Cese 33

1.6K 128 8
                                        

Sudah satu minggu berlalu sejak perdebatan Juan dengan keempat saudaranya. Dan selama itu pula mereka tidak saling bertegur sapa. Lebih tepatnya, mereka menghindari untuk berbicara dengan Juan. Kecuali Bryan.

Hasta dan Shindu beralasan sibuk ketika Juan meminta waktu untuk bicara atau sekedar bercerita. Mereka akan menepuk kepala atau bahu Juan kemudian pergi begitu saja. Ranu...

Kembarannya itu secara keseluruhan tidak menyapa Juan. Tidak dengan senyuman, sentuhan maupun ucapan. Itu membuat Juan cukup frustasi karenanya.

"Gue buatin lo sandwich. Makan dulu sebelum berangkat."

Untungnya, Bryan masih mau berbicara padanya. Bahkan membuatkan roti lapis untuk sarapan juga.

"Yang lain pada ke mana?" Tanya Juan menggigit roti lapisnnya.

Bryan, "Hasta dan Shindu pergi sama Pak Poljen, seperti biasa. Kalau kembaran lo—gue nggak tau. Akhir-akhir ini itu anak lebih banyak ngabisin waktu di apartemennya."

Ah, tentu saja. Ranu sudah memiliki Saka sekarang. Tentu pria itu akan lebih banyak berada di apartemen bersama kekasihnya di waktu luang. Memangnya Juan, yang masih digantung status perasaannya oleh Farhan.

Tapi harusnya Juan bersyukur karena Farhan telah membuka peluang untuk mempertimbangkan perasaannya. Jadi ia masih memiliki kemungkinan diterima saat pernyataan cinta ketiga. Juan jelas harus memanfaatkan keadaan dengan sangat baik. Itu kesempatan terakhirnya.

"Tentang ancaman yang lo dapat—gimana? Mereka masih ngancam lo? Atau lebih parah—"

Juan menggeleng, "nggak ada yang terjadi selama seminggu ini. Jadi gue berpikir kalau apa yang kalian bilang itu benar. Nggak ngapa-ngapain justru lebih melindungi buat gue."

"Good to hear that."

Juan berbohong. Nyatanya ia tetap menerima surat maupun telepon asing dengan suara yang menyerupai Drake Huang. Pria yang seharusnya sudah mati puluhan tahun yang lalu. Juan tidak memberitahu siapapun mengenai hal itu. Ia tidak ingin berdebat dengan satu-satunya adik yang masih mau bicara padanya. Dia akan benar-benar merasa kesepian jika Bryan juga mengabaikannya seperti Hasta, Shindu dan Ranu. Meskipun masih ada Farhan dan Hyukjae—

"Oh shit! Gue lupa lagi kalau penerbangan Hyukjae pagi ini!" Umpat Juan. Ia segera melahap roti lapis keduanya dengan bantuan kopi yang sudah hangat. Meneguknya cepat seakan itu adalah air mineral.

"Gue kirain dia udah pergi lama," komentar Bryan.

"Kita lanjut bicara nanti, baby bro! Gue udah janji bakalan nganterin dia pergi di bandara."

Kemudian Juan pergi dengan terburu-buru meninggalkan Bryan yang masih sibuk menyarap di meja makan.

"Hyung!!"

Hyukjae menoleh mendapati adik sepupunya yang bernapas seperti dikejar hewan buas. Cepat dan berat. Ia pasti mengemudi dengan kecepatan tinggi dan berlari ke area keberangkatan demi bisa mengantarnya kembali ke negara asal.

"Aigoo... Ada apa denganmu? Kamu berlari? Masih ada lima belas menit sebelum aku masuk."

Juan menghambur dalam pelukan Hyukjae, "maaf untuk semuanya, Hyung. Aku akan mengunjungimu, paman dan bibi lain waktu."

Hyukjae membalas pelukan Juan. Ia tidak tahu jika kata maaf bisa semenyakitkan ini untuknya. Padahal bukan kali ini saja Juan mengucapkan kata itu padanya. Tapi sakitnya masih tetap sama.

Tapi apapun itu, Hyukjae selalu berharap yang terbaik untuk adiknya. Dengan atau tanpa dirinya.

"Hmm. Tepati janjimu kali ini."

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang