"Bapak Poljen Atmaja yang terhormat, bisa tidak, kalau sedang kunjungan ke poltabes tidak perlu panggil saya?" Ujar Juan dengan suara cukup rendah, takut terdengar orang-orang di luar ruangan.
"Dokter Juan, anda tidak sopan!" Sahut salah seorang pria berseragam pasukan khusus, Shindu.
"Bukan begitu! Masalahnya, ini bisa jadi rumor yang tidak enak!" Balas Juan.
"Kamu takut akan rumor? Sejak kapan?" Kali ini pasukan khusus lainnya—Hasta—yang menanggapi sang dokter.
Juan menatap Hasta, "Tidak takut jika itu tentang saya! Tapi kalau rumornya sudah mengarah ke Poljen Atmaja, beda cerita."
Shindu, "Saya kira kamu takut karena ada pria cepak itu di sini?"
"Shut up!" Juan malas jika ketertarikannya terhadap Farhan dibawa-bawa. Membuatnya menghilangkan sopan santunnya ketika bicara. Namun sayang, Shindu dan Hasta seperti tidak berniat menghentikan godaan mereka pada yang lebih muda.
"Dia cukup tampan."
"Saya bilang diam, Hasta!"
"Gagah juga."
"Shindu!"
"Dan profesional."
"Pak Poljen, tolong jangan ikut-ikutan!"
Tawa ringan terdengar dari tiga orang dalam ruangan, selain Juan tentunya.
"Kamu tidak perlu khawatir tentang rumor, Juan. Saya hanya ingin kamu memikirkan kembali tawaran saya," ucap Poljen Atmaja.
Juan, "Jika itu tentang meninggalkan pekerjaan sebagai dokter forensik dan beralih menjadi pegawai kantoran di perusahaan keluarga anda, tidak, terima kasih. Saya menolak dengan lapang dada dan kesadaran penuh."
"Ini demi kebaikan kamu, Juan."
Juan menggeleng, "bukan. Kalian hanya terlalu khawatir. Meski tidak sebaik senior lain di pasukan khusus Alpha, saya masih cukup baik untuk bisa melindungi diri."
"Pak Poljen, jika itu keputusan akhir Juan, kita tidak seharusnya memaksa. Kami masih bisa saling menjaga seperti sebelumnya," sahut Hasta meyakinkan.
Shindu di sebelahnya juga ikut mengangguk, yang dihadiahi senyuman oleh Juan. Membuat Poljen Atmaja menghela napas pasrah karena tawarannya kembali ditolak oleh dokter forensik kesayangannya.
"Lagi pula, jika Juan berhasil mendapatkan kepala detektif di tim dua, anda tentu senang dapat menantu yang 'waras'," celetuk Shindu.
Juan menatap Shindu dengan mata memincing, kemudian tersenyum pada Poljen Atmaja, berkata sedikit sarkas, "Ya, itu benar. Mengingat selama ini tidak ada yang waras di antara kami berlima. Kalau tidak homo, ya, player. Jika ada yang sedikit waras, satu otaku satunya fanboy. Farhan memang calon yang paling sempurna."
Poljen Atmaja menaikan satu alisnya, "Oh. Jadi menurut kamu selama ini saya membesarkan anak-anak yang tidak waras?"
Juan, "Bukan gitu, Pak Poljen-"
Hasta, "Juan mengkritik anda."
Shindu, "Pantas dihukum."
Juan, "Jangan jadi kompor, ya, kalian berdua!"
"Sudah hentikan. Kalian lanjutkan debat di rumah saja. Dan kamu, Juan, ini terakhir kali saya mengajukan penawaran. Tapi bukan berati kesempatan itu saya tutup. Jika suatu saat kamu merasa ingin mengambilnya, jangan ragu untuk meminta kesempatan itu pada saya."
"Saya mengerti."
Sementara itu di dalam ruangan unit satuan reserse kriminal dan narkoba.
"Cap, ada penemuan mayat di taman kota. Tim satu udah di sana dan mereka minta kita buat bantu. Karena menurut mereka ini ada hubungannya sama kasus yang pernah tim dua tangani beberapa waktu lalu," ujar Saka setelah menerima panggilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romansa"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)