Warning!
Bab ini mengandung kekerasan dan penggunaan senjata.
Jangan meniru adegan dalam cerita di kehidupan nyata.
Read at your own risk.
Selamat membaca.
__________________________________
Saka terbangun dari tidurnya dengan napas memburu dan keringat di sekujur tubuh. Ia merasa seperti tengah berada dalam kekacauan di mimpinya. Kekacauan yang ia sendiri sebabkan. Seseorang mengatakan padanya agar menunggu. Namun Saka dengan penuh percaya diri menarik orang itu untuk turut berada dalam kekacauan bersamanya. Dan kemudian, orang itu menghilang.
"Kenapa baby? Ada yang sakit? Gue panggil dokter, ya?"
Saka bahkan tidak mendengar Ranu bertanya padanya. Atau suara pria itu yang datang bersama Dokter Hadi di sampingnya. Ia hanya diam sembari merangkai kembali ingatan kecil yang seperti papan teka-teki. Berantakan dan perlu disusun ulang.
"Saya rasa tidak ada masalah. Hanya serpihan ingatan yang mungkin muncul secara tiba-tiba. Anda hanya perlu berada di sisinya untuk menenangkan ketika ingatan yang tidak diinginkan muncul. Dan segera memanggil saya, atau perawat jika terlalu menyakitkan," jelas Dokter Hadi.
Saat dokter itu keluar bersama perawat, Farhan masuk membawa bingkisan buah-buahan. Ia saling menyapa dengan Dokter Hadi sebelum dokter itu benar-benar keluar.
Melihat Saka yang seperti kelelahan serta Ranu dengan wajah penuh kekhawatiran, Farhan menduga pasti ada sesuatu yang terjadi barusan.
"Ada apa? Keadaan Saka baik-baik saja, kan?" Tanya Farhan.
Ranu, "ya. Dia baik. Cuma ingatannya yang hilang bikin dia mimpi buruk terus dua hari belakangan. Untungnya, sih, dokter bilang nggak apa-apa."
Menghela napas lega, Farhan mengatakan, "syukurlah kalau gitu. Ini ada titipan dari rekan di kantor kepolisian." Ia meletakkan keranjang buahnya pada meja panjang agak ajauh dari tempat tidur Saka.
"Thanks," balas Ranu.
"Cap..." Panggil Saka pelan.
Farhan menjawab, "Ya?" Namun ia berubah khawatir saat Saka menatapnya dengan wajah lesu dan menahan air mata.
"Kenapa, baby?" Tanya Ranu yang juga menjadi khawatir karena Saka.
"Maafin saya, Cap. Karena kecerobohan saya, kita jadi kehilangan kesempatan buat nangkap Viper. Karena saya ngotot nggak mau nungguin Cap sama tim pasukan khusus, saya jadi membahayakan dokter Juan..." Ujar Saka sekuat tenaga menahan air mata. Meski suaranya tetap pecah ketika bicara.
Ranu menatap Farhan yang juga menatapnya. Kemudian pada Saka yang tengah merasa bersalah.
Farhan, "kamu sudah ingat apa yang terjadi sebelum kamu tertembak, Saka?"
Saka mengangguk. Menatap Farhan kemudian menundukkan kepalanya lagi.
"Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Saka."
Saka mengceritakan jika dirinya tengah berada di minimarket setelah rapat di markas besar. Ketika tanpa diduga, Dokter Juan menyapanya.
"Saka, my son!" Sapa Juan.
Saka menoleh untuk mendapati Juan telah duduk di sampingnya. Pria muda itu tersenyum tipis, "Dokter ngapain di sini?"
Juan memutar bola matanya, "Di minimarket ngapain lagi, Ka? Ya jajan, lah!"
Saka menjawab, "oh," kemudian kembali menatap lemah minuman dinginnya.
"Kenapa muka lo lesu gitu, Ka?" Tanya Juan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Storie d'amore"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)