Case 32

1.7K 135 4
                                        

"Apa anda tahu tentang semua ini, Tuan?" Tanya Farhan pada Tuan Atmaja.

Ia secara pribadi meminta bicara empat mata dengan Tuan Atmaja usai pertemuan di kantor Badan Intelejen Negara dilakukan.

Tuan Atmaja, "Jika yang kamu maksud tentang kakak kamu yang terkait dengan Viper, saya juga baru mengetahuinya dari Juan."

"Anda yakin?" Selidik Farhan.

Tuan Atmaja mengangguk pasti. Pria tua itu memang tidak tahu jika kasus kakak Farhan yang meninggal adalah perbuatan Viper. Kasus kematian Rangga dulu ditangani oleh kepolisian yang notabennya dalam masa awal kelam. Sementara Tuan Atmaja adalah anggota BIN yang masih belum mendapat reputasi dan diakui.

Jadi dengan dua keadaan yang bersimpangan itu, Rangga menjadi kasus yang dianggap tidak penting. Satu di antara puluhan kasus yang lebih kejam. Apalagi dengan keterangan dari Juan yang masih berusia sebelas, itu menjadi lebih abu-abu. Rancu dan hampir tidak terlihat.

Karenanya, Tuan Atmaja juga cukup terkejut dengan fakta bahwa Rangga yang meninggal karena bunuh diri sebenarnya adalah korban Viper. Dan tentu saja dari sana ia dapat memastikan jika dalam kepolisian saat itu telah disusupkan anggota mereka dalam posisi yang memiliki kewenangan.

Jika tidak, bagaimana keterangan dan hasil autopsi bisa dengan mudah dipalsukan?

"Saya mengerti. Dan satu hal lagi—" Farhan berhenti sejenak. Memikirkan apakah hal yang ingin diutarakan layak untuk ia tanyakan.

Melihat kebimbangan Farhan, Tuan Atamaja menjawab, "Katakan saja, Kapten Farhan."

"Tentang Dokter Juan. Apa ucapannya bisa dipercaya?"

"Kamu menanyakan ini kepada ayahnya."

"Karena anda adalah orang yang objektif."

"Tidak juga."Tuan Atmaja menyandarkan dirinya pada kursi, "tapi biar kuberitahu. Dari sisi seorang atasan, Juan sangat bisa dipercaya. Ucapan dan kinerjanya. Tapi dari sisi seorang ayah— bagaimana, ya, mengatakannya?"

"...."

Tuan Atmaja, "Dia anak yang tidak suka merasa kesepian, tapi selalu menyimpan hal-hal negatif dalam pikirannya sendiri. Terkadang aku harus benar-benar melihat jauh ke dalam matanya untuk memastikan setiap ucapannya."

Farhan mengangguk. Karena jujur, ia juga melakukan hal sama ketika Juan bicara padanya. Melihat jauh ke dalam matanya. Meskipun seringkali ia enggan, karena mata hitam itu tidak jarang memandangnya dengan nakal. Itu tentu saja mengganggu Farhan.

Farhan, "Terima kasih telah menjawab pertanyaan saya, Tuan Atmaja."

"Jangan sungkan. Pria tua ini masih berharap kamu menjadi menantunya," jawab Tuan Atmaja.

Farhan tidak membalasnya tentu saja. Pria itu hanya mengucapkan, "Saya permisi," sebelum benar-benar pergi.

"Tch. Susah sekali mendapatkan menantu seperti dia."

Farhan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang hingga sampai di kantor kepolisian. Ia segera menuju ruangan arsip setelah turun dan memarkir kendaran. Kapten tim dua itu ingin mencari tahu semua tentang kematian Rangga. Tentang Black Dragon. Viper. Juga Juan. Ia tidak ingin tinggal dalam kegelapan tanpa bisa mengungkap semuanya.

"1999..." Farhan mengambil beberapa arsip lama pada tahun 1999 dan beberapa tahun setelahnya.

Ia menemukan berkas tentang kasus Rangga setelah mencari dari beberapa arsip. Di dalam berkas itu dituliskakan semua tentang kematiannya. Foto bukti dan hasil autopsi. Dengan gerakan cepat, Farhan mengambil foto dan halaman keterangan. Memasukkan di kantong dalam jaket kulitnya.

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang