Case 11

2.4K 176 3
                                        

Lima bulan yang lalu, beberapa hari setelah kepergian Dokter Juan untuk konferensi Bedah Forensik yang diadakan oleh Badan Forensik Nasional Korea Selatan.

"Cap! Ini hasil pemeriksaan sementara dari petugas forensik lapangan. Korban akan dibawa langsung ke rumah sakit untuk di autopsi," ujar Saka.

Farhan mengernyit, menatap Saka dan bertanya, "kenapa tidak ada dokter forensik yang ke TKP?"

Saka mengedikkan bahu, tidak tahu harus menjawab apa. Rekannya telah memberitahu pihak rumah sakit, namun dokter yang bertugas meminta untuk mereka membawa jasad langsung ke rumah sakit.

"Kalau Kapten Farhan bertanya tentang Dokter Juan, buat sementara beliau nggak akan datang ke TKP untuk autopsi," sahut seorang petugas forensik lapangan.

"Kenapa Vin?" Tanya Izul penasaran.

Petugas lain kini menjawab dengan nada antusias, "Dokter Juan terpilih buat ikut konferensi BFN di Korsel, mas. Hebat, kan?"

Saka, Jati dan Izul memberi reaksi kagum atas pencapaian Dokter Juan. Merasa bangga karena mengenal dan dekat dengan pria itu. Meskipun sering kali mereka menggosipkannya di belakang.

Sementara Farhan, hanya mengangguk dan kembali memeriksa tempat kejadian perkara. Dengan ekspresi wajah yang tidak biasa. Dan tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian Saka.

Pria muda yang belum genap dua puluh tujuh tahun itu selalu penasaran dengan apa yang ada dalam pikiran sang kapten. Dokter Juan menurutnya adalah pria yang menyenangkan. Meskipun selalu dirumorkan sebagai seorang playboy karena sering bergonta-ganti pasangan.

Tapi pria tampan yang mirip idola K-Pop itu selalu sangat gigih dalam mengejar sang kapten. Jika itu adalah Saka, tentu saja ia akan sangat senang mendapat pria yang berjuang seperti Dokter Juan. Tapi kembali lagi, itu urusan mereka. Saka tidak mau ambil pusing. Ia juga memiliki kehidupannya sendiri.

"Hey, ganteng. Mau joget sama gue, nggak?" Tanya seorang gadis muda berpakaian seksi pada Saka. Gadis itu memberi tatapan seperti ingin memakannya. Membuat Saka tidak nyaman.

Dengan sopan, Saka menarik diri dari sang gadis dan berkata, "maaf, gue udah ada pasangan."

"Siapa peduli sama pasangan kalau di tempat ini, beb?! Gue juga dateng sama pacar," ucap gadis itu tidak tahu malu.

Saka kembali menolak dengan sopan, "sekali lagi, maaf. Gue nggak tertarik buat joget."

Namun Gadis itu kembali merayu Saka untuk bergabung dengannya di lantai dansa. Pria muda itu menghela napas, menyisir pandangan ke segala arah mencari dua orang yang tampak familiar untuknya. Sayangnya dengan pecahayaan ruangan kelab yang redup dengan sorotan lampu berwarna-warni yang terus bergerak mengikuti irama musik, membuatnya sulit menemukan mereka.

Memang seharusnya Saka tidak mengikuti dua seniornya itu untuk mencari informasi di kelab malam. Ia memiliki firasat aneh di awal, ketika Jati dan Izul begitu bersemangat saat Kapten Farhan meminta mereka untuk mencari informasi di sekitar kelab malam tempat korban bekerja paruh waktu.

Dan ternyata firasatnya memang tidak salah. Tepat setelah masuk ke dalam kelab malam bertuliskan WILD NIGHT, dengan huruf besar dan tebal serta lampu LED sebagai efeknya—kedua seniornya hilang begitu saja.

Ia sempat melihat bayangan mereka di lantai dansa. Bersama puluhan manusia setengah sadar yang tengah menari dengan gila. Ya, sebelum gadis muda itu datang menggoda, membuatnya kehilangan dua seniornya dalam keramaian.

"Tolong, ya. Gue lagi nggak nyari temen joget," ujar Saka lagi. Terdengar agak risih kali ini.

"Ayolaahh. Nggak rugi lo ngedance sama gue," bujuk gadis itu lagi.

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang