Case 31

1.9K 126 15
                                        

Selamat membaca, kesayangan.
Maaf ya kalau makin panjang aja chapternya.
Tapi ini cuma sampe 45-an aja kok.
Sabar, yaa man-teman.(⁠人⁠⁠•͈⁠ᴗ⁠•͈⁠)

__________________________________

Juan terbangun tepat ketika Farhan baru keluar dari kamar mandi. Dengan tubuh atas polos dan rambut setengah basah. Membuat Juan tidak bisa— tidak ingin memalingkan wajah. Sungguh, bagi Juan pemandangan di hadapannya saat ini adalah yang terbaik untuk memulai harinya.

"Anda sudah melihat tubuh ini beberapa kali dan masih tidak bisa bepaling. Saya rasa anda agak mesum," ujar Farhan mengambil pakaian di lemari.

"Salah lo, kenapa punya badan seseksi itu. Gue itu cuma pria normal yang nggak bisa nolak kalau dikasih pemandangan begitu," jawab Juan jujur.

"Mandilah. Anda akan terlambat bekerja jika hanya bersantai di tempat tidur," ucap Farhan melempar pelan handuk yang baru diambilnya dari lemari.

Juan, "Oke. Gue pinjam baju lo lagi, ya."

"Hmm. Akan saya siapkan."

Setelah Juan mandi dan berganti pakaian dengan milik Farhan, kedua pria itu berniat berangkat bersama dengan motor sang kapten. Namun sebelum berangkat mereka berpapasan dengan orang tua Farhan yang baru saja kembali dari rumah sakit. Bu Rumi dan Pak Burhan sedikit terkejut melihat Juan keluar dari kamar putra mereka. Lebih lagi menggunakan pakaian yang mereka tahu itu milik Farhan.

"Mas, ikut bapak sebentar!" Pinta Pak Burhan agak tegas.

Farhan mengikuti ayahnya sementara Juan membantu Bu Rumi membawa bawaan yang tadinya dibawa Pak Burhan.

"Kenapa Juan keluar dari kamar kamu, mas? Pakai baju kamu lagi. Kalian ndak ngapa-ngapain, kan?" Tanya Pak Burhan curiga.

Farhan berdahem beberapa kali sebelum menjawab, "nggak ada apa-apa, pak. Uhm... mungkin sedikit kebawa suasana. Tapi aku jamin kami nggak sejauh yang bapak kira."

"Ya ampun, mas! Baru kemarin, lho, bapak nasihatin kamu!"

"Maaf, pak."

"Ya sudah. Jangan ulangi, ya!"

Farhan tidak menjawab. Karena jujur saja cukup sulit untuk tidak menyentuh Juan setelah ia mengetahui rasanya. Apalagi mendengar suara dokter itu ketika mendesahkan namanya. Katakan saja Farhan mesum atau sebangsanya. Ia tidak peduli. Lagipula itu hanya berlaku untuk Juan.

Keduanya benar-benar berangkat setelah berpamitan pada ayah dan ibu Farhan.

"Thanks, dek," ucap Juan setelah turun dari motor dan mengembalikan pelindung kepala milik Farhan, di depan rumah sakit kepolisian.

Farhan mengangguk, "Sama-sama."

"Tentang Rangga—" Juan ragu sejenak sebelum melanjutkan, "—gue bener-bener minta maaf."

"Itu bukan sepenuhnya salah anda. Anda masih kecil, sangat wajar jika meminta pertolongan," jawab Farhan. Tanpa sadar tangannya sudah berada di atas kepala Juan. Mengusap pelan surai hitamnya yang mulai sedikit panjang.

"Ekhem. Ada yang baru jadian rupanya... Kiew kiew..." Goda Dara yang juga baru turun dari motor. Bersama Saka.

Entah kenapa setiap momen manis Farhan dan Juan harus selalu ada Dara kalau tidak, Saka. Apa mereka berdua ditakdirkan untuk mengganggu mereka atau bagaimana?

"Ngapain lo motoran berdua sama anak gue?" Tanya Juan curiga.

Dara mengernyit, "Siapa anak lo, Ju?"

Juan menunjuk Saka dengan matanya, "dia anak gue."

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang