"Anda pasti mengarang cerita," ucap Farhan tidak percaya.
"Terserah kalau lo nggak percaya. Yang jelas itu udah terjadi," balas Juan santai.
Farhan menggeleng. Ia tidak mungkin berbuat begitu dengan Juan saat kondisinya seperti ini, kan? Dapat kekuatan dari mana Farhan?
Namun anehnya, ada bagian dalam otak kecil Farhan yang mengatakan sesuatu seperti itu memang benar terjadi. Bahkan mungkin tubuhnya sendiri mengingat kejadian itu. Buktinya, hanya berdekatan dengan Juan saja membuatnya sedikit panas.
"Kenapa anda tidak mandi dan mengganti pakaian anda, dokter?" Tanya Farhan mengalihkan pembicaraan. Sekaligus juga untuk menyingkirkan Juan dari pandanganya. Ya, untuk sementara.
Juan kembali mengendus tubuhnya, "Emang sebau itu, ya?"
Mengangguk, Farhan menjawab, "Cukup bau untuk membuat saya tidak selera makan."
Juan, "Tsk. Baju gue masih dijemur. Paling sore juga udah kering. Tahan dulu aja sampai nanti, ya."
"Anda bisa mengenakan pakaian saya," tawar Farhan tanpa pikir panjang.
Huh?
"Jika anda tidak keberatan tentu saja," sambung Farhan cepat.
"Of course not," jawab Juan kegirangan.
Ia memang ingin sekali memakai baju Farhan usai membersihkan diri semalam dan tadi pagi. Hanya saja ia takut jika Farhan mungkin tidak menyukai ide tersebut. Karena itu sang dokter bertahan dengan pakaiannya yang terkena sedikit bekas muntahan.
"Gue mandi dulu, lo abisin buburnya. Bye!" Lanjut Juan sebelum menghilang masuk ke dalam kamar mandi.
Farhan memakan buburnya sedikit demi sedikit sambil memikirkan cerita Dokter Juan tentang kegiatan mereka malam tadi. Semakin ia menyangkal, semakin keras otaknya memberi gambaran.
PLAK
Rasa sakit dari tamparannya sendiri membuat Farhan tersadar jika ini juga bukan mimpi. Jadi ia memang merealisasikan mimpinya mendapat blow job dari Juan. Farhan benar-benar ingin menghilang sekarang. Bisakah seseorang membuka tanah di bawahnya dan menelan Farhan seutuhnya? Atau mungkin jadikan dia transparan agar tak seorangpun bisa melihatnya. Terutama Dokter Juan.
"Oke, gue udah selesai," ucap Juan keluar dari kamar mandi.
"Apa— Uhuk Uhuk Uhuk!" Farhan tersedak melihat Juan keluar begitu saja hanya dengan dalaman ketat. Memperlihatkan tubuhnya yang persis seperti dalam mimpi Farhan. "Tidak tahu malu!"
"Gue boleh milih yang mana aja, kan?" Tanya Juan yang entah sejak kapan telah berdiri di hadapan lemari Farhan.
"Ya," jawab Farhan masih memerhatikan tubuh Juan.
Dokter forensik itu berbalik untuk membuka lemari dan mencari pakaian Farhan yang ingin ia kenakan. Memperlihatkan pada pria di atas ranjang punggungnya yang berhiaskan tato ikan. Tentu saja itu bukan sembarang ikan. Koi kembar yin dan yang.
"You like it?" Tanya Juan.
"Apa?" Balas Farhan tidak siap.
Juan, "My tattoo."
Apa terlihat jelas jika ia sedang memperhatikan tubuh Juan? Mau bagaimapun itu memang menarik perhatian. Jadi jangan sepenuhnya menyalahkan Farhan
"Saya pikir itu cukup bagus."
Juan telah sepenuhnya memakai pakaian. Milik Farhan. Kaos polos putih dan celana pendek rumahan. Farhan ingat bagaimana pakaian itu saat ia gunakan. Ketat. Tapi di tubuh Juan, itu terlihat sedikit lebih besar. Pun juga dengan celananya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romance"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)