Bab ini mengandung konten dewasa. Semua yang ada di sini untuk kepentingan cerita. Jangan sekali-sekali berniat untuk mempraktikkannya di dunia nyata. Bijaklah ketika bembaca.
Read at your own risk.
Selamat membaca.
__________________________________
"Silahkan, Farhan. Makan yang banyak. Ini memang bukan menu yang istimewa. Tapi saya jamin, rasanya tiada dua," ujar Tuan Atmaja mempersilahkan Farhan untuk menyantap makan malamnya.
Farhan mengangguk, "terima kasih, Tuan Atmaja."
Suara dentingan sendok bertemu piring di atas meja makan, membuat suasana khidmat dalam jamuan makan malam keluarga Atmaja. Tidak tahu saja, jika dalam suasana khidmat itu ada beberapa manusia yang tengah ribut bergulat dengan pikirannya.
Juan, "anjir, malu banget gue. Usaha gue buat jaim di depan ayang Farhan selama dua tahun ini jadi sia-sia. I wanna cry so bad!"
Farhan, "apa itu tadi? Agak menggemaskan."
Hasta, Shindu, Ranu, Bryan, "ya ampun. Malu banget pasti si JuJu! Gue aja malu jadi kakak dan adeknya."
Tuan Atmaja, "kenapa agak sepi, ya? Biasanya lima anak ini nggak bisa diam."
Ben menatap jendela kaca yang memperlihatkan suasana di luar, "sepertinya akan ada hujan badai."
Dan tepat setelah makan malam usai—ketika Farhan telah meminta izin untuk pulang, hujan turun perlahan. Tuan Atmaja meminta Farhan untuk menunggu hingga hujan berhenti. Namun rintik air itu justru bertambah deras setiap detiknya. Pun juga dengan kilat dan petir yang mengikuti setelahnya.
"Lo yakin nggak mau tidur sama gue di atas kasur?" Tanya Juan.
"Di bawah sini tidak buruk. Terima kasih sudah mengizinkan saya menginap malam ini," jawab Farhan.
Ya. Akhirnya Farhan terpaksa harus menerima tawaran Tuan Atmaja untuk menginap malam ini, karena hujan yang tak kunjung berhenti. Lebih tepatnya, itu adalah paksaan.
Dan baiknya lagi, Tuan Atmaja meminta Farhan untuk tidur di kamar Juan. Membuat Juan kegirangan namun juga kebingungan. Setahunya terdapat satu kamar kosong di rumah bagian selatan ini. Tepat di sebelah kamar Hasta. Sementara di rumah utama tempat Tuan Atmaja, mungkin sekitar lima atau enam kamar yang kosong. Karena yang terpakai hanya satu.
Masa bodoh dengan kamar. Ayahnya telah mengatur agar Juan bisa bersama dengan Farhan malam ini. Jadi seharusnya Juan berterimakasih dengan memanfaatkan momen langka dalam dua setengah tahun pengejarannya.
Tapi kenapa Juan merasa sangat mengantuk? Padahal ia ingin memerhatikan Farhan hingga pria itu tertidur dan telah merencanakan untuk menyelinap ke dalam selimut kapten tim dua.
Farhan mendengar suara napas halus Juan yang telah tertidur. Lebih cepat dari dugaannya. Ia mengira jika Juan tidak akan bisa tidur karena ada dirinya. Mungkin juga pria yang lebih tua merencanakan sesuatu yang nakal terhadapnya. Namun ternyata, mudah sekali untuk dokter itu tertidur.
Perlahan Farhan bangun dari posisinya. Mensejajarkan wajahnya dengan Juan. Memerhatikan wajah tampan yang seperti mustahil dimiliki pria berusia tiga puluh tujuh. Ujung bibirnya sedikit tertarik ke atas ketika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu di ruang tengah.
"HENTIKAANN!!" Bentak Tuan Atmaja dengan suara khas danton ketika membubarkan pasukan.
Kelima pria di ruang tengah menghentikan kegiatan tawuran kecil mereka—menoleh ke asal suara. Untuk mendapati Tuan Atmaja yang memasang wajah datar. Seperti tidak lagi terkejut bahwa itu adalah keadaan yang normal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romance"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)