"Semua bersiap di posisi masing-masing! Jangan ada yang bergerak tanpa perintah kecuali terdesak," perintah Farhan. "Misi utama kita adalah menyelamatkan Dokter Juan dan menangkap Kevin Huang—hidup atau mati," lanjutnya. Kalimat terakhir rasanya tidak ingin Farhan ucapkan. Tapi itu penting.
"Ini tidak akan mudah. Kita sudah sejauh ini berkat Juan. Jadi jangan sia-siakan," tambah Hasta.
"Siap!"
Kemudian pasukan beranggotakan delapan orang di depan, yang terdiri dari Farhan, Hasta, Shindu, Ranu, Bryan, Damar, Heru dan Agung itu bergerak menyebar. Hasta dan Shindu pergi menyisir arah barat Gereja. Damar, Agung dan Heru arah sebaliknya. Sementara Ranu, Farhan serta Bryan ke arah utara. Membawa lima pasukan di belakang masing-masing. Sementara pasukan lain dengan persenjataan lengkap menunggu perintah di tempat yang agak jauh dari Gereja.
"Tetap waspada," pinta Jendral Atmaja terdengar dari penyuara telinga yang tersambung dengan radio komunikasi internal.
Mereka harus bergerak cepat dan tepat jika tidak ingin kehilangan banyak nyawa. Karena ini adalah pengepungan dengan strategi yang dirancang dalam waktu semalam. Tentu mereka adalah terbaik dalam bidangnya. Namun kekhawatiran kehilangan satu atau beberapa nyawa tetap saja ada.
Semua berawal dari sinyal asing yang tertangkap komputer di ruang kontrol siber semalam. Bukan tertangkap. Lebih seperti sengaja dikirim untuk mereka. Bryan meminta Ben untuk memanggil yang lain sementara dirinya mencoba untuk mencari asal titik merah itu.
"Ini berasal dari chip mikro yang sama dengan perekam di penjepit dasi Juan. Hanya saja sistem kodenya tidak merekam audio, melainkan merekam lokasi," jelas Bryan.
"Singkatnya, itu GPS. Kemungkinan lokasi keberadaan Dokter Juan atau Pimpinan Viper," sambung Ben.
"Ya. Atau bisa juga sebuah jebakan," lanjut Bryan.
"Apa kita masih bisa menunda dan memikirkan itu jebakan atau bukan saat nyawa Juan dipertaruhkan?" Tanya Shindu tajam.
Hasta, "Shindu benar. Kami sudah berada dalam misi pengintaian berkali-kali. Dan setiap kali kami mengirim sinyal untuk tim di belakang agar bergerak, itu selalu dengan pertaruhan nyawa. Jadi kita tidak bisa menunda untuk memikirkan hal selain segera mengambil sinyal ini."
"Saya setuju. Anda boleh menganggap kami bias karena itu adik kami. Tapi jika kita kehilangan Juan, bukankah Raflesia juga akan menghilang bersamanya?" Timpal Ranu.
Shindu, "Benar. Kami tidak meragukan kemampuan Bryan untuk memecahkan sistem yang Juan buat dan mendapatkan kembali Raflesia. Tapi berapa lama? Bukankah Juan menggarap sistem keamanan berlapis itu melalui penyempurnaan bertahun-tahun? Anda yakin bisa melindungi Raflesia sebelum diretas oleh pihak berkepentingan lainnya?"
"Jendral, kita tidak hanya berbicara tentang Dokter Juan, tapi juga keamanan dokumen rahasia negara. Terlebih kejahatan Kevin Huang sudah terlalu meresahkan," sahut Farhan.
"Tidak perlu mengeluarkan banyak alasan. Dari awal saya tidak berniat menunda penyelamatan Dokter Juan dan menangkap Kevin Huang. Kita akan lakukan besok. Tapi kita tetap butuh rencana," tanggap Tuan Atmaja.
Malam itu mereka mendiskusikan strategi penyergapan dan penyelamatan Juan. Mempersiapkan dengan matang dalam waktu singkat untuk meminimalisir kegagalan.
Ketika mempersiapkan dirinya dengan peralatan pasukan khusus, Farhan tiba-tiba memikirkan pernyataan cinta Juan terakhir kali.
Jika saja ia lebih bisa mengontrol emosinya dan berpikir lebih jernih saat itu, mungkin Juan tidak akan menghilang. Jika saja ia tidak menutup panggilan Juan sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya, mungkin Farhan akan mendengar permintaan tolong pria satunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romance"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)