Bab ini mengandung konten dewasa. Semua yang ada di sini untuk kepentingan cerita. Jangan sekali-sekali berniat untuk mempraktikkannya di dunia nyata. Bijaklah ketika bembaca.
Read at your own risk.
Selamat membaca.
___________________________________
Farhan memandangi langit malam Seoul dari jendela kaca kamar hotelnya. Kemudian pandangannya beralih pada sosok pria yang tengah tertidur di ranjang. Farhan membawa kakinya berjalan menuju pria tersebut. Memposisikan diri untuk tidur memeluknya dari belakang.
Menautkan jemarinya dengan pria dalam pelukan. Ia mencium buku jari mereka di mana cincin perak melingkar di sana. Sepasang cincin yang menjadi saksi bisu janji suci mereka beberapa waktu yang lalu.
Mencium bahu terbuka pria yang tengah tertidur itu, Farhan begumam, "Juan... My Juan..."
Ia ingat betul bagaimana lamarannya pada sang dokter dua hari yang lalu, di atas menara Namsan.
Juan menoleh dengan cepat, membuat lehernya seperti akan lepas. Matanya membulat sekali lagi karena pertanyaan dadakan Farhan yang di luar dugaan.
"Aku tau ini sangat mendadak. Dan mungkin terkesan seperti omong kosong. Tapi aku sudah memikirkannya sejak pernyataan cintamu yang kedua."
Juan terbata, "Tapi waktu itu lo bilang—"
Farhan, "Aku baru tertarik padamu. Benar. Tapi bagiku, itu hal yang besar. Karena aku tidak pernah menaruh perasaan pada siapapun sebelumnya. Dan waktu kamu menyatakan perasaan terakhir kali, aku tidak bisa menjawabnya."
"Lo nolak gue, kan?" Tanya Juan tidak yakin.
Farhan menggeleng, "aku tidak menolak. Aku cuma tidak berani menjawab."
"..."
"Semua terjadi begitu tiba-tiba. Kamu terluka. Ketika kamu baru sadar dari koma, aku ingin menjawab. Tapi tidak kulakukan karena kurasa waktunya tidak tepat. Dan kamu pergi setelahnya," jelas Farhan.
Juan, "Gue kacau waktu itu."
"Aku tau. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku berusaha menunggu. Tapi rasanya menyesakkan memendam perasaan sendiri terlalu lama. Jadi kuputuskan untuk memintamu pada Tuan Atmaja. Beliau menerima dan memberitahuku di mana kamu berada."
Farhan waktu itu benar-benar putus asa. Ia tidak bisa menunggu Juan lebih lama. Tapi ia juga tidak ingin menganggu Juan sebelum muncul sendiri di hadapannya. Ia dilema.
Dan saat pikirannya benar-benar kacau, sang ayah menamparnya dengan sangat keras. Mengatakan jika Farhan tidak berguna. Tidak layak menunggu maupun bersanding dengan Juan.
Pak Burhan mengingatkan Farhan bagaimana Juan mengerjarnya hampir tiga tahun lamanya. Bagaimana dokter itu pantang menyerah. Dan tamparan itu menyadarkan Farhan setelahnya.
Ia berterimakasih pada sang ayah sebelum pergi memohon pada Tuan Atmaja. Dan Jendral itu hanya memberikan nomor Hyukjae padanya. Beserta restu tentu saja.
Farhan mengambil cuti beberapa hari untuk terbang ke Korea. Dan berbekal arahan Hyukjae, ia bertemu Juan di rumahnya. Bertanya tentang perasaan pria itu yang ternyata masih sama besar seperti sebelumnya. Farhan merasa harapannya kembali terbang dan mengumpulkan segala bentuk keberanian untuk melamar yang lebih tua.
"Apa ini nggak terlalu cepat? Gue masih takut, Han. Lo tau, kan, gue belum sepenuhnya balik ke diri gue yang lama. Gue takut bakal nyakitin lo, Han. Gue nggak bisa jadi orang jahat buat yang kesekian kalinya," jawab Juan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Roman d'amour"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)