Tepat setelah tiga bulan dan dua minggu, Farhan mendapat kabar secara tidak langsung melalui gosip anggota timnya, bahwa Juan telah kembali ke Ibukota. Dokter forensik itu juga sudah mulai bekerja dari tiga hari yang lalu.
Tapi yang membuat Farhan masih uring-uringan, Juan tidak sekalipun mengunjunginya di kantor kepolisian. Padahal biasanya, pria yang dua tahun lebih tua itu akan rutin mengunjungi kantor kepolisian, jika ada kasus yang mebutuhkan keahliannya.
Dan kebetulan berikutnya, sehari setelah Juan kembali bekerja, ada sebuah kasus pembunuhan.
Dokter tampan itu tidak datang ke tempat kejadian perkara. Namun beberapa jam setelahnya, sebuah laporan hasil forensik sementara dikirim melalui surelnya. Dari struktur laporan dan gaya bahasa, Farhan tahu jika itu memang Juan.
Tapi kenapa?
Oh, mungkinkah karena penolakan itu?
"Saya akan ke rumah sakit untuk ambil hasil pemeriksaan korban," ujar Farhan memberitahu anggota timnya.
Jati, "Dokter Juan bilang bakal dikirim lewat surel sebelum jam 9, Cap. Ini udah 8.50. Tanggung kalau Cap ke sana."
Farhan tidak menghiraukan Jati. Kepala detektif itu mengambil kunci motornya dan segera pergi.
Saka yang melihat itu mengangguk penuh kepastian, seakan baru saja menemukan sesuatu yang berharga dari pikirannya sendiri.
Sesampainya di rumah sakit kepolisian waktu menunjukkan pukul 9.10. Sesuai ucapan Jati, notifikasi surel masuk dari Juan telah ia terima. Anggota tim lainnya juga pasti sudah menerima surel yang sama. Lalu untuk apa Farhan ke tempat ini?
"Aku harus memastikan apakah dia masih Juan yang sama."
Farhan memasuki rumah sakit, dan segera menuju ruangan Juan di lantai tiga. Sampai di depan ruangan, pria itu mengetuk tiga kali sebelum menadapat perintah, "masuk!" dari pemilik ruangan.
Tepat setelah menggeser pintu, wajah Juan yang tengah fokus pada layar komputer menjadi yang perrtama dilihatnya. Suara ketikan cepat oleh jari-jari lihai sang dokter juga menjadi apa yang didengarnya pertama.
"Ada apa— Oh my God! Dek Farhan?!" Ucap Juan.
Dari reaksinya, pria itu tampak sedikit terkejut dengan kedatangan tamu tak diundang, yang masih berdiri canggung di tengah ruangan.
"What are you doing here? Oh my God! I can't belive my eyes. Is it a dream? Oh—maaf. Ini bukan mimpi, kan?" Lanjutnya lagi masih dengan nada terkejut. Hingga tanpa sadar ia menggunakan bahasa sehari-harinya di rumah.
"Boleh saya duduk?" Tanya Farhan.
Juan mencubit pipinya, meringis, kemudian menjawab, "sure! Go ahead—I mean—uhm, maksud gue, ya, silahkan duduk."
Agak canggung sebenarnya keadaan di dalam ruangan Juan. Dari sisi Farhan, itu seperti ia telah melakukan hal bodoh dengan datang ke rumah sakit tanpa keperluan mendesak. Seakan menegaskan pada Juan bahwa ia merindukan pria itu.
Sementara dari sisi Juan, ini di luar dugaannya. Seingatnya ia telah mengirim laporan hasil pemeriksaan korban secara terperinci melalui surel. Tepat waktu. Jadi untuk kedatangan Farhan ke rumah sakit, ia sama sekali tidak memiliki ide untuk itu. Ada, sih, sedikit pemikiran konyol dalam benaknya. Misalnya saja, Farhan datang karena merindukannya?
"Saya ingin membahas tentang laporan forensik yang anda kirimkan," ujar Farhan. Ia harus menghilangkan kecanggunggannya dengan alasan yang bagus.
"Ah, oke. Apa yang mau lo bahas, dek?" Tanya Juan.
Farhan menaikkan sebelah alisnya, menatap Juan karena merasa sedikit aneh.
Ya, aneh.
Biasanya jika Farhan ingin membahas mengenai kasus dengan Juan, pria itu akan langsung mengambil tempat di sampingnya. Bahkan jika Farhan bisa menebak isi pikiran, barangkali Juan selalu berpikir untuk duduk di pangkuannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romance"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)