Case 09

2.6K 177 8
                                        

Suara air dari pancuran bertemu kulit, seakan menjadi latar belakang untuk pria dengan surai hitam cepak, yang entah sejak kapan bergulat sengit dengan pikirannya. Air dingin yang membasahi tubuhnya seakan tak berati apa-apa untuk sekedar meredam rasa panas yang entah datang dari mana.

Pria itu berdiam di bawah pancuran dengan pikirannya yang kusut, hampir satu jam lamanya. Menghiraukan jari-jari yang mengkerut, juga kulit putihnya yang mulai pucat. Meski begitu ia tetap diam. Seolah-olah tubuh dan pirikannya tidak sejalan.

GILA!

Itulah yang pantas Farhan sematkan pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia kehilangan kendali atas nafsunya pada dokter Juan. Di rumah sakit kepolisian dari semua tempat. Ada apa dengan Farhan sebenarnya?

"Ini tidak baik," gumam sang kepala detektif.

Jika saja tadi siang dokter Dara tidak menghambur masuk ke dalam ruangan dokter Juan, entah hal buruk apa yang akan mereka lakukan. Dan setelahnya, entah bagaimana mereka akan melihat satu sama lain.

Bagian terakhir itu—sejak ia melompat dari atas tubuh Juan pun sudah mulai terasa. Malu. Kikuk. Canggung.

Jika bertanya apa yang terjadi pada Farhan, sungguh pria itu tidak tahu. Mungkin itu tubuh sang dokter yang terlampau dekat, hingga aroma tubuhnya menguar dan menghipnotis Farhan? Atau suara aneh dokter Juan yang berada tepat di samping telinganya? Bisa juga pergerakan kaki pria yang lebih tua di antara kedua pahanya?

Apapun—tetap saja tidak dapat diterima jika ia merasa terangsang hanya karena beberapa hal itu, bukan? Farhan mungkin akan memaklumi nafsu gilanya jika yang berada di bawahnya saat itu seorang wanita. Meski hal itu juga salah di matanya. Namun jelas lebih masuk di akalnya.

Namun dokter Juan laki-laki. Itu yang membuat Farhan tidak habis pikir dan merasa bahwa dirinya sudah benar-benar gila.

Sebenarnya, jauh dalam hati, Farhan memang sempat memikirkan perasaannya terhadap sang dokter forensik. Itu mungkin efek dari kepergian Juan selama tiga bulan dan dua minggu. Tepat setelah penolakannya.

Terbersit pikiran bahwa itu semua hanya sebuah ilusi yang tercipta dari sebuah rasa bersalah. Dan mungkin setelah Juan kembali, semua akan kembali seperti sebelumnya. Namun ia salah.

Sekembalinya dokter Juan membuat perasaan Farhan tumbuh lebih besar dan berakar lebih dalam. Apalagi selama dua minggu terakhir ia menemani sang dokter yang tengah patah kaki, dengan alasan berdiskusi. Tidak ada diskusi antara seorang polisi dengan dokter forensik hampir setiap hari tanpa adanya kasus yang berarti.

Namun keraguan Farhan lebih besar. Awalnya ia ingin lebih mengenal tentang perasaannya. Semakin ia kenal, Farhan malah merasa perasaan itu semakin harus menghilang. Karena itu salah. Tidak benar. Secara aturan juga moral.

Dan sekarang ia terjebak antara harus maju berjuang atau mundur perlahan. Semua karena pengendalian dirinya yang runtuh karena pesona Juan. Benar-benar tidak masuk akal.

Mematikan tuas pada pancuran, pria itu mengambil handuk putih dari gantungan dan memakainya menutupi bagian bawah dari pinggang. Tanpa membersihkan tetesan air yang masih melekat pada tubuhnya, Farhan mengambil acak kaos dari lemari pakaian dan memakainya. Begitu juga dengan celana.

Kaki panjangnya ia bawa ke dapur. Berniat menyeduh kopi hitam untuk dirinya sendiri. Farhan tidak tahu berapa lama dirinya berada di dalam kamar mandi. Beberapa ruangan di dalam rumah telah gelap, yang artinya kedua orangtuanya sudah tertidur.

Melihat jam dinding, Farhan menghela napas. Sudah lewat tengah malam. Pantas saja cahaya di sebagian besar ruangan telah padam. Orang tuanya juga pasti telah terlelap di dalam kamar.

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang