"Apa itu alasan Ayah ngeluarin aku sebagai dokter penanggunjawab kasus lapas? Karena kasus ini ada hubungannya sama Viper?" Tanya Juan tanpa basa-basi ketika memasuki ruang kerja Poljen Atmaja.
Tuan Atmaja menatap putranya itu dengan sedikit tajam, "tolong jaga sopan santun kamu, Juan. Gimana pun, saya tetap Jendral yang berwenang di sini."
Juan mendengus, "baik. Tolong maafkan ketidaksopanan saya barusan. Dan tolong jawab pertanyaan saya, bapak Poljen Atmaja yang terhormat."
Tuan Atmaja, "ya, memang karena Viper."
Juan, "Kenapa? Apa anda tidak bisa mempercayai saya?"
Tuan Atmaja menatap tajam, "Bukan. Karena saya tidak mau kamu terlibat lagi dengan mereka."
"Lalu gimana sama Hasta, Shindu, Ranu juga Bryan? Mereka ikut dalam penyelidikan ini. Bukannya mereka juga akan terlibat? Anda tidak berpikir untuk mengorbankan mereka, kan?"
Dan juga Farhan, bagaimana dengan pria itu jika terlibat dengan Viper? Black Dragon saja sudah membuat Juan tidak tenang, apalagi Viper.
Tuan Atmaja, "Mereka berbeda dengan kamu, Juan."
Juan menggeleng tidak percaya, "Ini bukan kesepakatan kita ketika anda meminta saya untuk tidak menjadi pasukan khusus!"
Tuan Atmaja, "kesepakatan itu tetap berlaku. Tapi sebisa mungkin kamu tidak perlu berurusan dengan Viper. Itu terlalu berisiko."
"Risiko itu juga sudah kita bicarakan dulu," kekeuh Juan.
"Situasinya berbeda, Juan." Tuan Atmaja menghela napas.
Juan, "Apa yang membuat berbeda?"
"Jaringan Viper dulu dan sekarang berbeda. Sekarang mereka jauh lebih kuat. Terbukti dengan kasus kebarakaran terakhir kali," uajr Tuan Atmaja mengingatkan.
Juan, "Bukankah kita juga?"
"Kamu boleh memiliki kepercayaan diri tinggi, tapi tolong tetap beri batasan. Karena bisa jadi kepercayaan diri itu akan menjadi boomerang yang menghancurkan kamu, Juan." Tuan Atmaja memperingatkan.
Juan menatap pria tua itu tajam, "Kepercayaan diri itu yang bisa membuat saya ada di sini sampai sekarang—jika anda tidak lupa."
Tuan Atmaja berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekati Juan yang tengah emosi. Pria tua menyentuh bahu Juan, mencoba untuk menenangkannya. Namun dokter forensik itu dengan lembut menolak perlakuan pria tua.
"Tolong kembalikan tanggung jawab saya sebagai dokter forensik yang menangani kasus ini," mohon Juan.
Tuan Atmaja, "Juan—"
"Jika anda khawatir tentang saya, tolong jangan. Kita sudah sudah sama-sama menyetujui ini jauh sebelum anda mengadopsi saya sebagai putra anda."
Juan pergi sebelum mendengar jawaban Tuan Atmaja. Membuat pria tua itu menghela napasnya lelah. Juan tidak pernah membantah perintahnya sebelum ini. Namun Atmaja tahu seberapa keras kepalanya dokter itu, jika sudah menetapkan hati pada suatu masalah. Dan ia memiliki ketakutan sendiri akan apa yang bisa Juan lakukan untuk menghancurkan rencananya.
"Aku tau kamu lebih mampu untuk ini dari siapapun. Tapi ayah mana yang rela mengorbankan anaknya untuk kepentingan negara? Aku juga ingin menjadi egois, Juan."
"Berhenti minum itu. Kamu sudah terlalu mabuk," tegur Hyukjae mengambil sekaleng bir dari tangan Juan yang sudah tampak teler.
"Aku harus mabuk, Hyung. Karena aku akan melakukan sesuatu yang gila malam ini," ujar Juan setengah sadar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romance"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)