"Gue bilang ini supaya lo nggak salah paham."
"Saya tidak pernah merasa salah paham dengan anda, dokter Juan. Anda sendiri yang selalu menempatkan diri untuk menjadi bahan kesalahpahaman orang-orang. Saya tidak membutuhkan penjelasan anda tentang ini, karena saya tidak pernah tertarik kepada anda."
"Wow. Baru kali ini lo ngomong sepanjang ini." "Tapi kenapa rasanya nyakitin, ya?"
Memang, sih, agaknya Juan sedikit terpengaruh ucapan beberapa bawahan Farhan di kantor kepolisian tadi siang. Tentang dirinya yang selalu terikat rumor tidak mengenakkan. Hingga rasanya predikat sebagai seorang player layak disematkan untuknya.
Dan hal itu yang membuat Farhan tidak memberinya sedikitpun kesempatan.
Karenanya Juan ingin menjelaskan. Meski sayang respon Farhan terlalu menyakitkan. Bukan Juan tidak mengira hal seperti ini akan ia dapatkan. Hanya saja memang kejujuran Farhan seringkali membuatnya heran.
"Jika tidak ada lagi yang perlu dikatakan, anda bisa pulang, karena ini sudah cukup malam."
"Apa ini penolakan?"
"Anda bisa menganggapnya begitu jika anda mau."
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Farhan pergi meninggalkan Juan sendirian. Daun dan akar gantung pohon beringin bergoyang karena tertiup angin yang cukup kencang, membawa hawa dingin setelah kepergiannya.
Pria cepak itu berhenti sejenak. Menoleh ke belakang, untuk mendapati sosok Juan yang tengah menunduk dengan bahu sedikit bergetar. "Apa kata-kataku udah keterlaluan?"
Namun alih-alih kembali dan menenangkan Juan, Farhan terus berjalan meninggalkan dokter itu sendirian. Terkadang, seseorang memang harus ditolak secara terang-terangan agar mereka sadar bahwa hubungan sepihak tidak akan membawa kebaikan.
Keesokan harinya Farhan menghela napas pertama kali di pagi hari ketika mendapati segelas kopi di atas mejanya. Apa yang Farhan harapkan jika manusia yang dihadapinya adalah dokter Juan?
"Pagi, Cap!" Sapa Saka penuh senyuman. Bola matahari mungil ini terlalu bersemangat bahkan di pagi hari. Betapa menyenangkannya menjadi muda.
"Pagi, Saka."
"Pagi Cap. Pagi Ka."
Satu per satu anggota departemen reserse kriminal dan narkoba datang dan duduk di meja masing-masing.
"Kopi dari siapa, nih?" Tanya Izul menunjuk kopi di atas mejanya.
"Siapa yang ulang tahun, bagi-bagi kopi pagi-pagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romance"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)