Cese 38

1.6K 129 11
                                        

Juan merasa dirinya benar-benar salah kali ini. Tidak seharusnya ia menempatkan Saka dalam bahaya. Tindakan Saka di luar prediksinya. Ia hanya berniat menggunakan detektif bungsu itu sebagai penyampai pesan. Namun siapa sangka si bungsu itu bertindak sendirian.

"Ssshhh..." Desis Juan ketika membersihkan luka gores cukup dalam di lengan kanannya— yang tidak terurus sejak semalam.

"Gue benar-benar kacau," ucapnya.

Melihat pantulan dirinya di cermin kamar membuat dokter itu teringat kemarahan Ranu padanya. Bukan hanya Ranu, namun Shindu dan Hasta. Bahkan Farhan juga turut menyalahkannya. Tapi bukankah itu memang salah Juan sedari awal?

"Nasi udah jadi bubur. Nggak ada gunanya menyesal sekarang," guman Juan.

Mulutnya memang berkata demikian, namun hatinya tidak. Apalagi dengan tamparan yang kembali Ranu berikan padanya saat mengunjungi Saka pada siang berikutnya. Itu seperti mengingatkan bahwa Juan tidak lagi istimewa di mata saudara-saudaranya. Juan bukan lagi prioritas mereka. Terutama Ranu.

Memikirkannya membuat hati Juan sakit tiba-tiba. Melebihi rasa sakit di lengan dan wajahnya.

Satu-satunya cara untuk mengusir perasaan tidak menyenangkan dalam hatinya mungkin hanya dengan berkendara. Juan beberapa kali melakukan kegiatan tersebut ketika tengah penat dengan pekerjaan atau kehidupan sosialnya. Melihat kehidupan jalanan malam, dari dalam jendela kaca yang sedikit terbuka.

Tapi sepertinya Juan lupa jika ia sedang dalam pengawasan ular berbisa. Karena begitu mobil Juan memasuki jalanan dengan lebih sedikit kendaraan, pantulan beberapa mobil hitam terlihat mengikutinya di belakang.

"Kenapa sekarang, sih?!" Desis Juan.

Ia menambah sedikit kecepatannya dan menyalip beberapa mobil di depan untuk mengelabui mobil-mobil hitam di belakang. Itu memang berhasil. Sementara. Karena tidak lama setelahnya mobil-mobil itu dengan mudah mengejarnya. Menggiring mobil Juan untuk meninggalkan jalan utama. Dan di sana, jantung Juan mulai berdebar lebih keras dari seharusnya.

Jalanan perbukitan penuh tanjakan dan cukup licin karena memang masih musim penghujan. Bahkan malam ini pun dihiasi gerimis tipis yang memang sudah diramalkan. Dan Juan benar-benar butuh bantuan sekarang.

Ia menekan tombol panggilan darurat pada layar ponsel yang diletakkannya di depan. Nada sambung yang terus menghubungkan membuat Juan sedikit tidak sabar.

Juan menggigit bibir bawahnya, "Please... angkat Bang Hasta... please..."

Sekali, dua kali, tiga hingga hampir sepuluh kali Juan menekan nomor yang sama. Namun selalu penolakan yang menyapa. Awalnya hanya nada tunggu, namun berikutnya nada menolak panggilan. Hasta benar-benar tidak ingin bicara padanya. Tapi bagaimanapun, Juan sangat membutuhkan pria itu sekarang.

Beberapa penolakan membuat Juan beralih pada nomor lainnya. Kali ini Shindu menjadi harapan keduanya. Ia memeriksa dari kaca spion depan dan samping bergantian. Melihat jika salah satu mobil hitam mendekat dengan cukup cepat. Menabrak bagian belakang mobil Juan. Membuatnya sedikit hilang keseimbangan.

"Hallo," suara Shindu terdengar dari ujung sambungan. Membuat Juan sedikit bernapas lega.

Juan, "Bang! Gue butuh—"

"Nggak sekarang, Ju. Kami butuh waktu." Shindu memotong dengan nada lelah dan sedikit terganggu.

"Tapi gue butuh bantuan, bang!"

"Later, Ju..." Kemudian terdengar ponsel yang sepertinya berpindah tangan, dengan suara halus Shindu memberi teguran, "Hey!"

Dan suara lain mengambil alih pemilik aslinya, "Shindu lelah. Berhenti nelponin dia."

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang