Satu minggu setelah malam kejadian Hyukjae dan Juan yang membuat penghuni departemen reskrim heboh, Farhan kembali uring-uringan. Ada rasa tidak nyaman dalam hatinya yang seperti akan meledak karena begitu sesak. Kepalanya tidak berhenti memikirkan Juan yang tinggal bersama pria Korea tampan, bernama Hyukjae.
Padahal, jika ditelaah dengan pikiran tenang, kalimat Juan yang mengatakan Hyukjae tinggal bersamanya bisa saja bukan apa-apa. Mereka mungkin hanya tinggal satu atap beda kamar. Tidak sarapan atau makan malam bersama. Tidak menonton serial Netflix di sofa tengah hingga terbawa suasana. Tidak saling memakan dan melakukan kegiatan ranjang—
Hentikan!
Farhan mulai berpikir berlebihan. Ini semua karena dokter forensik tampan bernama Juan. Jika saja saat di ruang penyelidikan satu minggu yang lalu, Juan menyatakan perasaannya sebanyak tiga kali sekaligus, dan Farhan menolaknya saat itu juga, ia tidak akan memiliki pikiran aneh sekarang.
Pikiran yang bahkan tidak dapat ia enyahkan meski dalam suasana penyelidikan kasus pembunuhan.
"Kapten Farhan, anda tampak kurang nyaman? Apa kita perlu membahas ini lain kali?" Tanya Poljen Atmaja khawatir.
Pria tua itu melihat bagaimana fokus Farhan teralihkan beberapa kali ketika mereka tengah membahas kasus pembunuhan di lapas. Terkadang matanya hanya memandang satu titik pada berkas yang dibaca. Tanpa membalik dalam waktu cukup lama. Sesekali pria tampan itu juga akan menggosok tengkuk atau memijat pelipisnya.
Terlihat sangat tidak fokus dan banyak pikiran.
Tiga orang anggota penyelidik khusus yang telah dipilih Poljen Atmaja sepertinya tidak menyadari. Terlalu fokus pada kasus yang tengah mereka tangani.
"Saya baik. Maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin saya timbulkan," jawab Farhan.
Poljen Atmaja menggeleng, "tidak masalah."
"Tuan, kami menemukan beberapa kejanggalan dalam kasus pertama," ujar salah seorang tim penyelidik khusus— Damar.
"Katakan," pinta Poljen Atmaja.
Salah seorang lain— Agung— berdiri dan menuju papan akrilik lebar dengan beberapa foto dan tulisan berwarna-warni di hadapan mereka.
Ketika Agung menjelaskan, Farhan sekuat tenaga mencoba memfokuskan pikirannya pada apa yang pria itu sampaikan. Mengesampingkan untuk sementara tentang Juan. Mencoba untuk kembali pada dirinya yang fokus dan penuh ketenangan.
"Begitu. Kerja bagus. Kita akan memulai dari titik yang telah Agung temukan. Kerahkan beberapa orang untuk melakukan pengawasan ketat, namun jangan sampai terlihat," pinta Poljen Atmaja.
"Itu akan melibatkan tim forensik. Siapa yang akan anda ajak kerja sama untuk ini, Tuan Atmaja?" Tanya Heru.
Mendengar kata 'tim forensik' membuat telinga Farhan berkedut. Tidak mungkin Juan akan bergabung bersama mereka, bukan? Farhan melirik Poljen Atmaja. Wajahnya begitu serius, seperti tengah berpikir keras.
Damar, "Dokter Juan adalah pilihan terbaik yang bisa kita ambil. Pemeriksaan pertama dilakukan oleh beliau. Hampir tidak ada yang terlewatkan. Jika bukan karena laporan beliau, hal yang Agung sebutkan tadi—"
"Tidak. Jangan Dokter Juan," Ucap Poljen Atmaja tegas.
Semua memandang sang Jendral dengan raut bingung. Terutama Farhan.
"Siapapun kecuali Dokter Juan," lanjut Poljen Atmaja final.
Setelahnya tidak ada pertanyaan atau apapun yang dapat didiskusikan. Poljen Atmaja membubarkan rapat penyelidikan khusus itu segera. Mengecualikan Farhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romance"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)